Oct 20, 2026
Bisnis

Pertamina Dorong Kebangkitan Ekonomi Perajin Tenun Sade Pasca Musibah

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kembali menjadi instrumen penting dalam pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana. Berdasarkan data Kementerian Sosial dan Badan Nasional Penanggula...

Pertamina Dorong Kebangkitan Ekonomi Perajin Tenun Sade Pasca Musibah

Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kembali menjadi instrumen penting dalam pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana. Berdasarkan data Kementerian Sosial dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per awal 2024, kejadian kebakaran permukiman di kawasan pedesaan menimbulkan kerugian ekonomi rata-rata Rp 1,2 miliar hingga Rp 3,5 miliar per kejadian, dengan dampak terbesar dirasakan sektor usaha mikro dan kerajinan rumah tangga. Dalam konteks inilah, dukungan terhadap perajin tenun di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menjadi relevan untuk dicermati dari dua sisi.

Sisi Pro: Stimulus Alat Produksi Dorong Pemulihan Cepat

Di satu sisi, intervensi berupa pengadaan 45 unit alat tenun beserta program pendampingan pelatihan merupakan bentuk stimulus produksi yang menyasar akar masalah: hilangnya kapasitas produksi akibat musibah kebakaran. Merujuk pada kajian Bank Indonesia per triwulan IV 2023, setiap unit usaha mikro yang kembali beroperasi pascabencana berpotensi menyerap 2 hingga 4 tenaga kerja lokal, sehingga 45 alat tenun dapat menggerakkan sekitar 90 hingga 180 orang dalam ekosistem rantai pasok tenun — mulai dari pemintal benang, pewarna alami, hingga penjahit produk turunan.

Dari kacamata fundamental, pendekatan ini bukan sekadar bantuan karitatif. Alat tenun adalah aset produktif yang memiliki umur ekonomis panjang, umumnya 5 hingga 8 tahun, sehingga nilai manfaatnya berlipat dibanding bantuan konsumtif. Jika satu perajin mampu memproduksi 2 hingga 3 helai kain tenun per bulan dengan harga jual Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta per helai, maka estimasi nilai produksi tahunan dari 45 perajin dapat mencapai Rp 540 juta hingga Rp 3,24 miliar — angka yang signifikan bagi perekonomian desa berskala kecil.

Sentimen pasar juga mendukung. Tren permintaan kain tenun ikat dan songket dalam lima tahun terakhir mengalami kenaikan, seiring menguatnya preferensi terhadap produk lokal dan kewajiban penggunaan kain tradisional di berbagai acara resmi. Indeks penjualan produk kriya dalam survei internal pelaku UMKM binaan menunjukkan pertumbuhan 8% hingga 12% year-on-year pada periode 2021–2023. Desa Adat Sade sendiri dikenal sebagai destinasi wisata budaya dengan kunjungan wisatawan yang, merujuk data Dinas Pariwisata NTB, menembus ratusan ribu orang per tahun sebelum pandemi. Kombinasi produksi dan kunjungan wisata menciptakan kanal penjualan langsung yang efisien.

"Pemulihan ekonomi pascabencana yang efektif selalu bertumpu pada pengembalian alat produksi, bukan hanya bantuan tunai. Ketika perajin kembali menenun, seluruh rantai nilai desa ikut bergerak," ujar seorang akademisi ekonomi pembangunan dari universitas negeri di Mataram.

Sisi Kontra: Risiko Keberlanjutan dan Ketergantungan Program

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa bantuan alat produksi kerap menghadapi persoalan keberlanjutan. Berdasarkan evaluasi program TJSL di berbagai daerah, tingkat pemanfaatan alat bantu usaha yang bertahan di atas tiga tahun hanya berkisar 40% hingga 60%. Sisanya mangkrak karena kendala bahan baku, modal kerja, akses pasar, atau regenerasi perajin yang stagnan.

Persoalan likuiditas juga menjadi catatan. Alat tenun tanpa dukungan modal kerja untuk membeli benang, pewarna, dan biaya operasional tidak otomatis menghasilkan output. Kebutuhan modal kerja per perajin diperkirakan Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per siklus produksi. Apabila akses kredit mikro di wilayah tersebut terbatas — dengan suku bunga pinjaman yang masih berada di kisaran 12% hingga 18% per tahun untuk segmen ultra-mikro — maka risiko gagal produksi tetap membayangi.

Dari perspektif pasar, proyeksi permintaan juga perlu diuji secara kritis. Meski tren kriya positif, kain tenun menghadapi kompetisi dari produk tekstil pabrikan berharga lebih murah serta gempuran produk impor. Valuasi ekonomi dari bantuan ini baru akan terwujud jika ada jaminan serapan pasar, misalnya melalui kemitraan ritel, koperasi desa, atau kanal digital. Tanpa itu, risiko over-supply lokal dan penurunan harga jual di tingkat perajin menjadi nyata.

Membaca Fundamentalnya Secara Berimbang

Secara agregat, dukungan terhadap perajin tenun Desa Adat Sade mencerminkan pergeseran paradigma CSR dari filantropi menuju pemberdayaan berbasis aset produktif. Data makro mendukung arah ini: sektor industri kriya nasional menyumbang sekitar Rp 40 triliun hingga Rp 50 triliun terhadap PDB ekonomi kreatif, dan penyerapan tenaga kerjanya didominasi usaha rumahan. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak ditentukan oleh jumlah alat tenun yang diserahkan, melainkan oleh ekosistem pendukung: pelatihan berkelanjutan, akses bahan baku, literasi pemasaran digital, serta pendampingan keuangan.

Bagi pembaca awam, istilah keberlanjutan program di sini berarti kemampuan perajin untuk terus memproduksi dan menjual tanpa bergantung pada bantuan baru. Indikator sederhananya: apakah dalam 12 bulan ke depan pendapatan rumah tangga perajin kembali ke level sebelum musibah, atau bahkan melampauinya. Jika ya, maka stimulus ini layak direplikasi. Jika tidak, maka persoalan struktural yang lebih dalam — akses pasar dan modal — perlu dibenahi lebih dulu sebelum alat produksi kembali ditambah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User