Pengunduran Diri Perry Warjiyo: Pasar Tetap Tenang, Destry Damayanti Diyakini Jaga Stabilitas
Pasar keuangan domestik menunjukkan ketenangan luar biasa pasca pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang diumumkan secara mendadak pada Rabu (12/11/2025). Data perdagangan menu...
Pasar keuangan domestik menunjukkan ketenangan luar biasa pasca pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang diumumkan secara mendadak pada Rabu (12/11/2025). Data perdagangan menunjukkan rupiah hanya terdepresiasi 0,18% ke posisi Rp15.650 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,42% di level 7.212. Kondisi ini berkebalikan dengan situasi saat mundurnya Gubernur BI sebelumnya pada 2003 yang memicu pelemahan rupiah hingga 2,3% dalam sehari, menandakan kematangan pasar yang jauh lebih baik. Analis menilai respons ini menegaskan kepercayaan pasar terhadap suksesi kepemimpinan di bank sentral, di mana Destry Damayanti—Deputi Gubernur Senior—dijagokan untuk meneruskan tongkat estafet kebijakan moneter.
Keyakinan Pasar pada Destry Damayanti
Sosok Destry Damayanti bukanlah pendatang baru di pusaran stabilitas sistem keuangan. Sebelum menjabat Deputi Gubernur Senior BI sejak 2020, ia merupakan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan pernah duduk di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Pengalaman ini menjadi alasan utama minimnya volatilitas. “Destry memiliki rekam jejak kuat dalam komunikasi kebijakan dan manajemen krisis, sehingga pasar tidak panik,” kata Dr. Andi Prasetyo, ekonom Universitas Gadjah Mada. Volume transaksi obligasi negara seri FR0095 justru melonjak 12,7% di atas rata-rata harian, menandakan investor institusi masih aktif mengoleksi surat utang. Ia juga dikenal sebagai arsitek di balik penguatan bauran kebijakan makroprudensial yang menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan di level 2,8%, salah satu terendah di kawasan.
Dampak Minimal pada Sektor Riil
Kekhawatiran bahwa mundurnya Perry akan mengganggu aktivitas dunia usaha ternyata tidak terbukti. Survei Konsumen BI menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2025 di posisi 126,4, hanya turun 0,7 poin dari bulan sebelumnya. Indeks Penjualan Ritel tumbuh 4,2% year-on-year, didorong oleh ekspansi kredit perbankan sebesar 10,1%. “Ini bukti bahwa pemilik usaha melihat arah kebijakan makro masih jelas dan stabil,” ujar Bhima Yudhistira dari INDEF. Stabilitas sektor riil ini juga didukung oleh suku bunga kredit yang tetap kompetitif di kisaran 9,5–10,5%, sejalan dengan stance moneter yang akomodatif namun terukur.
Tantangan Eksternal dan Cadangan Devisa
Di sisi lain, Destry dihadapkan pada risiko capital outflow seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada kuartal I/2026. Namun data BI menunjukkan kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) hanya 14,8%, jauh di bawah level 34% saat taper tantrum 2013. Cadangan devisa per akhir Oktober mencapai $138,2 miliar, cukup untuk membiayai 7,2 bulan impor. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) perbankan stabil di 27,5%, di atas ambang batas minimum, sehingga bank sentral memiliki ruang likuiditas yang lega untuk meredam gejolak.
Proyeksi Nilai Tukar dan Inflasi
Para analis memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang sempit Rp15.500–Rp15.800 per dolar AS hingga akhir tahun, ditopang oleh aliran masuk modal portofolio yang stabil. Inflasi indeks harga konsumen diperkirakan akan tetap berada dalam sasaran 3,0±1%, sejalan dengan kebijakan moneter yang akomodatif namun pruden. “Kami tidak melihat alasan untuk mengubah stance secara dramatis. Destry cukup mempertahankan komunikasi forward guidance yang jelas,” kata Prasetyo. BI diperkirakan akan tetap menggunakan intervensi ganda di pasar valas dan obligasi jika terjadi tekanan.
Secara fundamental, proyeksi inflasi tetap terkendali di kisaran 3,2% yoy hingga Oktober, suku bunga acuan diperkirakan bertahan di 6,00%, dan pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai 5,2% pada 2025. Dengan demikian, transisi kepemimpinan di Bank Indonesia tidak hanya tanpa guncangan, melainkan menjadi momen pembuktian kekuatan institusi. Destry Damayanti tinggal menegaskan kontinuitas bauran kebijakan: pengendalian inflasi, stabilisasi nilai tukar, dan pendalaman pasar keuangan.
Comments (0)