Berdasarkan data BPS, Bank Indonesia, dan OJK per Desember 2024, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang relatif stabil di tengah tekanan global. Produk Domestik Bruto (PDB, nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara) mengalami kenaikan sebesar 5,02% year-on-year, meski laju inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum) tercatat sebesar 1,57% year-on-year. Kondisi ini menjadi landasan bagi munculnya suatu tren baru, yaitu pergeseran fokus dari pertumbuhan semata menuju pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan. Pergeseran ini tidak hanya memengaruhi kebijakan publik, namun juga turut membentuk fundamental (kondisi dasar ekonomi suatu negara atau sektor) perekonomian, sentimen pasar (sikap pelaku pasar terhadap suatu kondisi ekonomi), serta arah alokasi sumber daya ke depan.
Transisi Hijau: Antara Kebutuhan dan Tantangan
Di satu sisi, dorongan menuju ekonomi rendah emisi telah menjadi bagian dari agenda global. Berbagai negara maju telah menerapkan mekanisme penyesuaian batas emisi, yang secara tidak langsung mendorong negara-negara berkembang untuk menyesuaikan standar produksinya. Hal ini berpotensi membuka akses pasar baru bagi produk-produk ramah lingkungan, sekaligus mendorong perbaikan valuasi (penilaian terhadap nilai wajar suatu aset atau perusahaan) bagi sektor-sektor yang mampu beradaptasi. Di sisi lain, proses transisi ini memerlukan biaya yang tidak kecil. Berdasarkan proyeksi Kementerian Keuangan, kebutuhan pembiayaan iklim Indonesia diperkirakan mencapai Rp3.461 triliun hingga tahun 2030 untuk memenuhi target penurunan emisi. Kebutuhan ini berpotensi menekan likuiditas (kemampuan suatu entitas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek) di sektor riil, khususnya bagi pelaku usaha berskala menengah yang memiliki rasio (perbandingan antar angka keuangan) pembiayaan terbatas. Tekanan tersebut juga berisiko memicu capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara) apabila sentimen pasar global berbalik akibat kenaikan suku bunga di negara maju.
Lima Sektor Strategis yang Berpotensi Tumbuh
Berdasarkan analisis terhadap arah kebijakan dan kebutuhan pembiayaan, terdapat lima sektor yang berpotensi mengalami kenaikan peranannya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Pertama, sektor energi terbarukan. Dengan target bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025 dan proyeksi menuju 34% pada tahun 2034, sektor ini menjadi salah satu penggerak utama. Di satu sisi, penambahan kapasitas pembangkit ramah lingkungan dapat menurunkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Di sisi lain, biaya investasi awal yang tinggi serta tantangan interkoneksi jaringan listrik masih menjadi hambatan bagi percepatan. Kedua, sektor pertanian berkelanjutan. Nilai tambah sektor pertanian tercatat mengalami kenaikan sebesar 1,30% year-on-year per kuartal III 2024, dengan potensi peningkatan melalui praktik pertanian presisi dan pengelolaan lahan ramah lingkungan. Ketiga, sektor manufaktur hijau. Indeks produksi manufaktur (ukuran perubahan volume produksi) masih berada di level ekspansif, namun tekanan sertifikasi karbon global dapat meningkatkan biaya produksi bagi komoditas ekspor. Keempat, sektor transportasi rendah emisi. Pertumbuhan kendaraan listrik mengalami kenaikan signifikan, dengan jumlah unit terdaftar mengalami kenaikan lebih dari 100% year-on-year pada tahun 2024, meski infrastruktur pengisian daya baru menjangkau sekitar 15% dari target nasional. Kelima, sektor jasa dan infrastruktur pendukung keberlanjutan. Sektor ini berperan dalam memperkuat portofolio (kumpulan aset yang dimiliki) pembiayaan hijau, sekaligus mendorong perluasan pasar untuk teknologi ramah lingkungan.
Dampak Terhadap Pasar dan Stabilitas Ekonomi
Perkembangan kelima sektor tersebut berpotensi memengaruhi dinamika pasar secara luas. Di satu sisi, alokasi modal menuju sektor berkelanjutan dapat memperkuat fundamental jangka panjang, meningkatkan diversifikasi portofolio, serta mendorong perbaikan valuasi bagi emiten yang berfokus pada efisiensi sumber daya. Hal ini dapat turut menopang indeks (ukuran statistik yang merepresentasikan pergerakan harga atau kinerja) sektor terkait, terutama apabila didukung oleh perbaikan tata kelola dan transparansi data lingkungan. Di sisi lain, adanya capital outflow bersifat sementara tidak dapat diabaikan. Apabila suku bunga global tetap tinggi, investor dapat memindahkan dananya ke pasar dengan imbal hasil lebih menarik, sehingga menekan likuiditas domestik. Selain itu, rasio utang terhadap PDB Indonesia yang masih berada di kisaran 39% per Desember 2024 memberikan ruang fiskal, namun ruang tersebut terbatas mengingat prioritas belanja lainnya. Kondisi ini menuntut kehati-hatian dalam menjaga keseimbangan antara percepatan transisi dan stabilitas makroekonomi.
"Transisi menuju ekonomi berkelanjutan bukanlah beban jangka pendek, melainkan investasi struktural yang akan menentukan daya saing suatu negara dalam dua dekade mendatang."
Dengan mempertimbangkan kedua perspektif tersebut, tren keberlanjutan diperkirakan akan terus berlanjut meski dengan tempo yang beragam antar sektor. Proyeksi pertumbuhan investasi hijau global yang diperkirakan terus mengalami kenaikan menjadi salah satu faktor pendorong, namun realisasinya akan sangat bergantung pada biaya pembiayaan, kesiapan infrastruktur, serta stabilitas sentimen pasar global. Pada akhirnya, keberhasilan transisi ini tidak diukur dari seberapa cepat perubahan terjadi, namun dari seberapa kuat fundamental ekonomi yang mampu menopang perubahan tersebut tanpa mengorbankan stabilitas dan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Comments (0)