Aug 28, 2026
Bisnis

Pertamina Perluas DEB 2026: Energi Terbarukan Jadi Motor Ekonomi Desa

Berdasarkan data PT Pertamina (Persero) per Agustus 2026, program Desa Energi Berdikari (DEB) tercatat telah menjangkau 269 desa di berbagai penjuru Nusantara. Angka tersebut mencerminkan perluasan ca...

Pertamina Perluas DEB 2026: Energi Terbarukan Jadi Motor Ekonomi Desa

Berdasarkan data PT Pertamina (Persero) per Agustus 2026, program Desa Energi Berdikari (DEB) tercatat telah menjangkau 269 desa di berbagai penjuru Nusantara. Angka tersebut mencerminkan perluasan cakupan program yang tidak lagi sekadar menghadirkan listrik bagi warga, melainkan juga dirancang sebagai katalis bagi pengembangan ekonomi masyarakat di akar rumput. Energi terbarukan ditempatkan sebagai titik awal, sementara pemberdayaan ekonomi menjadi tujuan akhir dari keseluruhan inisiatif ini.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tren global yang menempatkan transisi energi sebagai bagian tak terpisahkan dari agenda pembangunan ekonomi, bukan semata isu lingkungan. Pertanyaannya kini bergeser dari sekadar berapa banyak desa yang teraliri listrik, menjadi seberapa besar energi bersih mampu menopang aktivitas produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Mengurai Konsep Desa Energi Berdikari

Secara sederhana, Desa Energi Berdikari adalah program yang memanfaatkan potensi energi terbarukan lokal, seperti tenaga surya, air, angin, hingga biomassa, untuk memenuhi kebutuhan listrik warga. Istilah berdikari merujuk pada prinsip kemandirian: desa tidak lagi bergantung penuh pada jaringan listrik konvensional, melainkan mampu mengelola sumber energinya sendiri secara berkelanjutan.

Yang membedakan DEB dari program elektrifikasi pada umumnya adalah dimensi ekonominya. Energi yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk penerangan rumah tangga, tetapi juga menopang usaha mikro, pengolahan hasil pertanian, UMKM, hingga layanan digital di perdesaan. Dengan demikian, rasio pemanfaatan energi terhadap kegiatan ekonomi menjadi indikator keberhasilan yang sama pentingnya dengan jumlah rumah yang teraliri listrik.

Di Satu Sisi: Peluang Penguatan Ekonomi Lokal

Dari sisi optimistis, perluasan DEB hingga 269 desa menawarkan peluang nyata bagi penguatan fundamental ekonomi perdesaan. Ketika pasokan energi tersedia secara stabil, biaya operasional pelaku UMKM dapat mengalami penurunan, kapasitas produksi meningkat, dan pendapatan masyarakat berpotensi naik secara bertahap. Dampak berganda ini pada akhirnya turut menekan arus urbanisasi, karena lapangan kerja produktif mulai tumbuh di tempat asal warga.

Lebih jauh, program ini berkontribusi pada ketahanan energi nasional. Setiap desa yang mampu memproduksi energinya sendiri berarti mengurangi beban subsidi dan memperkecil risiko gangguan pasokan di daerah terpencil. Likuiditas ekonomi lokal pun berpeluang membaik, lantaran transaksi yang sebelumnya tersendat akibat keterbatasan energi kini dapat mengalir lebih cepat, sehingga nilai tambah yang tercipta tetap berputar di dalam desa.

Dari perspektif ekonomi, program semacam ini efektif menurunkan biaya energi sebagai komponen input produksi di perdesaan, sekaligus membuka ruang bagi kegiatan ekonomi baru yang sebelumnya tidak mungkin dijalankan, ujar seorang pengamat energi dan ekonomi yang dihubungi Beritadua.

Di Sisi Lain: Tantangan Keberlanjutan

Kendati demikian, analisis tidak boleh berhenti pada sisi optimistis. Di sisi lain, keberlanjutan program menghadapi sejumlah tantangan struktural yang tidak kalah serius. Pertama, biaya investasi awal pembangkit energi terbarukan masih tergolong tinggi. Tanpa dukungan pendanaan jangka panjang, desa-desa yang baru bergabung dapat mengalami kesulitan ketika komponen utama, seperti panel surya atau turbin, memerlukan perawatan maupun penggantian.

Kedua, aspek kapasitas sumber daya manusia. Pemanfaatan teknologi energi terbarukan menuntut kompetensi teknis yang tidak selalu tersedia di perdesaan. Jika pengelolaan tidak dibangun sejak awal, instalasi yang ada berisiko menjadi aset yang tidak terawat, atau dalam istilah ekonomi mengalami penurunan nilai aset lebih cepat dari perkiraan. Ketiga, fluktuasi pasokan. Energi terbarukan yang bergantung pada kondisi alam menghadapi risiko intermittensi, sehingga menuntut sistem penyimpanan energi yang memadai agar pasokan tetap stabil sepanjang tahun.

Proyeksi dan Arah Ke Depan

Ke depan, proyeksi perkembangan program sangat ditentukan oleh tiga variabel: konsistensi pendanaan, penguatan kapasitas masyarakat, dan dukungan regulasi. Sentimen pasar terhadap energi terbarukan di Indonesia tengah membaik, seiring komitmen pemerintah yang menargetkan peningkatan bauran energi baru terbarukan secara bertahap dalam bauran energi nasional. Hal ini membuka ruang bagi keterlibatan lebih luas dari sektor swasta dan lembaga keuangan dalam membiayai proyek serupa.

Keseimbangan dua sisi ini penting ditegaskan. Di satu sisi, DEB merupakan instrumen yang menjanjikan untuk menumbuhkan ekonomi desa dan mendorong pemerataan pembangunan. Di sisi lain, tanpa perencanaan keuangan yang matang dan pendampingan teknis berkelanjutan, dampaknya dapat tergerus seiring berjalannya waktu. Keberhasilan program pada akhirnya tidak diukur dari jumlah desa yang terdaftar, melainkan dari seberapa besar energi terbarukan benar-benar berfungsi sebagai motor ekonomi yang berdikari bagi masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User