Perempuan Mantri BRI Hadirkan Inklusi Keuangan di Pegunungan Toraja
Di balik bentang alam Pegunungan Toraja Utara yang menjulang dan jalanan berliku tajam, tersimpan kisah tentang seorang perempuan yang meretas isolasi keuangan. Bukan dengan kemewahan teknologi kota, ...
Di balik bentang alam Pegunungan Toraja Utara yang menjulang dan jalanan berliku tajam, tersimpan kisah tentang seorang perempuan yang meretas isolasi keuangan. Bukan dengan kemewahan teknologi kota, melainkan dengan sepeda motor butut dan ransel penuh berkas, Elce Putri Bontong, seorang Mantri BRI, menapaki desa-desa terpencil untuk menghadirkan layanan perbankan yang selama ini hanya menjadi mimpi warga. Di tengah dominasi sektor informal dan keterbatasan infrastruktur, kehadirannya menjadi jembatan antara mimpi ekonomi rakyat kecil dan realitas pertumbuhan yang berkelanjutan.
Misi Menembus Keterasingan Finansial
Wilayah kerja Elce terbentang di kecamatan-kecamatan yang hanya bisa dijangkau setelah berjam-jam berkendara di atas jalan berbatu, bahkan kadang harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan gantung. Setiap pagi, ia memulai perjalanan dengan membawa perangkat electronic data capture (EDC) portabel dan tablet yang menjadi "kantor keliling"-nya. Di sana, belum banyak warga yang memiliki rekening bank. Transaksi sehari-hari masih didominasi uang tunai, sementara akses ke lembaga keuangan formal nyaris mustahil tanpa menempuh perjalanan jauh ke ibukota kabupaten. Kondisi ini menciptakan kesenjangan yang dalam: petani kopi dan cengkeh yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal kerap kesulitan mengakses modal usaha, sementara para pedagang kecil tidak memiliki tempat aman untuk menyimpan hasil penjualan. Elce hadir bukan sekadar sebagai petugas bank, melainkan sebagai katalisator perubahan. Ia menjemput bola, mendatangi rumah-rumah, lapak dagang, hingga kelompok tani, membuka rekening tabungan, memproses pengajuan kredit mikro, dan melayani setoran angsuran di tempat.
Tugas itu bukan tanpa risiko. Musim hujan kerap membuat jalan licin dan tanah longsor mengancam. Namun, Elce terus melaju. Baginya, setiap rekening yang terbuka adalah satu langkah keluarga keluar dari jerat rentenir yang selama ini membebani mereka dengan bunga mencekik. Ia mencatat, sejak memulai penugasannya di wilayah ini pada awal 2022, jumlah nasabah aktif di area binaannya tumbuh lebih dari tiga kali lipat, dari sekitar 200 menjadi lebih dari 650 rekening per akhir tahun lalu. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mikro pun melonjak tajam, dari rata-rata Rp300 juta per bulan di tahun pertama menjadi lebih dari Rp1,2 miliar per bulan pada kuartal pertama 2026. Angka ini menjadi bukti bahwa permintaan terhadap layanan keuangan di pelosok sangat besar, selama ada pihak yang bersedia hadir dan membangun kepercayaan.
Edukasi sebagai Fondasi Keberlanjutan
Elce memahami bahwa menyalurkan kredit tanpa bekal literasi keuangan hanya akan menciptakan lingkaran utang baru. Karena itu, ia mengemas setiap kunjungannya menjadi sesi edukasi. Di balai desa, di bawah pohon rindang, atau di teras rumah panggung, ia mengajarkan prinsip dasar pengelolaan uang: memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, menghitung kemampuan angsuran, dan memanfaatkan layanan BRILink—agen perbankan berbasis komunitas—untuk transaksi nontunai. Para ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya menyimpan uang di bawah bantal kini belajar menyisihkan pendapatan ke tabungan berjangka. Para petani yang terbiasa menjual hasil panen dengan sistem ijon mulai paham pentingnya menunda penjualan untuk menunggu harga lebih baik dengan dukungan kredit pascapanen.
