Oct 04, 2026
Bisnis

Investasi Hijau dan Dampak Ekonomi RI

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 Juni 2025, perekonomian Indonesia mengalami kenaikan year-on-year sebesar 4,87 persen pada triwulan I 2025. Angka ini menunjukkan adanya tren pemulihan, ...

Investasi Hijau dan Dampak Ekonomi RI

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 Juni 2025, perekonomian Indonesia mengalami kenaikan year-on-year sebesar 4,87 persen pada triwulan I 2025. Angka ini menunjukkan adanya tren pemulihan, namun masih berada di bawah capaian triwulan I 2024 yang tercatat sebesar 5,11 persen. Dalam konteks ini, pembahasan mengenai investasi hijau (investasi yang berfokus pada kegiatan ramah lingkungan dan berorientasi pada keberlanjutan) kembali mencuat, khususnya terkait proyeksi kebutuhan investasi hijau sebesar Rp1.073 triliun yang berpotensi mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB, nilai total barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara) Indonesia hingga 6 persen.

Tren Global yang Mendorong Perubahan

Perubahan arah investasi tidak terlepas dari dinamika global. Berdasarkan data Bank Dunia per kuartal II 2025, indeks harga karbon (ukuran biaya emisi gas rumah kaca) di sejumlah negara maju mengalami kenaikan signifikan, mendorong sentimen pasar (persepsi dan ekspektasi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi) untuk beralih ke sektor berkelanjutan. Selain itu, Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat bahwa alokasi dana untuk proyek transisi energi mengalami kenaikan year-on-year sebesar 18,2 persen pada tahun 2024. Tren ini turut memengaruhi fundamental (kondisi ekonomi dasar suatu negara atau sektor) perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, perlu dicatat bahwa pergeseran ini juga dapat memicu capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara) secara temporer apabila pasar negara berkembang dianggap memiliki rasio (perbandingan antara dua angka ekonomi) risiko yang lebih tinggi dibandingkan pasar maju.

Di satu sisi: Potensi Dorongan Terhadap Ekonomi

Di satu sisi, realisasi investasi hijau dalam skala besar berpotensi memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan proyeksi yang beredar, kebutuhan sebesar Rp1.073 triliun dapat mendorong PDB hingga 6 persen, meningkat dari laju pertumbuhan saat ini. Dampak ini dapat bersifat langsung melalui pembangunan infrastruktur energi terbarukan, serta tidak langsung melalui multiplier effect (efek berlipat dari belanja yang mendorong kegiatan ekonomi lain), seperti peningkatan permintaan bahan baku, jasa konstruksi, hingga tenaga kerja terampil. Peningkatan aktivitas ini berpotensi memperbaiki rasio utilisasi (tingkat pemakaian kapasitas produksi) sektor-sektor terkait, yang pada gilirannya dapat menjaga likuiditas (kemudahan aset untuk diubah menjadi uang tunai) di sektor riil. Bagi pelaku pasar, hal ini dapat turut memperkuat valuasi (penilaian wajar suatu aset atau sektor) sektor hijau dalam portofolio (kumpulan aset yang dimiliki) investasi jangka panjang, sekaligus menekan ketergantungan terhadap komoditas berbasis karbon yang kerap mengalami penurunan harga secara tajam.

Di sisi lain: Tantangan yang Tidak Dapat Diabaikan

Di sisi lain, terdapat sejumlah tantangan yang dapat membatasi realisasi potensi tersebut. Pertama, dari sisi pembiayaan, Bank Indonesia mencatat bahwa rasio kredit hijau terhadap total kredit perbankan masih berada di bawah 5 persen per Mei 2025, jauh dari skala yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan triliunan rupiah. Kedua, sentimen pasar terhadap suku bunga masih menjadi faktor krusial. Dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang saat ini berada di level 5,75 persen per Juni 2025, biaya pendanaan proyek dengan jangka pengembalian panjang cenderung mengalami kenaikan, sehingga dapat menekan minat pendanaan baru. Ketiga, dari sisi makro, Indonesia masih menghadapi capital outflow yang fluktuatif, di mana data OJK mencatat arus keluar modal asing bersih pada pasar surat berharga negara mencapai Rp28,7 triliun pada periode Januari–Mei 2025. Hal ini berpotensi membatasi likuiditas domestik yang dapat dialihkan ke proyek-proyek berskala besar. Terakhir, kendala perizinan, ketersediaan jaringan transmisi, serta kesiapan sumber daya manusia turut memengaruhi proyeksi waktu realisasi, yang dapat berdampak pada perhitungan valuasi proyek secara keseluruhan.

"Transisi energi merupakan kebutuhan ekonomi, bukan hanya kebutuhan lingkungan. Namun, kecepatan transisi harus diselaraskan dengan kemampuan pembiayaan dan kesiapan infrastruktur agar tidak membebani fundamental makro secara berlebihan." - Seorang analis ekonomi makro berpengalaman.

Implikasi Terhadap Fundamental Makro Jangka Menengah

Apabila tantangan tersebut dapat diatasi secara bertahap, investasi hijau berpotensi memperkuat fundamental perekonomian Indonesia. Peningkatan bauran energi terbarukan dapat menurunkan volatilitas (pergerakan harga yang tidak stabil) impor energi, yang saat ini masih menyumbang porsi besar terhadap defisit neraca perdagangan. Berdasarkan data BPS, impor bahan bakar mineral mengalami penurunan year-on-year sebesar 12,4 persen pada triwulan I 2025, namun masih berfluktuasi akibat sentimen pasar global. Di sisi lain, apabila realisasi berjalan lambat, maka proyeksi pertumbuhan 6 persen dapat sulit tercapai, sehingga indeks pertumbuhan potensial (tingkat pertumbuhan maksimum yang berkelanjutan tanpa tekanan inflasi) Indonesia berpotensi tetap berada di kisaran 5,0–5,3 persen untuk beberapa tahun ke depan. Kondisi ini dapat memengaruhi persepsi risiko, yang berimplikasi pada aliran modal dan daya saing portofolio aset Indonesia di tingkat global.

Secara keseluruhan, kebutuhan investasi hijau sebesar Rp1.073 triliun merupakan peluang struktural (perubahan jangka panjang dalam struktur ekonomi) yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. Namun, peluang ini tidak bersifat otomatis. Dorongan hingga 6 persen terhadap PDB akan sangat bergantung pada sinergi antara ketersediaan pembiayaan, stabilitas makro, kesiapan infrastruktur, serta pengelolaan risiko. Dengan memperhatikan kedua perspektif tersebut, tren investasi hijau dapat dilihat secara realistis sebagai langkah jangka menengah yang berpotensi memperkuat fundamental ekonomi, tanpa mengesampingkan tantangan yang masih harus dihadapi untuk mewujudkannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User