Oct 11, 2026
Bisnis

Pendidikan Kini Jadi Prioritas Warisan Setara Harta di RI

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari berbagai lembaga riset keuangan dan kependudukan per awal 2025, terjadi pergeseran menarik dalam cara masyarakat Indonesia memandang masa depan generasi pen...

Pendidikan Kini Jadi Prioritas Warisan Setara Harta di RI

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari berbagai lembaga riset keuangan dan kependudukan per awal 2025, terjadi pergeseran menarik dalam cara masyarakat Indonesia memandang masa depan generasi penerus. Jika selama ini warisan identik dengan tanah, rumah, atau deposito, kini kesempatan menempuh pendidikan berkualitas menempati posisi yang hampir setara dengan kepemilikan aset finansial. Survei nasional terbaru menunjukkan sekitar 68 persen responden menempatkan biaya pendidikan anak sebagai prioritas alokasi keuangan utama, hanya terpaut tipis dari alokasi untuk warisan properti yang berada di kisaran 71 persen.

Pergeseran Tren Alokasi Keuangan Keluarga

Fenomena ini menandai perubahan fundamental dalam pola pikir rumah tangga Indonesia. Jika pada dekade 2000-an, tabungan keluarga cenderung diarahkan pada aset fisik seperti emas atau properti, kini instrumen keuangan jangka panjang untuk pendidikan mulai mendominasi portofolio keluarga kelas menengah. Data menunjukkan kenaikan signifikan pada kepemilikan produk asuransi pendidikan dan tabungan berjangka, dengan pertumbuhan year-on-year mencapai 12,4 persen sepanjang periode 2023-2024.

Di satu sisi, tren ini mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya modal manusia sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Investasi pada pendidikan dinilai memiliki rasio pengembalian sosial yang jauh lebih tinggi dibandingkan aset pasif. Sebuah kajian akademis memperkirakan setiap tambahan satu tahun masa pendidikan formal berkorelasi dengan kenaikan produktivitas individu hingga 8-10 persen, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan pendapatan nasional.

Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa beban biaya pendidikan yang terus merangkak naik justru menjadi sumber tekanan likuiditas bagi rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah. Inflasi biaya pendidikan tercatat konsisten berada di atas inflasi umum, dengan kenaikan tahunan rata-rata mencapai 10-15 persen untuk jenjang perguruan tinggi swasta favorit di kota-kota besar.

Pro dan Kontra Investasi Pendidikan

Dari kacamata Pro, orientasi pada pendidikan sebagai bentuk warisan memiliki landasan rasional yang kuat. Aset finansial dan properti rentan terhadap fluktuasi sentimen pasar, depresiasi nilai, serta risiko kebijakan. Sebaliknya, kemampuan intelektual dan keterampilan yang terasah melalui pendidikan bersifat portable dan tidak dapat digadaikan atau disita. Dalam jangka panjang, generasi yang terdidik lebih adaptif terhadap disrupsi teknologi dan perubahan struktur ekonomi global.

Argumen Kontra menyoroti adanya risiko ketimpangan akses. Ketika pendidikan diposisikan sebagai "warisan", keluarga dengan kapasitas finansial terbatas berpotensi semakin tertinggal, menciptakan lingkaran ketidaksetaraan antargenerasi. Selain itu, tingginya biaya pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas hasil. Sejumlah pengamat menilai perlunya intervensi negara agar kesempatan pendidikan tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan ekonomi orang tua.

"Masyarakat mulai menyadari bahwa warisan paling tahan lama bukanlah aset yang bisa habis dikonsumsi, melainkan kapasitas berpikir dan beradaptasi yang hanya bisa diperoleh melalui pendidikan," ujar seorang ekonom senior dalam sebuah forum diskusi kebijakan publik.

Implikasi pada Fundamental Ekonomi Nasional

Jika tren ini berlanjut, dampaknya terhadap perekonomian makro cukup signifikan. Peningkatan alokasi dana ke sektor pendidikan berpotensi mendorong pertumbuhan industri jasa pendidikan, termasuk lembaga kursus, platform pembelajaran digital, dan penyedia beasiswa swasta. Nilai pasar sektor edutech dalam negeri diproyeksikan menembus Rp 45 triliun pada 2026, tumbuh dari estimasi Rp 30 triliun pada 2024.

Selain itu, pergeseran ini turut mempengaruhi perilaku konsumsi dan tabungan agregat. Rumah tangga cenderung lebih disiplin dalam mengelola likuiditas karena memiliki target finansial jangka panjang yang jelas. Di sisi lain, sektor properti dan perhiasan mungkin mengalami perlambatan permintaan sebagai instrumen warisan, meski tidak serta-merta menurun secara absolut.

Dari perspektif valuasi ekonomi secara keseluruhan, pengalihan orientasi warisan dari aset fisik ke modal manusia adalah pertanda positif bagi kualitas pertumbuhan. Namun, tanpa dukungan akses yang merata, keberlanjutan tren ini akan sangat bergantung pada sejauh mana negara mampu menyediakan ekosistem pendidikan inklusif. Pada akhirnya, warisan terbaik bagi generasi mendatang adalah kombinasi antara stabilitas finansial dan kemampuan intelektual yang seimbang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User