Pertumbuhan Uang Primer RI Melambat, Indeks M0 September Capai Rp2.353,1 Triliun

Berdasarkan data Bank Indonesia per September 2026, pertumbuhan peredaran uang primer (M0) atau yang dikenal sebagai base money mengalami penyusutan laju dibandingkan periode yang sama tahun sebelumny...

Oct 09, 2026 - 17:35
0 0
Pertumbuhan Uang Primer RI Melambat, Indeks M0 September Capai Rp2.353,1 Triliun

Berdasarkan data Bank Indonesia per September 2026, pertumbuhan peredaran uang primer (M0) atau yang dikenal sebagai base money mengalami penyusutan laju dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Posisi M0 tercatat sebesar Rp2.353,1 triliun, dengan laju pertumbuhan yang melambat secara year-on-year. Bagi pembaca awam, uang primer adalah uang yang diterbitkan langsung oleh bank sentral, terdiri dari uang kartal yang beredar di masyarakat ditambah saldo giro bank umum dan swasta di Bank Indonesia. Indikator ini penting karena menjadi fondasi paling dasar dari seluruh peredaran uang di ekonomi nasional.

Mengapa Laju M0 Melambat Menarik Dicermati

Uang primer merupakan fundamental dari proses penciptaan uang yang lebih luas. Ketika pertumbuhan M0 melambat, biasanya sinyal yang muncul berlapis: bisa jadi permintaan likuiditas dari perbankan menurun, bisa juga karena posisi giro bank di bank sentral tidak sebesar sebelumnya. Menurut kerangka analisis moneter, M0 berhubungan langsung dengan kemampuan perbankan mengembangkan kredit melalui efek berganda (money multiplier). Jika basisnya melambat, ruang ekspansi likuiditas jangka pendek pun ikut terbatas.

Di satu sisi, perlambatan ini dapat dibaca sebagai tanda bahwa tekanan permintaan uang untuk transaksi riil mulai stabil. Artinya, tidak ada lonjakan kebutuhan uang kartal yang berlebihan, sehingga risiko tekanan inflasi jangka pendek relatif terkendali. Sentimen pasar terhadap rupiah juga bisa lebih tenang bila pertumbuhan uang tidak ekspansif.

Di sisi lain, perlambatan M0 dapat menjadi peringatan dini atas melemahnya denyut aktivitas ekonomi. Bank-bank yang enggan menempatkan dana dalam jumlah besar di giro Bank Indonesia bisa mencerminkan kehati-hatian berlebih atau bahkan kekhawatiran terhadap prospek kredit. Bila berlanjut, ini dapat menekan laju intermediasi perbankan dan pada akhirnya mengurangi dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Konteks Angka dan Perbandingan Tren

Angka Rp2.353,1 triliun harus ditempatkan dalam konteks. Secara nominal, posisi ini masih bertumbuh, tetapi yang menjadi sorotan analis adalah laju pertumbuhannya yang mengecil. Dalam beberapa kuartal terakhir, tren pertumbuhan M0 memang menunjukkan pergerakan fluktuatif, dipengaruhi oleh siklus musiman seperti periode Ramadan, Lebaran, serta akhir tahun anggaran.

Jika dibandingkan dengan capaian beberapa bulan sebelumnya, arah pertumbuhannya menurun. Hal ini mencerminkan pergeseran komposisi likuiditas: komponen uang kartal di luar bank dan saldo giro perbankan di bank sentral tidak bergerak serempak. Kadang uang kartal naik karena permintaan masyarakat, sementara giro justru turun karena bank menyalurkan dana ke aset produktif atau memenuhi kewajiban lain.

"Pergerakan uang primer adalah cermin pertama dari sikap bank sentral dan perbankan. Perlambatan yang moderat tidak selalu buruk, selama tidak disertai kontraksi kredit yang tajam," demikian pandangan yang lazim disampaikan kalangan ekonom moneter.

Dalam konteks internasional, M0 Indonesia juga dipengaruhi oleh arus modal global. Ketika terjadi capital outflow, bank sentral sering menyerap likuiditas untuk menstabilkan nilai tukar, yang berdampak pada posisi giro dan uang primer. Sebaliknya, saat arus masuk deras, likuiditas bisa meningkat cepat.

Implikasi pada Likuiditas, Kredit, dan Proyeksi

Likuiditas perbankan adalah mata rantai berikutnya. Melambatnya M0 tidak otomatis berarti kredit seret, karena bank masih memiliki sumber dana lain seperti dana pihak ketiga (DPK). Namun, bila DPK juga tumbuh terbatas, kombinasi keduanya bisa memperketat ruang penyaluran kredit. Pada titik itu, rasio loan to deposit (LDR) dan rasio likuiditas lain perlu dicermati.

Dari kaca mata kebijakan, bank sentral memegang kendali melalui operasi moneter, suku bunga acuan, dan rasio giro wajib minimum. Perlambatan M0 bisa menjadi ruang bagi pelonggaran, tetapi juga bisa menjadi alasan untuk tetap waspada terhadap stabilitas eksternal. Inilah mengapa pembacaan dua sisi menjadi penting: angka tunggal tidak cukup untuk menyimpulkan arah kebijakan.

Ke depan, proyeksi pertumbuhan M0 akan sangat bergantung pada tiga faktor. Pertama, permintaan uang kartal masyarakat menjelang periode belanja tertentu. Kedua, sikap perbankan dalam menempatkan dana di giro bank sentral versus menyalurkannya ke kredit. Ketiga, dinamika capital outflow dan intervensi nilai tukar. Bila ketiganya bergerak moderat, M0 bisa kembali tumbuh stabil tanpa memicu tekanan inflasi maupun memperlambat ekonomi secara berlebihan.

Yang jelas, angka Rp2.353,1 triliun pada September 2026 menegaskan satu hal: denyut likuiditas dasar ekonomi Indonesia sedang dalam fase pertumbuhan yang lebih terkendali. Bagi investor dan pelaku usaha, indikator ini layak dipantau sebagai bagian dari portofolio informasi, bukan sebagai dasar tunggal pengambilan keputusan. Pasalnya, valuasi dan arah pasar tetap ditentukan oleh kombinasi data moneter, fiskal, dan sentimen global yang saling terkait.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User