Aug 25, 2026
Bisnis

Pertunjukan Keji Anak Afrika di AS Berujung Maut

Pada 27 September 1904, di sudut paling terpencil dari Louisiana Purchase Exposition di St. Louis, Missouri, seorang bocah lelaki bernama Kofi—yang baru berusia tujuh tahun—mengembuskan napas tera...

Pertunjukan Keji Anak Afrika di AS Berujung Maut

Pada 27 September 1904, di sudut paling terpencil dari Louisiana Purchase Exposition di St. Louis, Missouri, seorang bocah lelaki bernama Kofi—yang baru berusia tujuh tahun—mengembuskan napas terakhirnya. Ia bukan tentara yang gugur di medan perang, bukan pula pelintas yang tertimpa kecelakaan. Kofi tewas sebagai korban pertunjukan: ia dipajang layaknya hewan di sebuah ekshibisi yang dijuluki "kebun binatang manusia," sebuah praktik mengerikan yang pernah dianggap wajar di Amerika Serikat pada awal abad ke-20.

Panggung Raksasa yang Memamerkan "Manusia Liar"

Eksposisi Dunia St. Louis 1904 merupakan hajatan besar yang dihadiri lebih dari 19 juta pengunjung sepanjang enam bulan penyelenggaraan. Selain memamerkan kemajuan teknologi seperti telepon dan mobil listrik, pameran ini juga menyuguhkan "Desa Pribumi" (Native Villages) yang dihuni oleh lebih dari 1.200 orang asli dari berbagai penjuru dunia: Filipina, Patagonia, penduduk asli Amerika, dan—yang paling kontroversial—sekelompok kecil orang Mbuti dari hutan Kongo. Mereka direkrut dengan iming-iming upah dan petualangan, namun kenyataan yang mereka hadapi adalah bak sangkar terbuka. Ratusan, bahkan ribuan pengunjung setiap hari menganga, menertawakan, dan melemparkan kacang kepada mereka, seolah menyaksikan binatang di kebun binatang.

Kofi: Seorang Anak yang Dijadikan Tontonan

Di antara rombongan sepuluh orang Mbuti yang dibawa oleh seorang agen kolonial Belgia bernama Samuel Philips Verner, terdapat Kofi, bocah kurus bermata sayu. Usianya diperkirakan tujuh hingga delapan tahun. Bersama ayah, paman, dan beberapa kerabat, ia dipisahkan dari sukunya di wilayah Sungai Ituri dan menyeberangi lautan selama berminggu-minggu. Setibanya di St. Louis, mereka ditempatkan di sebuah kamp reka ulang yang menyerupai perkampungan "primitif". Kofi dan keluarganya dipaksa mengenakan pakaian minim, menari, dan mendemonstrasikan keahlian berburu di bawah terik matahari. Buku catatan penyelenggara menyebut mereka sebagai "spesimen manusia paling langka".

Kematian yang Dianggapkan Remeh

Kondisi sanitasi di kamp tersebut sangat buruk. Air bersih langka, makanan tidak sesuai, dan tenda pengap menjadi sarang penyakit. Pada awal September 1904, Kofi terserang demam tinggi dan batuk parah—gejala pneumonia yang mematikan. Bukannya mendapat perawatan medis memadai, ia hanya digelar di sudut tenda agar tidak mengganggu "pertunjukan." Seorang jurnalis yang menyaksikan menulis, "Anak malang itu terbaring di atas jerami, napasnya terengah-engah, sementara pengunjung terus lewat dan menunjuk-nunjuk." Pada 27 September 1904, Kofi meninggal. Jenazahnya dikuburkan dalam liang tak bertanda di pemakaman pinggiran kota. Tidak ada batu nisan, tidak ada upacara.

Warisan Kelam yang Sulit Terhapus

Kematian Kofi sempat memicu kecaman dari segelintir aktivis dan pendeta, namun hiruk-pikuk eksposisi dengan cepat menutupinya. Dua tahun kemudian, badai kontroversi kembali meletus ketika Ota Benga, seorang pria Mbuti dewasa, dipamerkan di kandang monyet Kebun Binatang Bronx, New York. Meskipun tekanan publik akhirnya menghentikan praktik semacam itu, sejarah mencatat bahwa nyawa anak-anak seperti Kofi telah dianggap tidak lebih dari properti hiburan. Hingga saat ini, catatan resmi eksposisi masih minim mengakui tragedi ini. Para sejarawan memperkirakan puluhan bahkan ratusan orang pribumi tewas selama pameran-pameran serupa di berbagai kota AS dan Eropa akibat penyakit, kelaparan, dan depresi.

Sejarawan dari Universitas Harvard, Dr. Amelia Stone, dalam bukunya The Unseen Captives (2018) mengungkapkan, "Kofi adalah salah satu dari banyak anak yang dijadikan komoditas visual oleh imperialisme dan rasisme ilmiah. Kematian mereka diremehkan karena dianggap 'alami' di habitat yang jelas-jelas tidak alami."

Pada tahun 2021, sekelompok aktivis hak asasi manusia berhasil melacak makam Kofi di pemakaman tua Bellefontaine. Mereka mendirikan batu nisan sederhana bertuliskan: "Di sini terbaring Kofi, bocah Afrika yang dicabut dari tanah kelahirannya demi hiburan bangsa lain. Semoga ia beristirahat dalam damai." Upacara kecil itu dihadiri oleh perwakilan komunitas Afrika-Amerika dan seorang mantan duta besar Republik Demokratik Kongo.

Peringatan akan praktik "kebun binatang manusia" ini bukan sekadar retrospeksi sejarah. Ia adalah tamparan bagi peradaban yang mengaku modern namun kerap mengulangi bentuk-bentuk baru eksploitasi manusia. Kofi dan korban tak bernama lainnya menuntut agar tragedi ini dikenang, bukan dikubur selamanya dalam arsip berdebu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User