Sep 24, 2026
Bisnis

Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Nahkodai Bank Indonesia

Berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2026, cadangan devisa nasional tercatat sebesar USD 148,7 miliar, setara dengan 6,3 bulan impor—jauh di atas standar kecukupan internasional yang mensyar...

Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Nahkodai Bank Indonesia

Berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2026, cadangan devisa nasional tercatat sebesar USD 148,7 miliar, setara dengan 6,3 bulan impor—jauh di atas standar kecukupan internasional yang mensyaratkan tiga bulan. Inflasi inti bertengger di 2,48 persen secara year-on-year, masih dalam rentang target BI sebesar 2,5 plus minus satu persen. Rupiah ditutup menguat tipis ke level Rp15.620 per dolar AS pada perdagangan kemarin. Di tengah lanskap makro yang relatif terjaga inilah kabar mengejutkan datang dari kompleks perkantoran Bank Indonesia di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Perry Warjiyo, Gubernur BI yang telah menjabat sejak 2018, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dalam konferensi pers yang digelar siang hari. Sosok yang selama ini identik dengan kebijakan moneter ketat dan stabilitas nilai tukar itu menyatakan mundur dari jabatannya, dan tongkat estafet kepemimpinan bank sentral diserahkan kepada Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti.

Warisan Perry Warjiyo dalam Angka: Stabilitas di Atas Segalanya

Perry Warjiyo meninggalkan bank sentral setelah hampir delapan tahun menjabat, sebuah periode yang diwarnai oleh gejolak global luar biasa: mulai dari perang dagang AS-Tiongkok, pandemi COVID-19 yang melumpuhkan ekonomi dunia, hingga agresivitas The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 525 basis poin dalam kurun 2022-2023. Di bawah komandonya, BI secara kumulatif menaikkan suku bunga kebijakan hingga 250 basis poin ke level 6,00 persen pada puncaknya di akhir 2023, sebelum kemudian secara bertahap melonggarkan ke 5,50 persen pada awal 2026 seiring meredanya tekanan inflasi impor. Kebijakan tersebut kerap menuai kritik dari sektor riil yang mendambakan suku bunga lebih rendah, namun tak terbantahkan berhasil menjaga depresiasi rupiah tetap terkendali dibandingkan mata uang emerging market lainnya. Selama era kepemimpinannya, rupiah mencatat volatilitas rata-rata 3,2 persen, lebih rendah dibandingkan peso Filipina yang mencatat volatilitas 4,1 persen maupun rupee India di kisaran 3,8 persen. Perry juga meninggalkan warisan digitalisasi sistem pembayaran nasional yang masif, termasuk implementasi QRIS yang kini telah digunakan oleh lebih dari 42 juta merchant di seluruh Indonesia.

Transisi di Tengah Ketidakpastian: Dua Sisi yang Perlu Dicermati

Di satu sisi, pengangkatan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI menjanjikan kontinuitas kebijakan. Sebagai Deputi Gubernur Senior sejak 2019, Destry merupakan figur yang telah terlibat langsung dalam setiap pengambilan keputusan strategis di Rapat Dewan Gubernur. Latar belakangnya sebagai ekonom lulusan Universitas Indonesia dengan pengalaman panjang di Kementerian Keuangan dan BI menjadikannya kandidat paling memahami arsitektur kebijakan moneter nasional. Pelaku pasar juga mengenalnya sebagai komunikator andal dengan pendekatan yang lebih luwes dalam menyampaikan sinyal kebijakan—sesuatu yang diharapkan dapat meredakan volatilitas ekspektasi pasar. Di sisi lain, momentum pengunduran diri Perry yang terbilang mendadak berpotensi memicu ketidakpastian jangka pendek. Investor asing, yang saat ini memegang sekitar 14,7 persen dari total Surat Berharga Negara yang dapat diperdagangkan, cenderung sensitif terhadap perubahan kepemimpinan di bank sentral. Sentimen risk-off dapat memicu capital outflow temporer—aliran modal keluar dari pasar keuangan domestik—yang pada gilirannya memberi tekanan tambahan pada rupiah. Indikator Credit Default Swap Indonesia tenor lima tahun, yang mencerminkan persepsi risiko investor terhadap surat utang negara, perlu dipantau secara ketat dalam 48 jam ke depan sebagai barometer kepercayaan pasar.

Destry Damayanti dan Ekspektasi Pasar: Mampukah Menjaga Keseimbangan?

Destry mewarisi bank sentral dengan fundamental yang solid namun tidak bebas dari tantangan. Cadangan devisa yang tebal memberikan ruang intervensi yang cukup apabila terjadi gejolak nilai tukar. Namun, ruang fiskal pemerintah yang kian terbatas—defisit APBN 2026 diproyeksikan menyentuh 2,7 persen dari PDB—menempatkan ekspektasi besar pada BI untuk tetap akomodatif terhadap pembiayaan pembangunan tanpa mengorbankan stabilitas harga. Rasio utang terhadap PDB Indonesia memang masih relatif rendah di kisaran 39 persen, namun beban pembayaran bunga utang yang meningkat dalam tiga tahun terakhir menjadi perhatian serius. Di ranah eksternal, ketidakpastian arah kebijakan moneter global pasca-pemangkasan suku bunga oleh The Fed dan bank sentral utama lainnya menuntut kejelian navigasi. Destry perlu merumuskan bauran kebijakan yang tepat: menjaga daya tarik aset rupiah di mata investor global tanpa menghambat laju pemulihan konsumsi domestik dan investasi. Pasar akan mencermati secara saksama Rapat Dewan Gubernur pertama di bawah kepemimpinannya, khususnya sinyal mengenai arah suku bunga acuan dan stance makroprudensial ke depan. Proyeksi konsensus ekonom memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 5,50 persen setidaknya hingga akhir kuartal kedua, meskipun potensi pelonggaran pada semester dua tetap terbuka bergantung pada lintasan inflasi dan stabilitas rupiah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User