Aug 24, 2026
Bisnis

Defisit Transaksi Berjalan Melebar, Ketahanan Eksternal Rupiah Diuji

Berdasarkan data Bank Indonesia yang dirilis pada akhir Juli 2026, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia tercatat sebesar 2,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) ...

Defisit Transaksi Berjalan Melebar, Ketahanan Eksternal Rupiah Diuji

Berdasarkan data Bank Indonesia yang dirilis pada akhir Juli 2026, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia tercatat sebesar 2,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II 2026. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di kisaran 1,9 persen, sekaligus menandai tren pemburukan selama tiga kuartal berturut-turut.

Bagi pembaca awam, transaksi berjalan adalah catatan transaksi barang, jasa, dan pendapatan antara penduduk Indonesia dengan penduduk negara lain dalam satu periode. Defisit berarti nilai barang dan jasa yang masuk, termasuk impor, lebih besar daripada yang keluar. Selisihnya harus dibiayai oleh arus modal asing, sehingga kondisi ini menjadi salah satu indikator kunci ketahanan eksternal perekonomian.

Akar Defisit: Belanja Energi dan Ekspor yang Tertekan

Penyebab utama membengkaknya defisit berasal dari sisi impor. Tagihan impor migas mengalami kenaikan seiring tingginya harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas level 85 dolar AS per barel sepanjang semester pertama 2026. Nilai impor migas pada kuartal II 2026 mencapai sekitar 9,8 miliar dolar AS, naik 12,4 persen year-on-year. Di saat yang sama, impor bahan baku dan barang modal industri ikut terdorong oleh aktivitas manufaktur yang ekspansif.

Di sisi lain, kinerja ekspor belum mampu mengimbangi. Harga komoditas andalan seperti batu bara dan kelapa sawit mengalami penurunan dibandingkan puncaknya pada 2022. Nilai ekspor nonmigas kuartal II 2026 tercatat 24,6 miliar dolar AS, atau turun 3,1 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya. Pelemahan permintaan dari Tiongkok dan Eropa, dua mitra dagang utama, turut menahan laju pengiriman barang ke luar negeri.

Dua Sisi: Fundamental Domestik vs Sentimen Pasar Global

Di satu sisi, sejumlah analis menilai defisit yang ada masih tergolong sehat dan jauh dari level krisis. Rasio CAD terhadap PDB sebesar 2,4 persen masih berada di bawah batas aman 3 persen yang umum dipakai sebagai ambang peringatan. Cadangan devisa per akhir Juli 2026 tercatat 142,6 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai sekitar 6,4 bulan impor. Likuiditas perbankan domestik juga tetap longgar, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal II tercatat 5,1 persen year-on-year, menopang keyakinan bahwa defisit berasal dari aktivitas ekonomi yang sedang ekspansif, bukan dari konsumsi yang tidak produktif.

Di sisi lain, pasar memandang pemburukan neraca berjalan sebagai pemicu rapuhnya rupiah terhadap gejolak global. Sepanjang Agustus 2026, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan hingga menembus 16.450 per dolar AS, tertekan oleh ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi dan menguatnya indeks dolar. Kondisi ini memicu capital outflow dari pasar obligasi domestik. Data Bank Indonesia mencatat kepemilikan asing di Surat Berharga Negara turun sekitar 1,8 triliun rupiah pada tiga pekan terakhir. Arus keluar portofolio ini, menurut para ekonom, adalah konsekuensi logis ketika defisit transaksi berjalan melebar di tengah likuiditas global yang mengetat.

Perbedaan penilaian itu pada dasarnya bermuara pada horizon waktu. Mereka yang optimis menekankan fundamental jangka menengah seperti cadangan devisa dan pertumbuhan kredit. Sebaliknya, kelompok yang hati-hati menyoroti bahwa sentimen pasar bisa berbalik cepat dan defisit yang dibiayai portofolio jangka pendek lebih rapuh dibandingkan defisit yang dibiayai investasi langsung atau foreign direct investment.

Respons Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Bank Indonesia merespons tekanan ini dengan menjaga stance kebijakan moneter ketat. Suku bunga acuan BI-Rate dipertahankan pada level 6,00 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Agustus 2026, dengan fokus utama pada stabilisasi nilai tukar dan pengendalian inflasi yang berada di kisaran 2,7 persen year-on-year. Intervensi ganda di pasar valas dan pasar obligasi juga terus dilakukan untuk meredam volatilitas.

Dari sisi fiskal, pemerintah berupaya menahan laju impor energi melalui percepatan transisi ke biodiesel B40 dan peningkatan produksi dalam negeri. Sementara itu, hilirisasi komoditas diharapkan memperbaiki struktur ekspor sehingga ketergantungan pada harga komoditas mentah berkurang dalam jangka panjang.

Proyeksi para ekonom untuk paruh kedua 2026 masih terbelah. Skenario optimistis memperkirakan CAD berangsur menyempit ke 2,1 persen PDB pada akhir tahun seiring normalisasi harga energi dan perbaikan ekspor pada kuartal keempat. Skenario pesimistis memperingatkan bahwa jika tekanan suku bunga global berlanjut, pelemahan rupiah bisa memperbesar biaya utang luar negeri dan memperdalam defisit pendapatan. Rasio utang luar negeri swasta yang mayoritas berdenominasi dolar membuat setiap pelemahan rupiah sebesar 1 persen menambah beban pembayaran sekitar 800 juta dolar AS per tahun.

Yang jelas, perekonomian Indonesia kini berjalan di dua rel sekaligus: fundamental domestik yang relatif solid dan kerentanan eksternal yang terus diuji. Keberhasilan mengelola defisit transaksi berjalan ke depan akan sangat ditentukan oleh kombinasi kebijakan moneter yang kredibel, perbaikan struktur ekspor, dan arah kebijakan suku bunga global. Publik dan pelaku pasar sama-sama menunggu data neraca perdagangan bulan berikutnya sebagai sinyal terdekat apakah tren pelemahan ini akan berlanjut atau mulai berbalik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User