Perry Warjiyo Mundur, Rupiah Kian Dekati Rp18.000 per Dolar

Pasar keuangan Indonesia diguncang oleh dua peristiwa besar yang saling berkait dalam beberapa hari terakhir. Pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia memicu gelombang ketida...

Jul 28, 2026 - 00:29
0 0
Perry Warjiyo Mundur, Rupiah Kian Dekati Rp18.000 per Dolar

Pasar keuangan Indonesia diguncang oleh dua peristiwa besar yang saling berkait dalam beberapa hari terakhir. Pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia memicu gelombang ketidakpastian yang langsung tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah. Hingga penutupan sesi perdagangan, rupiah tercatat melemah signifikan dan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, sebuah titik yang belum pernah tersentuh sejak era krisis moneter.

Berdasarkan data dari platform perdagangan pasar uang Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah mengalami depresiasi sebesar 2,3 persen secara harian, menetap di posisi Rp17.890 per dolar AS. Pelemahan ini menambah derita rupiah yang sepanjang kuartal terakhir telah tergerus lebih dari 7 persen year-on-year. Sentimen negatif terutama berasal dari kekhawatiran pelaku pasar terhadap keberlanjutan kebijakan moneter dan stabilitas sektor keuangan pasca kepergian figur sentral di bank sentral.

Warisan Kebijakan dan Stabilitas Moneter

Perry Warjiyo dikenal sebagai arsitek utama kebijakan moneter pruden yang membawa Indonesia melewati berbagai badai eksternal, termasuk era pandemi dan tekanan normalisasi kebijakan bank sentral global. Pendekatan bauran kebijakan melalui lima instrumen utama—suku bunga acuan, nilai tukar, operasi moneter, manajemen modal, dan makroprudensial—telah menjadi ciri khas kepemimpinannya. Pengunduran dirinya memunculkan pertanyaan besar mengenai kontinuitas strategi tersebut.

Di satu sisi, pelaku pasar yang pro terhadap stabilitas melihat mundurnya Perry sebagai potensi risiko transisi. Ketidakpastian suksesi di tubuh BI dapat mengganggu kredibilitas institusi, terutama di saat investor asing tengah sensitif terhadap isu tata kelola. Capital outflow yang tercatat sebesar Rp5,2 triliun dari pasar obligasi dalam dua hari terakhir menjadi indikator nyata kekhawatiran tersebut. Namun, di sisi lain, banyak analis menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kokoh. Cadangan devisa per Mei 2025 tetap berada di level 139,4 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Rasio utang terhadap PDB yang terjaga di bawah 30 persen juga memberikan penyangga yang solid.

Dua Sisi Mata Uang yang Melemah

Depresiasi rupiah menjelang Rp18.000 per dolar AS tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Perspektif pesimistis menyoroti dampak langsung terhadap biaya impor, terutama untuk kebutuhan pokok seperti kedelai, gandum, dan bahan bakar minyak. Lonjakan biaya impor akan merambat ke inflasi domestik, menekan daya beli masyarakat, dan berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi yang saat ini diproyeksikan berada di kisaran 5,1 persen. Tekanan terhadap sektor manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor juga tidak bisa diabaikan.

Sebaliknya, kacamata optimistis melihat pelemahan ini sebagai katalis bagi kinerja ekspor dan sektor pariwisata. Barang-barang produksi Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global, sementara lonjakan wisatawan mancanegara berpotensi mendongkrak penerimaan devisa. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan ekspor manufaktur Indonesia mengalami kenaikan 4,7 persen month-to-month pada bulan sebelumnya, dan tren ini diperkirakan berlanjut seiring dengan depresiasi rupiah. Bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki pendapatan dalam dolar AS, pelemahan ini justru menjadi berkah tersendiri.

Respons Pasar dan Arah Kebijakan

Pelaku pasar kini menanti langkah konkret dari Bank Indonesia di bawah pelaksana tugas gubernur yang baru. Apakah BI akan kembali mengerek suku bunga acuan BI7DRR yang saat ini bertengger di level 6,25 persen, atau memilih untuk melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing? Pertanyaan-pertanyaan ini mengemuka di tengah ekspektasi bahwa The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun. Spread suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat yang menyempit menjadi pertimbangan krusial dalam menarik aliran modal portofolio.

"Transisi kepemimpinan di bank sentral selalu membawa volatilitas jangka pendek. Namun, fundamental ekonomi Indonesia yang sehat dan independensi BI yang dijamin undang-undang seharusnya memberikan keyakinan bahwa gejolak ini bersifat temporer," ujar seorang ekonom senior yang dikutip dalam diskusi pasar.

Di pasar saham, indeks IHSG sempat tertekan hingga 1,8 persen sebelum akhirnya memangkas kerugian di sesi sore. Saham-saham sektor keuangan memimpin pelemahan, sementara emiten berbasis ekspor dan pertambangan justru mencatat penguatan. Divergensi ini menunjukkan bahwa pasar tengah melakukan repricing portofolio secara selektif. Likuiditas pasar uang tetap terjaga, dengan volume transaksi harian yang tidak menunjukkan anomali berarti.

Proyeksi dan Rekomendasi Strategis

Melihat ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada tiga faktor utama: kejelasan suksesi Gubernur BI, arah kebijakan moneter global, dan ketahanan neraca pembayaran Indonesia. Data transaksi berjalan yang diperkirakan masih mencatat defisit di kisaran 1,2 hingga 1,5 persen dari PDB menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab oleh pemimpin baru BI.

Untuk investor dengan orientasi jangka menengah-panjang, tingkat pendapatan tetap Indonesia pada tenor 10 tahun yang kini menawarkan imbal hasil sekitar 7,1 persen tetap menarik dibandingkan dengan obligasi negara-negara maju. Volatilitas nilai tukar memang menambah risiko, namun strategi lindung nilai yang tepat dapat memitigasi potensi kerugian. Bagi pelaku usaha, diversifikasi pendanaan dan penyesuaian harga jual produk menjadi langkah adaptif yang tidak bisa ditunda lagi di tengah lingkungan suku bunga dan nilai tukar yang dinamis.

Kepergian Perry Warjiyo menutup satu babak penting dalam sejarah Bank Indonesia. Sekaligus membuka ujian baru bagi independensi dan ketangguhan institusi moneter negeri di mata pasar global. Apakah rupiah akan benar-benar menyentuh Rp18.000 per dolar AS atau justru berbalik menguat, jawabannya terletak pada seberapa cepat kepastian dapat dikembalikan ke meja perdagangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User