Oct 10, 2026
Bisnis

Pemerintah Waspadai El Nino Ancam Harga Pangan Volatile

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per Oktober 2026, kelompok harga bergejolak atau volatile food kembali menjadi sorotan utama dalam pengelolaan inflasi nasional. Pemerin...

Pemerintah Waspadai El Nino Ancam Harga Pangan Volatile

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per Oktober 2026, kelompok harga bergejolak atau volatile food kembali menjadi sorotan utama dalam pengelolaan inflasi nasional. Pemerintah secara eksplisit menyatakan kewaspadaan tinggi terhadap potensi tekanan harga pada komoditas pangan strategis, terutama cabai dan daging ayam, seiring dengan proyeksi kemunculan fenomena iklim El Nino yang membawa kekeringan panjang di sejumlah wilayah sentra produksi.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam sebuah forum ekonomi baru-baru ini. Ia menekankan bahwa kelompok volatile food—komoditas pangan yang harganya cenderung fluktuatif karena dipengaruhi musim, pasokan, dan gangguan distribusi—perlu mendapat perhatian khusus. "Volatile food perlu kita waspadai karena kita akan menuju El Nino, kekeringan sehingga nanti dampaknya yang di pangan akan kelihatan," ujarnya.

Peringatan ini bukan tanpa dasar. Secara historis, El Nino tahun 2015 dan 2023 memberikan pelajaran berharga bagi perekonomian Indonesia. Pada 2015, inflasi volatile food sempat menembus angka 6,4 persen secara year-on-year, sementara pada periode 2023, kenaikan harga beras dan cabai menjadi pemicu utama lonjakan inflasi pangan nasional.

Di Satu Sisi: Risiko El Nino dan Tekanan Inflasi

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia. Dampaknya terhadap sektor pertanian sangat signifikan: gagal panen, penurunan produktivitas, dan gangguan pola tanam. Untuk komoditas cabai merah, yang sebagian besar ditanam di lahan kering, kekeringan dapat menurunkan hasil produksi hingga 20–30 persen. Sementara daging ayam, meskipun tidak langsung terdampak cuaca, mengalami kenaikan biaya produksi karena harga jagung sebagai pakan ternak ikut melonjak akibat gagal panen.

Menteri Keuangan menyoroti bahwa tekanan ini akan terlihat pada data inflasi beberapa bulan ke depan. Jika tidak diantisipasi, inflasi volatile food dapat mendorong inflasi umum naik di atas target sasaran Bank Indonesia yang berada di kisaran 2,5 ± 1 persen. Hal ini berpotensi menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah, yang porsi belanjanya didominasi bahan pangan.

Dari sisi fiskal, pemerintah telah mengalokasikan anggaran ketahanan pangan dalam APBN 2026. Namun, defisit anggaran yang mencapai Rp319 triliun atau sekitar 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) membuat ruang fiskal untuk intervensi harga terbatas. Program bantuan sosial dan operasi pasar menjadi tumpuan utama untuk meredam gejolak harga di tingkat konsumen.

Di Sisi Lain: Fundamental Ekonomi Masih Terjaga

Meskipun ancaman El Nino nyata, sejumlah indikator fundamental ekonomi menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Cadangan devisa Indonesia per akhir September 2026 tercatat USD 149,2 miliar, setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor. Inflasi inti—yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi—masih stabil di kisaran 2,1 persen year-on-year, mencerminkan tekanan permintaan yang terkendali.

Selain itu, nilai tukar rupiah relatif stabil di level Rp15.850 per dolar AS, meski masih dibayangi risiko capital outflow akibat kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat. Otoritas moneter juga memiliki instrumen untuk menjaga likuiditas pasar dan stabilitas harga pangan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah.

Beberapa ekonom menilai bahwa dampak El Nino tahun ini tidak akan seburuk 2015 karena infrastruktur irigasi dan sistem peringatan dini telah diperbaiki. Program food estate di beberapa daerah juga diharapkan mampu menjadi penyangga pasokan. "Kami melihat proyeksi inflasi tetap dalam batas aman, asalkan intervensi dilakukan tepat waktu," ujar seorang analis di sebuah lembaga riset ekonomi.

"Volatile food perlu kita waspadai karena kita akan menuju El Nino, kekeringan sehingga nanti dampaknya yang di pangan akan kelihatan." — Suahasil Nazara, Menteri Keuangan RI

Proyeksi dan Langkah Antisipatif

Pemerintah memproyeksikan inflasi volatile food tahun 2026 berada di kisaran 4,5–5,5 persen, lebih tinggi dari capaian tahun sebelumnya yang sebesar 3,8 persen. Untuk mengantisipasi lonjakan, sejumlah langkah tengah disiapkan: operasi pasar murah, penyaluran cadangan pangan pemerintah, serta percepatan distribusi dari daerah surplus ke daerah defisit.

Di sisi lain, Bank Indonesia diharapkan menjaga stabilitas nilai tukar dan mengelola ekspektasi inflasi melalui komunikasi kebijakan yang terukur. Koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan otoritas moneter menjadi kunci agar sentimen pasar tetap terjaga dan tidak memicu spekulasi harga.

Bagi masyarakat, pemahaman akan sifat musiman volatile food penting agar tidak panic buying. Fluktuasi harga cabai dan ayam menjelang akhir tahun memang lazim, namun dengan data dan kebijakan yang tepat, dampaknya terhadap perekonomian nasional dapat diminimalkan. Tren jangka panjang tetap menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup resilien menghadapi guncangan eksternal, termasuk fenomena iklim yang datang secara periodik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User