Oct 12, 2026
Bisnis

Pertamina Genjot Homestay Lokal Mandalika di Balik MotoGP

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2024, gelaran MotoGP Mandalika tercatat mendatangkan lebih dari 100 ribu penonton dalam satu seri balapan, dengan estimasi perputa...

Pertamina Genjot Homestay Lokal Mandalika di Balik MotoGP

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2024, gelaran MotoGP Mandalika tercatat mendatangkan lebih dari 100 ribu penonton dalam satu seri balapan, dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp1,5 triliun per event. Angka itu menjadi dasar bagi Pertamina untuk memperluas program pendampingan homestay lokal di kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Nusa Tenggara Barat, melalui pelatihan pengelolaan hingga Program Desa Energi Berdikari. Langkah ini menarik dicermati karena menyentuh sisi paling dasar dari rantai nilai pariwisata: akomodasi milik warga.

Di Satu Sisi: Efek Berganda bagi Ekonomi Warga

Di satu sisi, intervensi korporasi terhadap homestay menawarkan efek berganda yang cukup nyata. Selama ini, menurut catatan Dinas Pariwisata NTB, okupansi homestay di sekitar Sirkuit Mandalika melonjak dari kisaran 30 persen pada hari biasa menjadi 85-90 persen saat pekan balapan. Artinya, ada lonjakan permintaan yang tidak selalu terlayani karena keterbatasan kapasitas dan kualitas layanan. Pelatihan pengelolaan—mencakup manajemen kamar, pemasaran digital, hingga standar kebersihan—berpotensi menaikkan tarif per kamar dan memperpanjang lama tinggal tamu.

Masuknya program Desa Energi Berdikari memperkuat sisi fundamental ini. Akses energi yang lebih stabil, misalnya melalui panel surya komunal, menekan biaya operasional harian homestay yang selama ini bergantung pada listrik jaringan dengan pasokan tidak selalu mulus. Dalam bahasa sederhana, biaya operasional yang turun dan kualitas layanan yang naik berarti margin pengelola homestay bisa membaik tanpa harus menaikkan harga secara agresif.

Di Sisi Lain: Tantangan Skala dan Keberlanjutan

Di sisi lain, ada sejumlah catatan yang perlu diuji dengan data. Pertama, skala dampak. Jumlah homestay di kawasan Mandalika diperkirakan baru ratusan unit, sementara kebutuhan akomodasi saat MotoGP bisa mencapai ribuan kamar. Tanpa penambahan kapasitas yang signifikan, sebagian besar belanja wisatawan tetap akan mengalir ke hotel berbintang di kawasan inti, bukan ke homestay warga. Ini menyangkut soal likuiditas manfaat ekonomi, bukan sekadar kehadiran program.

Kedua, soal keberlanjutan pasca-event. Tren kunjungan wisatawan ke Mandalika di luar jadwal balapan masih belum sekuat periode puncak. Proyeksi Bank Indonesia untuk sektor pariwisata NTB menunjukkan pertumbuhan positif, namun bersifat musiman. Jika homestay hanya ramai saat MotoGP, model bisnisnya rentan. Di sinilah pentingnya diversifikasi paket wisata—misalnya wisata bahari, budaya Sasak, atau desa wisata—agar tingkat hunian tidak bergantung pada satu event tahunan.

"Dukungan terhadap homestay lokal harus dilihat sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar tanggung jawab sosial menjelang event. Kuncinya ada pada kapasitas pengelola dan akses pasar yang berkelanjutan," ujar seorang pengamat ekonomi pariwisata di Mataram.

Ketiga, aspek tata kelola. Program pendampingan korporasi perlu dievaluasi dengan indikator yang jelas: berapa homestay yang naik kelas, berapa pendapatan rata-rata yang meningkat, dan bagaimana rasio hunian setelah program berjalan dua hingga tiga tahun. Tanpa metrik itu, sulit membedakan mana dampak nyata dan mana sentimen pasar semata.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Dari kacamata makro, keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan homestay sejalan dengan arah pemerintah yang menargetkan kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto pariwisata makin besar. Namun, valuasi manfaatnya baru bisa dinilai bila ada transparansi angka. Pemerintah daerah bersama pengelola kawasan perlu mempublikasikan data okupansi, tarif rata-rata, dan jumlah tenaga kerja lokal yang terserap secara berkala.

Jika itu dilakukan, dampak MotoGP Mandalika tidak berhenti pada gemerlap sirkuit, tetapi meresap ke dapur-dapur rumah warga. Sebaliknya, tanpa perbaikan kapasitas dan tata kelola, program sebesar apa pun berisiko hanya menjadi narasi tanpa jejak pada kesejahteraan. Inilah ujian sesungguhnya: bukan seberapa besar dana yang digelontorkan, melainkan seberapa lama manfaatnya bertahan setelah bendera finis dikibarkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User