Oct 19, 2026
Bisnis

Pertamina SMEXPO Yogyakarta Dorong 47 UMKM Perluas Pasar

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per 2025, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional serta menyerap hampir 97 persen tenaga ...

Pertamina SMEXPO Yogyakarta Dorong 47 UMKM Perluas Pasar

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per 2025, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional serta menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Namun, tantangan klasik tetap membelit: akses pasar yang sempit, keterbatasan pembiayaan, dan rendahnya literasi digital. Dalam kerangka itulah sebuah pameran usaha mikro bertajuk SMEXPO digelar di Pasar Ngasem, Yogyakarta, pada 2 hingga 4 Oktober 2026, dengan menggandeng 47 pelaku UMKM lokal untuk memperluas jangkauan pasar dan membuka peluang kemitraan.

Konteks Makro: UMKM dan Tekanan Daya Beli

Perekonomian nasional sepanjang 2025 hingga awal 2026 menunjukkan tren pertumbuhan yang moderat. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi tahunan berkisar 5,0 persen year-on-year, sementara indeks keyakinan konsumen bergerak di zona optimistis namun belum pulih sepenuhnya ke level pra-pandemi. Di sisi lain, laju inflasi inti terjaga di kisaran 2,3 persen secara tahunan, memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menata harga tanpa tekanan biaya berlebihan.

Di satu sisi, stabilitas makro ini menciptakan fundamental yang relatif sehat bagi UMKM untuk berekspansi. Likuiditas perbankan yang longgar, ditambah berbagai program kredit usaha rakyat bersubsidi, membuka akses pembiayaan dengan bunga yang lebih kompetitif. Sentimen pasar terhadap sektor konsumsi pun membaik seiring meningkatnya mobilitas dan konsumsi rumah tangga pascapandemi.

Di sisi lain, persaingan semakin ketat. Kehadiran produk impor berharga murah melalui kanal e-commerce menekan margin pelaku lokal. Rasio daya saing UMKM Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand, terutama dari sisi standardisasi produk, kemasan, dan konsistensi kualitas. Inilah yang membuat ajang seperti SMEXPO menjadi krusial: bukan sekadar bazar, melainkan ruang kurasi dan pembinaan.

"Pemberdayaan UMKM bukan sekadar soal bantuan modal, melainkan membangun ekosistem yang menghubungkan pelaku usaha dengan pasar yang lebih luas dan rantai pasok yang berkelanjutan," ujar seorang pengamat ekonomi koperasi dalam sebuah diskusi publik di Jakarta.

Pro: Dampak Multiplier bagi Ekonomi Lokal

Keterlibatan 47 UMKM dalam pameran ini berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian Yogyakarta. Setiap transaksi yang terjadi tidak hanya menguntungkan pedagang, tetapi juga merembet ke sektor logistik, akomodasi, kuliner, dan jasa kreatif di sekitarnya. Pasar Ngasem sebagai lokasi strategis menambah daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke kawasan keraton.

Dari perspektif valuasi usaha, partisipasi dalam pameran berskala nasional dapat meningkatkan eksposur merek, membuka peluang kemitraan dengan ritel modern, hingga mendorong pelaku UMKM naik kelas dari informal menjadi formal. Hal ini penting karena rasio UMKM yang berbadan hukum di Indonesia masih di bawah 20 persen, jauh dari target pemerintah.

Kontra: Tantangan Keberlanjutan Pascaacara

Namun, keberhasilan sebuah pameran tidak diukur semata dari jumlah pengunjung atau transaksi selama tiga hari. Persoalan klasik muncul setelah acara berakhir: apakah pelaku UMKM mampu mempertahankan momentum, memperluas jaringan distribusi, dan mengelola arus kas secara disiplin? Pengalaman sejumlah program serupa menunjukkan bahwa tanpa pendampingan berkelanjutan, banyak UMKM kembali ke titik awal dalam waktu enam bulan.

Selain itu, ketergantungan pada event bersifat musiman menciptakan pola pendapatan yang fluktuatif. Diperlukan strategi kanal penjualan yang terdiversifikasi, termasuk digitalisasi dan integrasi ke marketplace, agar portofolio penjualan lebih stabil. Proyeksi ke depan, keberhasilan program semacam ini sangat bergantung pada konsistensi pendampingan, akses pembiayaan lanjutan, dan iklim usaha yang kondusif.

Dengan fundamental yang masih terjaga dan sentimen pasar yang membaik, ajang ini setidaknya menawarkan jembatan awal. Namun, tanpa eksekusi pascaacara yang terukur, gaungnya berisiko sekadar menjadi riuh sementara di atas panggung ekonomi yang lebih besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User