Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2024 tercatat sebesar 5,03 persen year-on-year, sementara inflasi pada Desember 2024 mengalami penurunan hingga kisaran 1,5 persen, di bawah target bank sentral. Di saat yang sama, suku bunga acuan Bank Indonesia berada di level 5,75–6,00 persen, dan likuiditas domestik masih melimpah meski sentimen pasar global kerap berubah mengikuti arus capital outflow. Pada titik inilah kisah dua pengusaha tanah air yang selama bertahun-tahun rutin bolak-balik berziarah ke Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi menarik untuk dicermati. Jalan mereka menuju status konglomerat bukanlah cerita keberuntungan semata, melainkan pertemuan antara keyakinan pribadi, kedisiplinan usaha, dan pengelolaan fundamental bisnis yang berkelanjutan.
Dua Pengusaha, Satu Rutinitas Ziarah
Kedua tokoh tersebut menempatkan kawasan pesarean di Kecamatan Wonosari sebagai bagian dari rutinitas tahunan mereka. Gunung Kawi memang dikenal luas sebagai salah satu titik ziarah paling ramai di Jawa Timur; pengunjungnya datang dari berbagai kota, sebagian besar membawa harapan agar usaha dan kehidupannya membaik. Bagi dua pengusaha ini, kunjungan berulang ke tempat itu diyakini menghadirkan ketenangan batin sekaligus pengalaman spiritual yang mendalam. Mereka tidak merahasiakan kebiasaan itu; sebaliknya, keduanya kerap berbagi cerita bahwa perjalanan panjang ke lereng gunung menjadi momen refleksi, tempat mengevaluasi portofolio bisnis, menyusun target, dan menguatkan tekad sebelum mengambil keputusan besar.
Yang menarik, kebiasaan tersebut berjalan seiring dengan pencapaian yang nyata. Dari usaha kecil yang tumbuh perlahan, keduanya kini mengelola kelompok usaha lintas sektor dengan nilai aset yang jauh mengalami kenaikan dibandingkan dua dekade silam. Tren ini, menurut sejumlah pengamat, mencerminkan pola umum wirausahawan Asia Tenggara yang menggabungkan dimensi spiritual dengan disiplin manajerial. Ritual bukanlah pengganti kerja, melainkan semacam pengisian ulang energi sebelum kembali berhadapan dengan tekanan pasar.
Di Satu Sisi: Ziarah Menjadi Penguat Modal Psikologis dan Sosial
Dari sudut pandang ekonomi perilaku, rutinitas ziarah memiliki fungsi yang bisa dijelaskan secara rasional. Kegiatan yang dilakukan berulang dan penuh makna membantu menurunkan tingkat stres, memperbaiki fokus, serta membangun ketenangan dalam mengambil keputusan — aset yang tidak ternilai ketika sentimen pasar sedang bergejolak. Di samping itu, tempat ziarah juga menjadi simpul jejaring sosial. Banyak kemitraan usaha di Indonesia justru lahir dari pertemuan informal di lokasi ibadah dan ziarah, yang memperkuat modal sosial — istilah untuk jaringan kepercayaan yang memudahkan kerja sama ekonomi. Dengan modal sosial yang kuat, akses terhadap informasi pasar, mitra, dan pembiayaan menjadi lebih mudah, sehingga mempercepat pertumbuhan usaha.
Para pendukung pandangan ini juga menunjuk pada fakta bahwa mayoritas pelaku usaha di Indonesia — sekitar 64 juta unit usaha mikro dan kecil yang menyumbang hampir 61 persen terhadap produk domestik bruto — tumbuh dari ekosistem lokal yang erat dengan tradisi dan kepercayaan. Dalam kerangka itu, ziarah bukanlah takhayul, melainkan instrumen penguatan mental yang ikut menentukan kualitas pengambilan keputusan bisnis.
Di Sisi Lain: Waspada Bias Konfirmasi dan Tetap Berpegang pada Fundamental
Namun, analisis dua sisi menuntut kehati-hatian. Di sisi lain, menautkan kesuksesan semata-mata pada kebiasaan ziarah berpotensi jatuh pada apa yang disebut bias konfirmasi dan survivorship bias. Bias konfirmasi adalah kecenderungan mencari bukti yang mendukung keyakinan kita; sementara survivorship bias — bias kelangsungan hidup — membuat kita hanya melihat kisah yang sukses, padahal ribuan peziarah lain yang menempuh rutinitas serupa tidak mengalami nasib yang sama. Logikanya sederhana: jika ziarah adalah jaminan keberuntungan, maka tingkat kegagalan usaha mikro di Indonesia yang masih cukup tinggi tidak akan sebesar itu.
“Ritual memberi ketenangan, tetapi ketenangan tidak pernah menggantikan kerja keras dan angka-angka,” ujar seorang pengamat ekonomi perilaku. Data menunjukkan bahwa yang membedakan konglomerat dari pelaku usaha lainnya umumnya adalah pengelolaan rasio keuangan yang sehat, valuasi aset yang wajar, kemampuan menjaga likuiditas di tengah tekanan, serta adaptasi cepat terhadap perubahan tren pasar. Faktor-faktor inilah — bukan sekadar frekuensi ziarah — yang menjadi penentu kelangsungan usaha dalam jangka panjang.
Kesimpulan: Ritual dan Rasionalitas Berjalan Beriringan
Kisah dua pengusaha tersebut sejatinya mengajarkan keseimbangan. Di satu sisi, dimensi spiritual memberi daya tahan mental yang relevan ketika indeks-indeks ekonomi bergerak fluktuatif dan proyeksi pertumbuhan tahun ini masih dibayangi ketidakpastian global. Di sisi lain, capaian mereka dibangun di atas fundamental usaha yang kuat: manajemen arus kas, diversifikasi portofolio, dan keberanian mengambil keputusan pada saat yang tepat. Bagi pembaca, pelajaran yang paling berharga bukanlah meniru rute ziarahnya, melainkan meniru disiplin di baliknya — karena keberuntungan, dalam bahasa ekonomi, hanyalah pertemuan antara kesiapan dan kesempatan.
Comments (0)