Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 31 Desember 2024, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global. Produk Domestik Bruto (PDB) (nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam satu tahun) mengalami kenaikan sebesar 5,05% year-on-year, melampaui rata-rata negara berkembang di kawasan Asia Tenggara yang tercatat sebesar 4,70%. Namun, ketahanan ini tidak terlepas dari tekanan eksternal, seperti capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara) yang masih terjaga dalam batas wajar serta fluktuasi harga komoditas global. Di tengah tekanan tersebut, tren transisi menuju ekonomi berkelanjutan mulai membentuk fundamental (kondisi ekonomi dasar suatu negara atau sektor, bukan gejolak jangka pendek) baru bagi perekonomian Indonesia, khususnya pada sejumlah sektor strategis.
Perubahan Fundamental dan Sentimen Pasar
Di satu sisi, dorongan terhadap keberlanjutan (upaya untuk memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya) semakin menguat akibat perubahan sentimen pasar (sikap dan ekspektasi pelaku pasar terhadap suatu aset, sektor, atau kondisi ekonomi). Berdasarkan data OJK, nilai pembiayaan berkelanjutan di Indonesia telah mengalami kenaikan signifikan, mencapai Rp 1.037,8 triliun pada tahun 2024, atau naik 43,7% dibandingkan tahun 2021. Angka ini turut mendorong perbaikan valuasi (penilaian wajar terhadap suatu aset berdasarkan faktor ekonomi) terhadap emiten (perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek) yang memiliki praktik ramah lingkungan. Selain itu, indeks saham berbasis lingkungan di pasar domestik menunjukkan tren positif, yang pada periode yang sama mengalami kenaikan sebesar 12,4% dibandingkan indeks pasar secara keseluruhan.
Di sisi lain, akselerasi transisi ini tidak terlepas dari tantangan. Rasio (perbandingan antara dua angka yang digunakan untuk mengukur kondisi keuangan atau ekonomi) utang terhadap PDB Indonesia masih berada di level 38,7% per Desember 2024, yang tergolong terjaga. Namun, kebutuhan pembiayaan untuk proyek berkelanjutan diproyeksikan (diperkirakan berdasarkan data dan tren yang ada) membutuhkan investasi hingga USD 1,5 triliun hingga tahun 2030. Hal ini dapat membatasi likuiditas (kemampuan untuk mengubah aset menjadi uang tunai dengan cepat tanpa kehilangan nilai yang signifikan) dalam jangka pendek, terutama bagi korporasi yang masih dalam tahap restrukturisasi portofolio (kumpulan aset yang dimiliki oleh individu, perusahaan, atau lembaga) mereka. Tekanan tersebut dapat memicu capital outflow terbatas jika sentimen pasar berbalik akibat kenaikan suku bunga global.
Peluang pada Lima Sektor Strategis
Berdasarkan proyeksi dari berbagai lembaga internasional yang dikutip oleh Bank Indonesia, terdapat lima sektor yang berpotensi menjadi penggerak utama dalam transisi ini. Pertama, sektor energi. Dengan target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025 dan 29% pada tahun 2030, sektor ini membutuhkan investasi tahunan rata-rata sebesar USD 20 miliar. Di satu sisi, hal ini dapat membuka lapangan kerja hijau. Di sisi lain, ketergantungan terhadap batu bara yang masih menyumbang 40,5% terhadap pembangkitan listrik nasional perlu dikurangi secara bertahap untuk menjaga fundamental sektor kelistrikan.
Kedua, sektor pertanian. Berdasarkan data BPS, sektor ini menyumbang 12,5% terhadap PDB dan menyerap 28,6% tenaga kerja pada tahun 2024. Penerapan praktik pertanian berkelanjutan dapat meningkatkan produktivitas hingga 15% dalam jangka menengah, sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Namun, adopsi teknologi ramah lingkungan masih terbatas akibat tingginya biaya awal, yang dapat menekan rasio keuntungan petani kecil.
Ketiga, sektor transportasi. Transportasi darat berkontribusi terhadap 27% emisi sektor energi nasional. Percepatan elektrifikasi kendaraan dapat menurunkan emisi secara signifikan, namun infrastruktur pengisian daya yang baru menjangkau 1.800 titik secara nasional per Desember 2024 masih jauh dari kebutuhan untuk mencapai target pemerintah, sehingga berdampak terhadap valuasi proyek infrastruktur pendukung.
Keempat, sektor manufaktur. Sektor ini mengalami kenaikan kontribusi terhadap PDB sebesar 0,8% year-on-year pada tahun 2024. Permintaan global terhadap produk dengan jejak karbon rendah mendorong tren dekarbonisasi (pengurangan emisi karbon dioksida dari proses produksi). Di satu sisi, hal ini dapat meningkatkan daya saing ekspor. Di sisi lain, biaya transisi dapat menekan margin (selisih antara pendapatan dan biaya) perusahaan, khususnya bagi industri padat energi.
Kelima, sektor infrastruktur dan bangunan. Bangunan menyumbang 36% konsumsi energi final nasional. Penerapan standar bangunan hijau dapat mengurangi konsumsi energi hingga 30%. Namun, kebutuhan modal yang besar dapat membatasi likuiditas bagi pengembang, sehingga diperlukan waktu untuk melihat dampaknya terhadap portofolio pembiayaan berkelanjutan secara keseluruhan.
Implikasi Terhadap Ekonomi Makro
Dari perspektif makroekonomi, transisi keberlanjutan berpotensi memperkuat fundamental jangka panjang Indonesia. Diversifikasi sumber pembiayaan hijau dapat menstabilkan sentimen pasar, mengurangi tekanan capital outflow saat terjadi gejolak, serta memperluas basis investor. Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia, peningkatan investasi berkelanjutan dapat menambah 0,4% hingga 0,8% terhadap pertumbuhan PDB tahunan dalam jangka menengah.
Di sisi lain, risiko transisi (risiko ekonomi akibat pergeseran menuju ekonomi rendah karbon) juga perlu diperhitungkan. Penyesuaian bertahap terhadap sektor yang tinggi emisinya dapat berdampak terhadap lapangan kerja di wilayah tertentu, sementara kenaikan biaya energi dapat memengaruhi inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan) jangka pendek. Oleh karena itu, keberhasilan transisi akan sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor korporasi untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan.
Transisi menuju ekonomi berkelanjutan bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang yang dapat memperkuat ketahanan ekonomi, asalkan dikelola secara bertahap dengan memperhatikan keadilan sosial.
Dengan mempertimbangkan kedua perspektif tersebut, tren keberlanjutan di lima sektor strategis ini menunjukkan peluang yang terukur, namun tetap memerlukan kehati-hatian. Pengelolaan rasio pembiayaan, pemantauan valuasi proyek, serta penjagaan likuiditas akan menjadi faktor kunci dalam memastikan bahwa transisi ini tidak hanya ramah lingkungan, namun juga berkeadilan dan berkelanjutan secara ekonomi bagi Indonesia.
Comments (0)