Pembekuan MPR-DPR Picu Koreksi IHSG dan Pelemahan Rupiah

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Mei 2025, fundamental perekonomian domestik sebelum guncangan politik tercatat dalam posisi yang terkendali dengan inflasi year-on-year di level 2,78 persen, ...

Aug 08, 2026 - 07:51
0 0
Pembekuan MPR-DPR Picu Koreksi IHSG dan Pelemahan Rupiah

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Mei 2025, fundamental perekonomian domestik sebelum guncangan politik tercatat dalam posisi yang terkendali dengan inflasi year-on-year di level 2,78 persen, suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo bertahan di 6,25 persen, dan cadangan devisa mencapai US$150,2 miliar. Namun, dinamika berubah drastis menyusul pengumuman Maklumat Presiden pada tengah malam yang membekukan fungsi legislatif MPR dan DPR. Keputusan tersebut memicu sentimen pasar yang sangat negatif pada perdagangan pagi berikutnya, menempatkan aset-aset domestik dalam tekanan likuiditas yang signifikan dan memaksa pelaku pasar mengevaluasi ulang proyeksi pertumbuhan serta valuasi portofolio mereka.

Reaksi Pasar Keuangan dan Ancaman Capital Outflow

Di satu sisi, respons investor asing terhadap ketidakpastian hukum dan politik yang mendadak terjadi sangat keras. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung mengalami penurunan tajam sebesar 4,12 persen ke level 6.580 pada pembukaan perdagangan, mencatatkan koreksi terdalam dalam 18 bulan terakhir. Rupiah ikut melemah signifikan di pasar spot, menyentuh Rp16.245 per dolar AS atau terdepresiasi 2,85 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Data transaksi menunjukkan capital outflow dari pasar saham domestik mencapai Rp14,7 triliun secara neto dalam dua hari perdagangan, didominasi oleh penjualan besar-besaran pada sektor keuangan dan infrastruktur. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak 47 basis poin ke 7,12 persen, mencerminkan risiko premi yang membesar akibat eksodus investor asing yang khawatir terhadap stabilitas kelembagaan.

Di sisi lain, sebagian pelaku pasar domestik menilai koreksi yang terjadi sebagai reaksi berlebihan yang tidak sejalan dengan fundamental ekonomi riil. Rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih terjaga di kisaran 39,4 persen, jauh di bawah batas prudensial 60 persen, sementara pertumbuhan kredit perbankan tetap ekspansif di 10,2 persen year-on-year. Beberapa manajer investasi justru memanfaatkan momentum penurunan untuk melakukan akumulasi selektif terhadap saham-saham dengan valuasi price-to-earnings (P/E ratio) yang turun dari rata-rata 15,8 kali menjadi 14,2 kali. Mereka berargumen bahwa likuiditas di perbankan domestik yang masih longgar, ditandai dengan rasio loan-to-deposit (LDR) di 84,3 persen, dapat berfungsi sebagai penyangga jika terjadi tekanan likuiditas lebih lanjut dari luar negeri.

"Kita sedang menyaksikan sentimen pasar yang didorong oleh faktor politik jangka pendek. Meski tren capital outflow mengkhawatirkan, posisi cadangan devisa dan rasio keuangan pemerintah masih memberikan ruang bagi otoritas untuk menstabilkan rupiah dan mempertahankan kepercayaan," ujar Kepala Ekonomi sebuah bank investasi domestik.

Dampak terhadap Likuiditas dan Proyeksi Fundamental Jangka Menengah

Di satu sisi, pembekuan lembaga legislatif membuka risiko pengurangan belanja modal pemerintah dan penundaan proyek-proyek infrastruktur yang memerlukan persetujuan anggaran. Indeks Kepercayaan Bisnis (IKB) yang sebelumnya berada di level 104,5 berpotensi mengalami penurunan ke zona pesimis di bawah 100 jika ketidakpastian berkepanjangan, mengingat sektor swasta akan menahan ekspansi investasi hingga arah kebijakan fiskal menjadi jelas. Proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua yang semula diperkirakan mencapai 5,1 persen year-on-year kini direvisi turun ke kisaran 4,6 persen oleh beberapa lembaga pemeringkat, dengan asumsi bahwa konsumsi rumah tangga akan ikut melambat seiring erosi kepercayaan konsumen.

Di sisi lain, terdapat pandangan bahpa konsolidasi kekuasaan politik secara teoretis dapat mempercepat implementasi kebijakan struktural yang selama ini terhambat oleh proses birokrasi legislatif. Jika eksekutif mampu menurunkan defisit anggaran melalui efisiensi belanja dan mendorong rasio pajak terhadap PDB yang saat ini stagnan di 10,1 persen menuju target 14 persen pada jangka menengah, maka valuasi aset domestik dapat mengalami rerating positif. Namun, skenario optimistis ini sangat bergantung pada jaminan bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia tetap independen dan tidak terintervensi oleh dinamika politik, serta bahwa aturan main dalam sektor riil tetap dapat diprediksi oleh pelaku usaha.

Sentimen Pasar dan Rekomposisi Portofolio di Tengah Volatilitas

Di satu sisi, tren pergeseran portofolio ke aset-aset safe haven seperti emas, dolar AS, dan surat berharga negara dengan tenor pendek semakin dominan. Harga emas domestik mengalami kenaikan 3,4 persen dalam seminggu ke level Rp1.485.000 per gram, sementara indeks dolar AS (DXY) menguat seiring permintaan terhadap greenback sebagai mata uang pengungsian. Dana pensiun dan asuransi mulai menurunkan eksposur mereka terhadap saham berisiko tinggi dan beralih ke instrumen pasar uang yang menawarkan imbal hasil lebih stabil di tengah volatilitas politik.

Di sisi lain, analis teknikal mencatat bahwa level support IHSG di 6.450 masih menunjukkan ketahanan dengan rasio buy-on-dips yang meningkat dari investor ritel melalui platform perdagangan elektronik. Volume transaksi harian justru melonjak 28 persen di atas rata-rata 20 hari, mengindikasikan bahwa sebagian pasar melihat valuasi saham-saham unggulan di sektor konsumen dan perbankan sudah masuk ke zona diskon menarik. Meski demikian, keberlanjutan arus masuk modal domestik tersebut akan sangat ditentukan oleh kejelasan komunikasi kebijakan dari pemerintah dan otoritas terkait dalam mengelola ekspektasi pasar serta mencegah eskalasi ketidakpastian hukum yang lebih dalam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User