Oct 08, 2026
Bisnis

Peredaran Uang Primer Indonesia Tumbuh Melandai, September Rp2.353,1 T

Berdasarkan rilis makro Bank Indonesia terbaru, posisi peredaran uang primer (M0) pada September 2026 tercatat sebesar Rp2.353,1 triliun, dengan laju pertumbuhan yang melandai dibandingkan bulan-bulan...

Peredaran Uang Primer Indonesia Tumbuh Melandai, September Rp2.353,1 T

Berdasarkan rilis makro Bank Indonesia terbaru, posisi peredaran uang primer (M0) pada September 2026 tercatat sebesar Rp2.353,1 triliun, dengan laju pertumbuhan yang melandai dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. M0, yang juga dikenal sebagai base money, merupakan jumlah uang yang beredar di tangan publik ditambah giro bank pada bank sentral. Sederhananya, inilah 'akar' dari seluruh uang di ekonomi: setiap rupiah kertas di dompet Anda dan setiap saldo giro di kasir bank pada akhirnya bersumber dari stok ini. Ketika pertumbuhannya menyusut, sinyal yang terbaca adalah iklim likuiditas di sistem keuangan mulai mengetat.

Penurunan laju tersebut tidak muncul dalam ruang hampa. Sepanjang kuartal ketiga, otoritas moneter terlihat konsisten menahan laju injeksi uang baru ke pasar, sejalan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam tekanan inflasi jasa yang masih mengilir. Angka Rp2.353,1 triliun itu perlu dilihat dalam konteks tren yang lebih panjang: posisi nominal M0 masih lebih tinggi dibanding level yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu, namun proyeksi laju year-on-year menunjukkan perlambatan berturut-turut selama beberapa bulan terakhir.

Di Satu Sisi: Normalisasi Likuiditas yang Terkendali

Para ekonom yang memandang positif menilai melandainya M0 justru mencerminkan disiplin kebijakan moneter. Setelah bertahun-tahun arus dana murah melimpah, bank sentral kini bergerak mengembalikan kondisi ke tingkat yang lebih normal. Likuiditas berlebih—yaitu uang terlalu mudah diakses—bisa memicu gelembung aset ketika dana murah itu lari ke pasar saham atau properti, bukan ke sektor riil. Dengan menahan laju peredaran uang primer, BI memberi ruang agar nilai tukar rupiah tidak tertekan oleh gap suku bunga yang terlalu lebar dibanding pasar AS.

Pro ini juga menyoroti kualitas pertumbuhan. Ekonomi yang tumbuh ditopang konsumsi berbasis utang berisiko rapuh. Ketika M0 melandai, bank komersial cenderung lebih selektif menyalurkan kredit, dan selektivitas itu pada gilirannya mengarahkan modal ke debitur dengan fundamental lebih sehat. Rasio pembiayaan bermasalah (NPL) secara historis menurun ketika siklus kredit lebih ketat. Dari sudut pandang tersebut, pengetatan likuiditas adalah obat pahit yang mencegah ketidakseimbangan makro di kemudian hari.

Sikap bank sentral yang menahan laju uang primer menunjukkan bahwa kestabilan makro diprioritaskan di atas euforia pertumbuhan jangka pendek.

Di Sisi Lain: Risiko Perlambatan Ekonomi Riil

Kontra argumen muncul dari kalangan yang khawatir pengetatan terlalu cepat. Ketika peredaran uang primer tumbuh melandai, biaya dana perbankan berpotensi ikut mengeras. Ujungnya, UMKM dan rumah tangga kelas menengah menghadapi bunga kredit yang lebih tinggi, sementara daya beli belum sepenuhnya pulih. Proyeksi pertumbuhan kredit konsumsi pada kuartal berikutnya bisa terkoreksi bila kurva imbal hasil obligasi naik. Indeks kepercayaan konsumen yang sempat menguat dapat mengendur jika sentimen pasar berubah negatif.

Aspek kedua yang perlu diwaspadai adalah interaksi dengan aliran dana asing. Sinyal capital outflow—keluar modal asing dari pasar domestik—kerap berjalan seiring dengan suku bunga domestik yang tertahan. Jika pasar menafsirkan melandainya M0 sebagai indikasi permintaan domestik melemah, tekanan jual pada aset rupiah bisa meningkat. Dalam situasi itu, valuasi indeks saham yang selama ini menarik bagi investor asing berpotensi dikoreksi, dan likuiditas di pasar sekunder bisa menipis pada saat-saat tertentu.

Kritik lain menyangkut koordinasi fiskal-moneter. Program belanja pemerintah yang padat pada akhir tahun biasanya menopang uang beredar; jika di saat yang sama bank sentral menahan M0, efek stimulus fiskal bisa tergerus. Akibatnya, multiplier effect dari belanja negara tidak sepenuhnya terasa di lapangan. Inilah dilema klasik: menjaga harga (inflasi) tetap rendah tanpa mengorbankan output.

Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan

Ke depan, pasar akan menanti rilis data bulan berikutnya untuk memastikan apakah Rp2.353,1 triliun tersebut merupakan titik terendah laju pertumbuhan, atau baru permulaan dari siklus pengetatan yang lebih dalam. Konsensus analis memperkirakan M0 akan bergerak stabil dalam kisaran sempit hingga akhir kuartal, dengan proyeksi pertumbuhan year-on-year bertahan di kisaran satu digit rendah. Angka-angka ini akan menjadi penentu arah portofolio institusi dalam beberapa pekan ke depan.

Secara keseluruhan, tersisa dua bacaan yang sama-sama valid. Pro: pengetatan ini menandakan bank sentral serius menjaga fundamental makro dan mencegah risiko sistemik. Kontra: jika berlarut-larut tanpa ditopang kebijakan fiskal yang tepat sasaran, perlambatan uang beredar bisa merambat ke sektor riil dan menekan investasi. Yang jelas, angka M0 bukan sekadar statistik teknis—ia adalah cerminan dari keputusan triliunan rupiah yang mengalir, atau justru tertahan, dalam perekonomian. Perpaduan antara kebijakan yang disiplin dan komunikasi yang transparan akan menentukan apakah melandainya peredaran uang primer ini berujung pada stabilisasi yang sehat, atau justru memperlambat mesin pertumbuhan Indonesia secara lebih luas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User