Aug 24, 2026
Bisnis

Perry Warjiyo Resmi Mundur, Destry Damayanti Jadi Gubernur Interim BI

Perry Warjiyo resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia per 25 Juli 2026, lebih awal dari akhir masa jabatan yang semula direncanakan hingga 2028. Keputusan mundur itu langsung ...

Perry Warjiyo Resmi Mundur, Destry Damayanti Jadi Gubernur Interim BI

Perry Warjiyo resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia per 25 Juli 2026, lebih awal dari akhir masa jabatan yang semula direncanakan hingga 2028. Keputusan mundur itu langsung disusul penunjukan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Gubernur sementara. Istana belum mengirimkan nama calon pengganti definitif ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), memicu spekulasi pasar tentang arah kebijakan moneter ke depan.

Pengunduran Diri yang Mengejutkan

Mundurnya Perry Warjiyo menjadi kejutan bagi banyak pihak. Pasalnya, ia baru saja memulai periode keduanya sebagai Gubernur BI pada 2023 setelah terpilih kembali. Dalam kariernya, Perry dikenal sebagai arsitek sejumlah kebijakan besar, termasuk program pendalaman pasar keuangan dan digitalisasi sistem pembayaran. Di bawah kepemimpinannya, BI juga menghadapi tekanan nilai tukar rupiah yang tajam pada 2024 akibat capital outflow sebesar Rp 137 triliun dalam satu triwulan. Meski begitu, inflasi berhasil dijaga dalam sasaran, dengan angka 3,2 persen year-on-year per Juni 2026, naik tipis dari 2,8 persen di bulan sebelumnya namun masih dalam batas wajar.

Figur Interim yang Teruji

Destry Damayanti, yang kini memegang kendali, bukanlah nama asing. Sebagai Deputi Gubernur Senior sejak 2019, ia kerap mewakili BI dalam forum internasional dan dikenal piawai dalam mengelola stabilitas makroprudensial. Sebelum bergabung dengan bank sentral, Destry menghabiskan hampir dua dasawarsa di dunia pasar modal, termasuk sebagai ekonom utama di Mandiri Sekuritas. Pengalaman itu memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika pasar uang dan sentimen investor. Penunjukannya sebagai pemimpin sementara diharapkan bisa meredam gejolak psikologis akibat kekosongan pucuk pimpinan, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Reaksi Pasar dan Kekhawatiran Dualitas

Pasar langsung merespons. Di satu sisi, pelaku pasar mengapresiasi langkah cepat penunjukan interim karena menjaga kontinuitas operasional. Rupiah sempat menguat tipis ke level Rp14.950 per dolar AS setelah pengumuman itu, memangkas pelemahan sebesar 0,4 persen sejak awal pekan. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa status sementara akan menghambat keputusan strategis, terutama terkait suku bunga acuan. BI rate saat ini bertahan di 6,25 persen setelah dilakukan pengetatan agresif sepanjang 2025. Dengan Destry hanya berwenang sebagai penjabat, pasar khawatir BI akan kehilangan momentum untuk merespons dinamika suku bunga The Fed yang diperkirakan masih akan menaikkan sebesar 25 basis poin di kuartal ketiga.

Pro-kontra pun mencuat. Pihak yang optimistis melihat transisi ini mulus karena Destry merupakan orang dalam yang paham betul cetak biru kebijakan BI. Namun, skeptis mempertanyakan legitimasi pengambilan keputusan besar, khususnya jika tekanan eksternal datang lebih cepat dari jadwal uji kelayakan DPR. "Gubernur interim punya wewenang penuh, tapi secara politik akan cenderung menunggu pemimpin baru untuk masalah-masalah fundamental," ujar seorang ekonom senior yang tak ingin disebutkan namanya.

Proses Politik dan Nama Kandidat

Mekanisme penggantian mengacu pada Undang-Undang Bank Indonesia, di mana presiden mengajukan calon kepada DPR untuk dilakukan fit and proper test. Hingga berita ini diturunkan, belum ada surat resmi dari Istana. Beberapa nama mulai disebut-sebut di kalangan pengamat, antara lain Dody Budi Waluyo (mantan Deputi Gubernur BI) dan Doni Primanto (kepala kantor perwakilan BI di New York). Namun, keduanya belum memberi konfirmasi. Ketidakpastian ini berpotensi membebani indeks harga saham gabungan yang sedang berkonsolidasi di angka 7.200 setelah reli dua pekan terakhir. Investor asing kemungkinan akan wait and see hingga kepastian nama Gubernur baru muncul.

Implikasi Jangka Menengah

Terlepas dari dinamika jangka pendek, mundurnya Perry mengawali era baru di bank sentral. Arah kebijakan moneter ke depan akan sangat bergantung pada sosok yang akhirnya dipilih. Jika Gubernur baru cenderung dovish, ada ruang untuk pelonggaran suku bunga guna mendorong pertumbuhan kredit yang mandek di kisaran 2,1 persen tahun-ke-tahun. Sebaliknya, jika hawkish dengan fokus stabilitas rupiah, biaya pinjaman berpotensi tetap tinggi. Destry Damayanti dalam pidato singkatnya seusai rapat dewan gubernur menyatakan akan menjaga kesinambungan seluruh program yang telah berjalan. "Prioritas kami tetap stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi," tegasnya.

Dengan teka-teki kursi nomor satu di BI yang belum terpecahkan, semua mata kini tertuju pada Istana. Makin lama kekosongan definitif, makin besar ujian bagi para deputi yang kini memikul beban melindungi rupiah seorang diri. Akankah nama besar muncul, atau justru wajah baru dari dalam institusi sendiri? Hanya hitungan minggu yang akan menjawab.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User