Pendekatan edukatif ini membuahkan perubahan perilaku yang terukur. Seorang pemilik warung kelontong di Kecamatan Buntu Pepasan, misalnya, mengaku kini mampu membukukan pemasukan dan pengeluaran harian secara sederhana berkat pelatihan dari Elce. Setelah enam bulan, ia tidak lagi bergantung pada pinjaman berbunga tinggi untuk menambah stok barang, melainkan menggunakan kredit mikro BRI dengan cicilan yang sesuai arus kas usahanya. Peningkatan omzet sebesar 40 persen pun ia raih. Kisah serupa datang dari kelompok tani kopi yang berhasil membeli mesin pengupas berkat pinjaman kelompok yang dikelola secara transparan. Elce secara aktif memantau penggunaan dana, memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan benar-benar berdampak pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan.
Tantangan Medan dan Konektivitas
Tak semua berjalan mulus. Medan ekstrem menjadi ujian terberat. Beberapa dusun hanya bisa diakses dengan berjalan kaki selama dua jam setelah meninggalkan kendaraan di ujung jalan. Sinyal seluler yang tidak stabil juga sering menghambat proses verifikasi data dan transaksi digital. Untuk mengatasinya, Elce merancang jadwal kunjungan yang mengelompokkan desa-desa terdampak pada hari yang sama, serta membawa perangkat penguat sinyal portabel. Ia juga memberdayakan agen BRILink setempat sebagai kepanjangan tangan, sehingga warga tetap bisa menyetor tabungan, membayar cicilan, atau menarik uang tunai tanpa harus menunggu kunjungan rutinnya.
Dukungan BRI melalui program Mantri juga membekalinya dengan teknologi terkini: aplikasi yang mampu merekam data calon nasabah secara offline dan mengunggahnya begitu terhubung ke internet. Ini memangkas waktu pemrosesan dari semula satu minggu menjadi paling lama dua hari kerja. Kecepatan ini krusial bagi petani yang membutuhkan modal tepat waktu untuk membeli pupuk atau biaya panen. Hingga pertengahan 2026, Elce telah menginisiasi lebih dari sepuluh titik BRILink baru yang tersebar di desa-desa binaannya. Jumlah transaksi harian di tiap titik rata-rata mencapai 15 hingga 20 transaksi, mengindikasikan adopsi layanan digital yang menggembirakan.
Proyeksi dan Dampak Berganda
Keberhasilan Elce dalam mengintegrasikan layanan keuangan dan edukasi menuai apresiasi dari berbagai pihak. Pemerintah daerah setempat mencatat, desa-desa yang menjadi wilayah binaannya mengalami penurunan angka kemiskinan hingga 2,8 persen poin dalam dua tahun terakhir, lebih tinggi dari rata-rata kabupaten. Akses perbankan juga berkontribusi pada peningkatan penerimaan pajak daerah melalui formalisasi usaha kecil. Para pelaku UMKM yang sebelumnya tidak tercatat kini memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan laporan keuangan sederhana sebagai syarat pengajuan kredit.
Dari sisi inklusi keuangan, data Bank Indonesia menunjukkan bahwa indeks inklusi keuangan di Toraja Utara naik dari 62 persen pada 2022 menjadi 74 persen pada 2025. Meski kontribusi Elce hanyalah bagian kecil dari keseluruhan ekosistem, pola kerja yang ia jalankan—mendekati, mendidik, dan mendampingi—menjadi cetak biru perluasan akses perbankan di daerah tertinggal. BRI pun berencana mereplikasi model ini dengan menambah jumlah Mantri di wilayah pegunungan Sulawesi Selatan sebanyak 20 persen pada tahun depan.
Menatap ke depan, Elce bercita-cita membawa layanan perbankan digital penuh ke seluruh pelosok Toraja Utara. Ia sedang menguji coba penggunaan dompet digital berbasis QRIS di kalangan pedagang pasar tradisional, bekerja sama dengan pemerintah desa untuk menyediakan pelatihan literasi digital. "Transformasi terbesar bukan pada teknologinya, tetapi pada pola pikir masyarakat bahwa mereka layak dan mampu mengakses layanan keuangan formal," ujarnya dalam sebuah kesempatan. Di tengah gempuran modernisasi, kisah Elce menjadi pengingat bahwa inklusi sejati selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang berani menembus batas geografis dan kultural, membawa serta harapan akan kemandirian ekonomi.
Comments (0)