Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per kuartal pertama 2024, kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, mencatat lonjakan kunjungan wisatawan sebesar 32,7 persen year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadikan Mandalika salah satu dari lima destinasi super prioritas dengan pertumbuhan tertinggi di Indonesia. Di balik tren positif tersebut, muncul pertanyaan mendasar mengenai siapa yang sebenarnya menikmati limpahan ekonomi dari penyelenggaraan MotoGP Mandalika, khususnya pada sektor akomodasi berbasis masyarakat seperti homestay.
Pertamina, melalui serangkaian program pendampingan, menyatakan komitmennya untuk memperkuat kapasitas pengelola homestay lokal. Program tersebut mencakup pelatihan manajemen pengelolaan penginapan, standarisasi kebersihan dan layanan, hingga inisiatif Desa Energi Berdikari yang menyasar ketersediaan energi bersih di tingkat desa. Langkah ini dipandang sebagai upaya menyelaraskan fundamental ekonomi kawasan dengan sentimen pasar yang mengalir deras setiap kali event balap kelas dunia digelar.
Di Satu Sisi: Multiplier Effect yang Nyata
Dari kacamata makroekonomi, penyelenggaraan MotoGP Mandalika terbukti menciptakan efek berganda atau multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian lokal. Data Bank Indonesia mencatat perputaran uang selama gelaran MotoGP 2023 mencapai Rp4,5 triliun, dengan sektor akomodasi menyumbang porsi terbesar, yakni sekitar 28 persen. Homestay milik warga memiliki keunggulan kompetitif berupa harga yang lebih terjangkau serta pengalaman autentik yang tidak ditawarkan hotel berbintang.
Pelatihan pengelolaan yang digagas Pertamina berpotensi mendongkrak okupansi homestay dari rata-rata 54 persen pada musim sepi pengunjung menjadi di atas 75 persen saat event berlangsung. Peningkatan standar layanan juga berdampak langsung pada valuasi harga sewa yang dapat dinaikkan secara wajar tanpa kehilangan segmen pasar. Bagi perekonomian desa, hal ini berarti peningkatan pendapatan asli desa dan penciptaan lapangan kerja baru di sektor jasa.
"Pendekatan pemberdayaan masyarakat lokal melalui homestay adalah strategi yang tepat. Yang dibutuhkan bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar manfaat ekonomi benar-benar mengendap di tingkat akar rumput," ujar seorang ekonom pembangunan dari universitas ternama di Jakarta.
Di Sisi Lain: Tantangan Likuiditas dan Konsistensi
Namun, optimisme tersebut perlu diimbangi dengan sikap kritis. Persoalan mendasar yang kerap terabaikan adalah sifat musiman dari gelaran MotoGP. Selama 11 bulan di luar periode balapan, homestay lokal menghadapi tantangan likuiditas yang serius. Tanpa strategi pemasaran berkelanjutan dan diversifikasi paket wisata, investasi pengembangan homestay berisiko mengalami tingkat pengembalian modal atau payback period yang lebih panjang dari proyeksi awal, yaitu 5 hingga 7 tahun.
Selain itu, capital outflow dari kawasan tetap menjadi pekerjaan rumah. Sebagian keuntungan dari rantai pasok akomodasi dan konsumsi wisatawan masih mengalir ke pemasok luar daerah. Program Desa Energi Berdikari berpotensi meredam sebagian tekanan biaya operasional, tetapi tanpa ekosistem usaha yang terintegrasi, dampaknya cenderung terbatas. Rasio kemandirian ekonomi desa masih berada di kisaran 38 persen, menandakan bahwa ketergantungan pada penyelenggara event masih tinggi.
Proyeksi dan Fundamental Jangka Panjang
Ke depan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi pendampingan dan integrasi dengan kalender event nasional maupun internasional. Pemerintah daerah bersama pelaku industri perlu menyusun peta jalan agar homestay tidak hanya menjadi pelengkap saat MotoGP, tetapi menjadi produk wisata unggulan sepanjang tahun. Proyeksi Kementerian Pariwisata menunjukkan potensi kenaikan kontribusi sektor akomodasi berbasis masyarakat terhadap PDRB NTB dari 3,2 persen menjadi 5,8 persen pada 2027 apabila ekosistem pendukung terus diperkuat.
Dengan demikian, dukungan terhadap homestay lokal bukan sekadar tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan investasi strategis dalam membangun fundamental ekonomi kawasan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Sentimen pasar boleh datang dan pergi mengikuti musim balapan, tetapi fondasi ekonomi yang kuat akan tetap menjadi penopang utama kesejahteraan masyarakat Mandalika di masa mendatang.
Comments (0)