Pembiayaan Pay Later Melonjak 57,02 Persen, Begini Analisis Dua Sisinya

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026, outstanding pembiayaan buy now pay later (BNPL) — atau yang populer disebut pay later — di Indonesia mengalami kenaikan 57,02% year-on-...

Aug 09, 2026 - 11:26
0 0
Pembiayaan Pay Later Melonjak 57,02 Persen, Begini Analisis Dua Sisinya

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026, outstanding pembiayaan buy now pay later (BNPL) — atau yang populer disebut pay later — di Indonesia mengalami kenaikan 57,02% year-on-year (yoy). Bagi pembaca awam, BNPL adalah skema pembiayaan yang memungkinkan konsumen membeli barang sekarang dan membayarnya kemudian dalam beberapa kali cicilan, umumnya tanpa jaminan dan dengan proses persetujuan yang sangat cepat. Angka pertumbuhan ini menegaskan tren pergeseran perilaku belanja masyarakat yang semakin mengandalkan cicilan digital, baik di platform e-commerce maupun gerai ritel fisik.

Sebagai pembanding, laju pertumbuhan tersebut jauh melampaui kredit perbankan konvensional yang dalam beberapa tahun terakhir hanya tumbuh satu digit. Nilai outstanding pembiayaan pay later diperkirakan telah menembus kisaran Rp 8 triliun hingga Rp 9 triliun, sebuah lonjakan signifikan dibandingkan posisi tiga tahun lalu yang masih di bawah Rp 5 triliun. Tren ini menjadikan segmen BNPL sebagai salah satu kantong pertumbuhan paling agresif di industri jasa keuangan Tanah Air.

Digitalisasi dan Perubahan Perilaku Konsumen

Ada sejumlah faktor fundamental yang mendorong akselerasi adopsi pay later. Pertama, penetrasi telepon pintar dan transaksi dagang-el yang terus meluas hingga ke kota lapis kedua dan ketiga. Integrasi fitur pay later langsung di laman pembayaran membuat gesekan (friction) transaksi nyaris hilang. Kedua, demografi: kelompok usia produktif 25 hingga 40 tahun menjadi pengguna terbesar, dan segmen ini cenderung lebih terbuka terhadap produk pembiayaan berbasis aplikasi ketimbang kartu kredit konvensional.

Ketiga, kondisi makro yang relatif mendukung. Ruang pelonggaran suku bunga acuan dalam setahun terakhir menekan biaya dana bagi perusahaan pembiayaan dan fintech, sehingga likuiditas untuk menyalurkan cicilan konsumtif tetap melimpah. Sentimen pasar terhadap industri ini juga masih positif, tercermin dari masuknya pemain baru serta ekspansi portofolio pembiayaan multiguna berbasis teknologi oleh multifinance yang telah lama beroperasi.

Di Satu Sisi: Inklusi Keuangan dan Penopang Konsumsi

Di satu sisi, pertumbuhan BNPL dapat dibaca sebagai kabar baik. Skema ini membuka akses pembiayaan bagi masyarakat yang selama ini tidak terjangkau kartu kredit karena keterbatasan riwayat kredit atau penghasilan tidak tetap. Data asosiasi industri menunjukkan jumlah rekening pembiayaan pay later telah menembus lebih dari 20 juta akun, sebuah indikator inklusi keuangan yang nyata.

Dari sisi makro, konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 54% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Ketika daya beli masyarakat kelas menengah tertekan — data BPS mencatat populasi kelas menengah menyusut dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024 — fasilitas cicilan berfungsi sebagai penyangga agar roda konsumsi tetap berputar. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi merchant, keberadaan pay later terbukti mengerek nilai transaksi dan perputaran usaha.

Pertumbuhan pay later di atas 50 persen mencerminkan dua hal sekaligus: kebutuhan likuiditas rumah tangga yang besar, dan keberhasilan industri keuangan digital menjangkau segmen yang selama ini tidak terlayani perbankan, ujar analisis ekonom senior Beritadua.

Di Sisi Lain: Risiko Konsumtif dan Kualitas Pembiayaan

Di sisi lain, lonjakan ini menyimpan risiko yang tidak bisa diabaikan. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) di segmen pay later diperkirakan berada di kisaran 2% hingga 3%, dan berpotensi merangkak naik seiring ekspansi agresif ke segmen berisiko tinggi. Ketika pertumbuhan penyaluran jauh melampaui pertumbuhan pendapatan riil masyarakat, ruang untuk gagal bayar ikut melebar.

Kekhawatiran lain bersifat struktural. Survei OJK menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat masih tertinggal jauh dari tingkat inklusinya — artinya, banyak konsumen menggunakan produk keuangan tanpa memahami sepenuhnya bunga, denda, dan konsekuensi tunggakan. Kemudahan satu klik berpotensi mendorong belanja impulsif untuk barang non-produktif, yang dalam jangka panjang menggerogoti kapasitas menabung rumah tangga. Fundamental konsumsi yang ditopang utang, bukan kenaikan pendapatan, bukanlah fondasi pertumbuhan ekonomi yang sehat.

Proyeksi: Tumbuh dengan Pengawasan Lebih Ketat

Ke depan, proyeksi sejumlah pengamat memperkirakan laju pertumbuhan BNPL akan moderat ke kisaran 30% hingga 40% yoy dalam dua tahun mendatang seiring membesarnya basis perhitungan. Regulator sendiri telah memperketat pagar: pengguna pay later wajib berusia minimal 18 tahun dan berpenghasilan sekurang-kurangnya Rp 3 juta per bulan, di samping kewajiban pengecekan kemampuan bayar melalui biro kredit.

Pada akhirnya, angka 57,02% ini adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi instrumen pendalaman pasar keuangan yang sehat apabila disertai literasi dan tata kelola yang baik, tetapi juga bisa menjadi akumulasi risiko sistemik apabila ekspansi hanya mengejar valuasi dan pangsa pasar. Bagi konsumen, prinsip dasar tetap berlaku: gunakan cicilan sesuai kemampuan bayar, bukan sekadar karena fasilitasnya tersedia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User