Oct 19, 2026
Bisnis

Pertumbuhan Ekonomi RI Dinilai Perlu Diikuti Pemerataan Manfaat

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per rilis terakhir, pertumbuhan ekonomi nasional masih bergerak di kisaran 5 persen secara year-on-year. Angka itu tergolong solid jika ...

Pertumbuhan Ekonomi RI Dinilai Perlu Diikuti Pemerataan Manfaat

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per rilis terakhir, pertumbuhan ekonomi nasional masih bergerak di kisaran 5 persen secara year-on-year. Angka itu tergolong solid jika dibandingkan dengan banyak negara peers, namun sejumlah kalangan menilai capaian tersebut belum otomatis mencerminkan kesejahteraan masyarakat luas. Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council (IBC), Arsjad Rasjid, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tak cukup hanya dilihat dari angka agregat semata.

Pernyataan itu menyentuh persoalan mendasar dalam pembangunan: seberapa besar manfaat pertumbuhan benar-benar mengalir ke lapisan bawah. Dalam bahasa ekonomi, ini menyangkut kualitas pertumbuhan (quality of growth), yakni sejauh mana ekspansi output menciptakan lapangan kerja, menaikkan pendapatan riil, dan menurunkan ketimpangan.

Angka Makro versus Realitas Rumah Tangga

Di satu sisi, indikator makro menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Inflasi terkendali dalam sasaran Bank Indonesia, cadangan devisa berada di level aman, dan rasio kredit bermasalah (non-performing loan) perbankan relatif rendah. Likuiditas sistem keuangan pun memadai untuk membiayai sektor produktif. Proyeksi pemerintah menempatkan pertumbuhan pada rentang 5,1 hingga 5,5 persen, ditopang konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB).

Di sisi lain, data ketimpangan memberi catatan penting. Rasio gini Indonesia masih berada di kisaran 0,38, dan indeks kedalaman kemiskinan belum turun signifikan. Penciptaan lapangan kerja formal juga tumbuh lebih lambat dibandingkan pertumbuhan angkatan kerja, sehingga sebagian pekerja terserap di sektor informal dengan produktivitas dan perlindungan sosial rendah. Artinya, sentimen pasar yang optimistis di pasar modal belum tentu berbanding lurus dengan daya beli kelompok menengah bawah.

"Pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka statistik. Yang terpenting adalah apakah masyarakat merasakan manfaatnya secara nyata," ujar Arsjad Rasjid dalam sebuah forum ekonomi.

Fundamental Kuat, tetapi Distribusi Manfaat Jadi Kunci

Secara fundamental, struktur ekonomi Indonesia memiliki bantalan yang cukup baik. Konsumsi domestik besar, sektor jasa terus berkembang, dan hilirisasi komoditas mendorong nilai tambah. Namun, pertumbuhan yang terpusat pada sektor padat modal—seperti tambang dan smelter—cenderung menciptakan efek berganda (multiplier effect) lebih terbatas terhadap penyerapan tenaga kerja dibandingkan sektor padat karya.

Ini menjelaskan mengapa valuasi pasar saham bisa menguat sementara kelas menengah rentan menahan belanja. Capital outflow jangka pendek akibat gejolak global juga dapat menekan nilai tukar, yang pada akhirnya merambat ke harga barang impor dan inflasi pangan. Dengan kata lain, stabilitas makro penting, tetapi belum cukup tanpa pemerataan.

Pro dan Kontra soal Ukuran Keberhasilan Ekonomi

Pro: Mempertahankan pertumbuhan tinggi tetap relevan karena menjadi prasyarat penciptaan lapangan kerja dan pendanaan program sosial. Tanpa ekspansi ekonomi, ruang fiskal untuk pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial akan menyempit.

Kontra: Fokus berlebihan pada angka pertumbuhan berisiko mengabaikan kualitas. Sejumlah ekonom mengusulkan indikator pelengkap, seperti pertumbuhan pendapatan per kapita riil, tingkat pekerjaan formal, dan indeks pemerataan, agar potret kesejahteraan lebih utuh.

Ke depan, arah kebijakan tampaknya perlu menyeimbangkan dua hal: menjaga stabilitas dan daya tarik investasi, sekaligus memastikan hasilnya terdistribusi. Diversifikasi ekonomi ke sektor bernilai tambah tinggi dan padat kerja, penguatan UMKM, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prasyarat. Portofolio kebijakan yang hanya mengejar pertumbuhan tanpa memperhatikan pemerataan berisiko memperlebar jarak antara makro yang cemerlang dan kenyataan di tingkat rumah tangga.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi tidak berhenti pada satu angka. Selama manfaat pertumbuhan belum dirasakan merata, diskusi tentang kualitas pembangunan akan terus menjadi agenda utama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User