Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, produksi susu segar dalam negeri hanya mencapai kisaran 816 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan nasional diperkirakan melampaui 4 juta ton. Akibatnya, rasio kemandirian susu Indonesia masih berada di level sekitar 20 persen, sisanya ditutup oleh impor produk susu senilai lebih dari US$1,3 miliar setiap tahunnya. Dalam lanskap tersebut, penguatan peternak sapi perah skala rakyat menjadi agenda fundamental, dan salah satu respons nyatanya hadir melalui program pemberdayaan BRI Peduli bagi Kelompok Ternak Sumber Karanglo di Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Penguatan Kapasitas dan Akses Pasar
Malang lama dikenal sebagai salah satu sentra industri perah terbesar di tanah air. Provinsi Jawa Timur menyumbang sekitar 30 persen produksi susu segar nasional, dengan populasi sapi perah di kawasan Malang mencapai puluhan ribu ekor. Meski demikian, mayoritas peternak masih mengelola usaha secara tradisional dengan kepemilikan dua sampai lima ekor sapi per rumah tangga, sehingga produktivitas maupun daya tawar mereka sangat terbatas.
BRI Peduli, entitas tanggung jawab sosial perusahaan milik bank dengan aset di atas Rp1.900 triliun itu, menjalankan pendampingan pada dua sisi sekaligus. Pertama, peningkatan mutu produk yang mencakup manajemen pakan, higienitas proses perahan, hingga penanganan pasca panen susu. Kedua, perluasan kanal pemasaran, termasuk diversifikasi produk olahan seperti yoghurt dan stik susu yang memiliki valuasi jauh lebih tinggi dibandingkan susu mentah. Pendekatan ini relevan karena harga susu segar di tingkat peternak cenderung stagnan, sementara biaya pakan mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Dua Sisi Perspektif: Peluang dan Risiko
Di satu sisi, keterlibatan lembaga filantropi korporasi memberikan napas baru bagi peternak kecil. Akses terhadap pelatihan teknis, fasilitasi permodalan, dan jejaring pasar mampu menaikkan pendapatan rumah tangga peternak secara bertahap. Pengalaman serupa di berbagai daerah menunjukkan kelompok ternak yang terorganisir dapat meningkatkan volume hasil perahan hingga 15–20 persen setelah menerapkan standar higiene yang lebih baik.
Di sisi lain, terdapat risiko ketergantungan pada program korporasi. Keberlanjutan dampak kerap dipertanyakan ketika pendampingan berakhir, apalagi tantangan struktural seperti mahalnya pakan hijauan, dominasi koperasi dalam penetapan harga, serta minimnya infrastruktur rantai dingin belum terselesaikan tuntas. Tanpa reformasi kelembagaan yang lebih luas, bantuan bersifat titik berpotensi hanya menjadi solusi kosmetik.
Peningkatan kapasitas produksi harus berjalan seiring dengan penguatan posisi tawar peternak dan akses pembiayaan yang berkelanjutan, agar nilai tambah tidak berhenti di tengah rantai pasok,
ujar seorang pengamat agribisnis peternakan yang menilai kolaborasi multipihak sebagai kunci transformasi sektor ini.
Konteks Makro dan Proyeksi ke Depan
Konsumsi susu per kapita Indonesia baru mencapai sekitar 12–13 liter per tahun, jauh tertinggal dari rata-rata dunia di atas 40 liter. Angka tersebut sekaligus merepresentasikan ruang pertumbuhan yang besar. Jika tren konsumsi terus menguat seiring membaiknya daya beli masyarakat, permintaan domestik diproyeksikan tumbuh sekitar 5 persen year-on-year, dan peternak lokal berpeluang mengisi celah substitusi impor yang selama ini mendominasi pasar.
Dari sisi pembiayaan, sektor peternakan juga membutuhkan likuiditas yang lebih sehat. Skema kredit mikro dan pendampingan kelembagaan dapat membantu peternak melakukan rejuvenasi ternak sekaligus investasi alat pengolahan. Portofolio pembiayaan sektor pertanian yang masih relatif kecil dalam sistem keuangan nasional menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi regulator dan pelaku industri jasa keuangan.
Bagi ekonomi daerah, keberhasilan program semacam ini berdampak langsung pada struktur pendapatan regional. Subsektor peternakan merupakan penyumbang penting Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Malang, sehingga peningkatan produktivitas akan dirasakan ribuan rumah tangga peternak. Ke depan, replikasi model pemberdayaan serupa di sentra-sentra perah lain seperti Boyolali dan Kuningan layak menjadi proyeksi kebijakan, dengan catatan evaluasi dampak dilakukan berkala agar intervensi benar-benar mengubah fundamental usaha tani, bukan sekadar sentimen sesaat.
Comments (0)