Aug 25, 2026
Bisnis

Peluru di Pagi Takbir: Soekarno Target Penembakan Idul Adha 1962

Pagi 14 Mei 1962, Masjid Baiturrahim di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta bergema dengan lantunan takbir. Umat Islam bersiap menunaikan shalat Idul Adha bersama Presiden Soekarno yang bertindak seb...

Peluru di Pagi Takbir: Soekarno Target Penembakan Idul Adha 1962

Pagi 14 Mei 1962, Masjid Baiturrahim di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta bergema dengan lantunan takbir. Umat Islam bersiap menunaikan shalat Idul Adha bersama Presiden Soekarno yang bertindak sebagai imam. Lapangan masjid dipenuhi jamaah—pejabat negara, tamu undangan, dan masyarakat—berbaur dalam khidmatnya hari raya kurban. Namun, di antara ribuan tubuh yang khusyuk bersimpuh, seonggok niat jahat tengah menanti momen tepat. Saat presiden mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, serangkaian letusan mengguncang ruang ibadah itu. Lima orang tersungkur berlumuran darah. Sang proklamator, target sebenarnya, berdiri tanpa goresan.

Kronologi di Pagi Idul Adha

Menurut kesaksian para pengawal, peristiwa berlangsung cepat. Shalat baru saja dimulai ketika seorang pria dari barisan tengah tiba-tiba berdiri, menodongkan pistol, dan melepaskan tembakan ke arah Soekarno. Suara letusan yang beruntun—diduga tiga atau empat kali—membuat jamaah panik. Sejumlah orang melindungi presiden dengan tubuh mereka; akibatnya, lima jamaah mengalami luka tembak di bagian dada dan lengan. Korban segera dievakuasi ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, sementara para ajudan presiden langsung membekuk pelaku yang berusaha melarikan diri ke kerumunan.

Soekarno sendiri, menurut saksi mata, tetap tenang meski dikelilingi petugas. Doa takbir sempat terhenti, namun setelah situasi terkendali, presiden memutuskan melanjutkan shalat dengan pengamanan tambahan yang berjaga di sekelilingnya. Sikap itu kian memperkuat citra karismatik yang melekat padanya: pemimpin yang menolak gentar di hadapan ancaman maut.

Sosok Pelaku dan Motif di Baliknya

Pelaku diketahui bernama Saadon bin Muhammad Diah, seorang pria asal Sumatera Barat yang pernah terlibat dalam pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Saat ditangkap, ia mengaku bertindak atas dasar keyakinan bahwa Soekarno telah menyimpang dari ajaran Islam karena kebijakan yang dianggapnya sekuler. Pistol yang digunakannya—sebuah revolver kaliber kecil—didapat dari sisa-sisa jaringan DI/TII yang saat itu masih aktif di beberapa wilayah.

Namun, aparat intelijen menemukan benang merah yang lebih kompleks. Saadon diduga tidak bekerja sendiri. Interogasi intensif mengungkap kemungkinan adanya dalang yang memanfaatkan sisa-sisa sel pemberontak untuk melancarkan serangan. Meski begitu, hingga proses pengadilan militer yang digelar tertutup, tidak semua aktor intelektual berhasil diungkap. Saadon sendiri divonis hukuman mati dan dieksekusi tidak lama setelahnya.

Dampak: Pengamanan Presiden Diperketat

Percobaan pembunuhan itu menjadi tamparan keras bagi korps pengawal presiden. Sebelumnya, pengamanan terhadap Soekarno lebih bersifat informal dan kental dengan nuansa kekerabatan. Pasca-insiden, protokol keamanan direvolusi. Setiap kegiatan publik presiden kini harus melalui penyisiran lokasi, pemeriksaan seluruh tamu undangan, serta penempatan penembak runduk dan petugas berpakaian sipil di titik-titik strategis. Masjid Baiturrahim sendiri direnovasi dengan menambah pintu darurat dan akses terbatas bagi jamaah umum.

Langkah ini tidak hanya diterapkan pada rutinitas domestik, tetapi juga berdampak pada perjalanan luar negeri dan kunjungan kenegaraan. Pasukan pengawal presiden, yang kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Detasemen Kawal Pribadi, mendapat pelatihan khusus dari personel keamanan luar negeri. Soekarno, yang sadar bahwa dirinya adalah simbol negara yang rapuh di tengah pergolakan politik, menerima pengamanan ketat meskipun sempat merasa "terkekang".

Refleksi Sejarah: Ancaman terhadap Sang Proklamator

Penembakan saat Idul Adha 1962 bukanlah ancaman pertama atau terakhir bagi Soekarno. Sebelumnya, pada 1957, granat meledak di Sekolah Cikini saat presiden mengunjungi putranya; puluhan anak tewas dan Soekarno lolos tanpa cedera. Pola serangan menunjukkan bahwa di tengah popularitasnya di kalangan rakyat kecil, presiden dibenci oleh sejumlah kelompok separatis dan garis keras yang menentang visi nasionalismenya.

Peristiwa 1962 juga menjadi titik balik yang mengingatkan bahwa transisi politik Orde Lama yang penuh gejolak menyimpan potensi kekerasan. Meskipun upaya pembunuhan ini gagal, ia meninggalkan luka bagi para korban dan trauma kolektif bagi mereka yang menyaksikannya. Lima orang yang menjadi tameng manusia tanpa sengaja menyelamatkan seorang presiden, tetapi sekaligus menegaskan betapa mahalnya demokrasi dan kepemimpinan yang berani.

Hingga hari ini, insiden tersebut tetap menjadi pengingat: di balik khusyuknya ibadah, fragmen sejarah bisa berubah dalam sekejap oleh sebutir peluru. Untungnya, pagi itu, takdir masih berpihak pada sang proklamator.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User