Pertamina Cetak Local Hero Demi Kemandirian Energi di Level Desa
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I-2025, sektor pengadaan listrik dan gas mencatat pertumbuhan 5,2 persen year-on-year, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di ki...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I-2025, sektor pengadaan listrik dan gas mencatat pertumbuhan 5,2 persen year-on-year, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 4,9 persen. Di tengah tren tersebut, PT Pertamina (Persero) memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) di level perdesaan melalui Program Desa Energi Berdikari, sebuah inisiatif yang membina warga lokal—disebut local hero—melalui edukasi, pelatihan, hingga sertifikasi kompetensi di bidang energi.
Program ini menargetkan kaderisasi warga desa agar mampu mengelola potensi energi di wilayahnya secara mandiri, mulai dari energi terbarukan skala mikro hingga pengelolaan distribusi bahan bakar. Pendekatan yang diterapkan bersifat berjenjang: tahap edukasi untuk membangun pemahaman dasar, pelatihan teknis untuk keterampilan operasional, dan sertifikasi kompetensi sebagai pengakuan formal atas keahlian peserta.
Fundamental Program: Dari Edukasi hingga Sertifikasi
Skema pembinaan local hero dirancang untuk menjawab kesenjangan kompetensi antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka di perdesaan per Agustus 2024 berada di angka 3,95 persen, dengan proporsi pekerja informal menembus 60 persen. Sertifikasi kompetensi diharapkan mengalami peningkatan nilai tawar (bargaining position) tenaga kerja desa di pasar kerja formal.
Dari sisi valuasi ekonomi, keberadaan SDM tersertifikasi berpotensi menekan biaya operasional proyek energi desa karena ketergantungan pada tenaga ahli dari luar wilayah berkurang. Efisiensi ini berdampak pada rasio biaya terhadap output energi yang lebih kompetitif, sekaligus menjaga likuiditas ekonomi tetap berputar di dalam desa.
Di Satu Sisi: Multiplier Effect bagi Ekonomi Perdesaan
Di satu sisi, program semacam ini menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan, yakni kondisi ketika satu unit aktivitas ekonomi memicu aktivitas turunan lainnya. Setiap rupiah yang beredar melalui jasa instalasi, pemeliharaan, hingga pengelolaan unit energi berpotensi mengalami kenaikan perputaran hingga 1,5 sampai 2 kali lipat di tingkat komunitas. Sentimen pasar terhadap portofolio energi hijau juga cenderung positif ketika korporasi menunjukkan komitmen pada aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Dari sisi proyeksi jangka menengah, jika model Desa Energi Berdikari direplikasi ke ribuan desa, kontribusinya terhadap target bauran energi terbarukan nasional sebesar 23 persen pada 2025 berpeluang terakselerasi. Indeks pembangunan manusia (IPM) di wilayah sasaran pun berpotensi mengalami kenaikan seiring perbaikan akses energi dan pendapatan warga.
"Kemandirian energi tidak cukup dibangun dengan infrastruktur fisik. Fondasi sesungguhnya adalah manusia yang kompeten mengelolanya. Investasi pada SDM lokal memiliki imbal hasil sosial yang melampaui proyek fisik itu sendiri," ujar seorang pengamat ekonomi energi dari universitas terkemuka di Jakarta.
Di Sisi Lain: Tantangan Keberlanjutan dan Risiko Fiskal
Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan risiko keberlanjutan. Program pembinaan berbasis corporate social responsibility (CSR) kerap menghadapi masalah kontinuitas ketika anggaran perusahaan mengalami penurunan akibat volatilitas harga minyak dunia. Sebagai gambaran, harga minyak mentah Indonesia (ICP) sempat berfluktuasi di kisaran 70 hingga 90 dolar AS per barel sepanjang 2024, yang memengaruhi ruang fiskal korporasi.
Kontra lainnya, sertifikasi kompetensi tanpa ekosistem penyerapan tenaga kerja yang memadai berisiko menciptakan ketidaksesuaian keterampilan (skill mismatch), yakni kondisi ketika keahlian yang dimiliki tidak terserap pasar. Tanpa kemitraan dengan badan usaha milik desa (BUMDes) atau akses pembiayaan mikro, portofolio keterampilan peserta bisa tidak termanfaatkan optimal. Tingkat utilisasi program serupa di berbagai daerah tercatat bervariasi, antara 40 hingga 70 persen, bergantung pada dukungan pemerintah daerah.
Proyeksi dan Catatan bagi Pemangku Kepentingan
Ke depan, keberhasilan program akan sangat ditentukan oleh tiga variabel: konsistensi pendanaan, integrasi dengan kebijakan dana desa yang pada 2025 dialokasikan sekitar Rp71 triliun, serta keterlibatan perbankan dalam menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) bagi alumni pelatihan. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan yang masih di kisaran 20 persen menunjukkan ruang pembiayaan yang belum tergarap maksimal.
Bagi pelaku pasar, narasi kemandirian energi perdesaan memang memperkuat fundamental jangka panjang sektor energi nasional. Namun, analisis yang berimbang tetap diperlukan: keberhasilan program tidak semata diukur dari jumlah peserta yang dilatih, melainkan dari berapa banyak local hero yang benar-benar menggerakkan roda ekonomi energi di desanya masing-masing.
Comments (0)