Jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) resmi mengalami pergantian di luar jadwal. Perry Warjiyo menyatakan mengundurkan diri dari posisi puncak bank sentral efektif per Sabtu, 25 Juli 2026. Keputusan mendadak ini langsung direspons oleh pemerintah dengan menunjuk Destry Damayanti, yang sebelumnya menjabat Deputi Gubernur Senior, sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur BI hingga proses pemilihan definitif oleh DPR rampung. Ketegangan di pasar keuangan langsung terasa, mengingat Warjiyo dikenal sebagai figur yang kerap tampil dengan retorika tegas dan kebijakan moneter yang cenderung pre-emptive.
Langkah pengunduran diri menjelang akhir periode kedua ini memunculkan spekulasi. Perry Warjiyo seharusnya mengakhiri masa jabatan pada September 2028 setelah diperpanjang melalui pelantikan Presiden Joko Widodo pada 2023. Sumber internal menyebutkan alasan pribadi sebagai dasar keputusan tersebut, namun pengamat menilai tekanan kebijakan moneter di tengah gejolak eksternal ikut berperan. Inflasi domestik yang meskipun terkendali di 2,8 persen secara tahunan per Juni 2026, tetap tidak cukup meredakan beban rupiah. Bank sentral harus menahan suku bunga acuan di level 6,25 persen sejak awal tahun untuk meredam capital outflow.
Dampak Langsung ke Pasar dan Nilai Tukar Rupiah
Begitu kabar pengunduran diri menyebar, rupiah langsung melemah ke posisi Rp15.980 per dolar AS pada pembukaan pasar Senin, dari penutupan sebelumnya di Rp15.850. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,3 persen pada sesi pertama seiring dengan kekhawatiran transisi kebijakan. Sentimen investor asing yang sebelumnya relatif stabil, berubah hati-hati. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar obligasi mencapai Rp3,2 triliun dalam dua hari terakhir.
“Pasar tidak menyukai ketidakpastian, apalagi menyangkut bank sentral yang selama ini menjadi jangkar kredibilitas,” ujar Ekonom Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky.
Di sisi lain, analis lain menilai bahwa efek kejut ini bersifat temporer. Dengan ditunjuknya Destry Damayanti sebagai Plt. Gubernur, kontinuitas kebijakan cukup terjaga. Destry dikenal sebagai arsitek di balik program transformasi digital sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan selama menjabat Deputi Gubernur. Pengalaman di Bank Indonesia dan penugasan internasional di Bank Dunia memperkuat ekspektasi bahwa ia akan melanjutkan bauran kebijakan (policy mix) yang seimbang antara stabilitas moneter dan pendorong pertumbuhan.
Rekam Jejak Destry dan Ekspektasi Kebijakan
Destry Damayanti adalah perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia dalam sejarah bank sentral. Sebelum menjabat Deputi Gubernur Senior, ia pernah menjadi Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter dan sebagai Executive Director IMF. Selama pandemi 2020-2021, Destry memimpin tim burden sharing yang merancang pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana dengan nilai mencapai Rp612 triliun. Kebijakan itu diakui sebagai langkah krusial yang menjaga defisit fiskal di tengah tekanan resesi.
Sejumlah pelaku pasar memperkirakan bahwa di bawah kepemimpinannya, BI tidak akan terburu-buru memangkas BI-Rate sebelum The Fed benar-benar melonggarkan kebijakan. Proyeksi suku bunga acuan AS diperkirakan baru turun pada kuartal IV-2026, sehingga ruang penurunan BI-Rate masih sempit. Namun, Destry dinilai memiliki kemampuan komunikasi yang kuat untuk meredakan ekspektasi pasar. Direktur Treasury salah satu bank BUMN menggarisbawahi bahwa akseptabilitas Destry di kalangan investor asing cukup tinggi berkat jejaring global yang dimilikinya.
Krisis Kepercayaan atau Momentum Baru?
Salah satu risiko yang membayangi transisi ini adalah potensi intervensi politik. Perry Warjiyo beberapa kali bersitegang dengan sektor fiskal terkait mandat independensi BI, terutama pada tahun politik 2024. Mundurnya Warjiyo di tengah masa jabatan memunculkan pertanyaan apakah ada tekanan dari pusat kekuasaan. Namun, Istana melalui juru bicara menegaskan bahwa pengunduran diri murni keputusan pribadi dan Presiden menghormatinya.
“Gonjang-ganjing suksesi kepemimpinan di bank sentral bisa menjadi ujian serius bagi fondasi kredibilitas makro, apalagi jika penggantinya dipersepsikan sebagai kompromi politik,” ujar Kepala Riset Ekonomi Makro dan Pasar, David Sumual.
Di sisi lain, optimisme muncul dari sektor riil. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyambut positif Destry dengan harapan kebijakan makroprudensial yang lebih akomodatif bagi kredit perbankan. Rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan tercatat 2,3 persen per Mei 2026, relatif terkendali, namun pertumbuhan kredit baru mencapai 8,7 persen year-on-year, di bawah target BI 10-12 persen. Destry diharapkan mampu mengoptimalkan instrumen seperti Loan to Value (LTV) dan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mengerek penyaluran kredit tanpa menambah beban inflasi.
Kejelasan seputar siapa pengganti definitif akan menjadi perhatian utama. DPR dijadwalkan menggelar uji kelayakan dan kepatutan dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Selain Destry, nama Deputi Gubernur BI lainnya seperti Juda Agung dan Filianingsih Hendarta juga mencuat sebagai kandidat. Transisi yang mulus akan menjadi kunci menjaga independensi, sekaligus mengembalikan kepercayaan pasar bahwa Bank Indonesia tetap menjadi benteng terakhir stabilitas rupiah di tengah gejolak global yang belum usai.
Dengan mandat yang sekarang beralih, perhatian akan tertuju pada rapat dewan gubernur (RDG) BI bulan Agustus. Keputusan suku bunga dan pernyataan resmi akan menjadi sinyal pertama arah kebijakan baru. Investor menunggu apakah BI mempertahankan stance hawkish atau mulai memberikan sinyal dovish untuk melonggarkan moneter. Tensi geopolitik global, divergensi kebijakan bank sentral utama, serta konsistensi fiskal domestik akan membentuk lanskap yang dihadapi Destry Damayanti sebagai pemegang kendali sementara dan mungkin definitif di bank sentral.
Comments (0)