Pelatihan Ekspor Dorong UMKM Mebel Sukoharjo Menembus Pasar Global

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I 2025, ekspor produk furnitur dan kayu olahan Indonesia mencatatkan nilai sekitar USD 2,4 miliar sepanjang 2024, meski masih berada di bawah c...

Aug 11, 2026 - 22:13
0 0
Pelatihan Ekspor Dorong UMKM Mebel Sukoharjo Menembus Pasar Global

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I 2025, ekspor produk furnitur dan kayu olahan Indonesia mencatatkan nilai sekitar USD 2,4 miliar sepanjang 2024, meski masih berada di bawah capaian 2022 yang menembus USD 2,86 miliar. Di tengah tren pemulihan tersebut, kabar menggembirakan datang dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Swakarya Jaya Furniture, sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang mebel, berhasil menembus pasar internasional setelah mengikuti pelatihan ekspor yang difasilitasi program tanggung jawab sosial BRI Peduli.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kapasitas ekspor bukan monopoli korporasi besar. Dengan pendampingan yang tepat—mulai dari pemahaman dokumen ekspor, standar kualitas global, hingga strategi penetrasi pasar—pelaku usaha skala kecil pun mampu bersaing di kancah perdagangan dunia.

Kontribusi UMKM: Besar di Domestik, Kecil di Ekspor

Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan UMKM berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Namun, ironisnya, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional baru sekitar 15,7 persen—jauh tertinggal dibanding negara tetangga seperti Thailand yang mencapai hampir 30 persen.

Kesenjangan inilah yang menjadi rasional di balik berbagai program pelatihan ekspor. Rasio partisipasi ekspor UMKM yang rendah mengindikasikan adanya hambatan struktural: keterbatasan akses informasi pasar, ketidakpahaman prosedur kepabeanan, hingga kesulitan memenuhi standar sertifikasi internasional.

"Pelatihan ekspor bagi UMKM bukan sekadar program filantropi, melainkan investasi kapasitas yang berdampak pada fundamental ekonomi. Setiap UMKM yang naik kelas ke pasar global berpotensi menambah devisa dan memperkuat ketahanan eksternal," ujar seorang pengamat ekonomi dari universitas negeri di Jawa Tengah.

Di Satu Sisi: Peluang Pasar Mebel Global

Di satu sisi, prospek pasar furnitur global masih menjanjikan. Nilai perdagangan mebel dunia diproyeksikan tumbuh dengan laju tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) sekitar 5 persen hingga 2030. Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa tetap menjadi destinasi utama, sementara permintaan akan produk berbahan kayu berkelanjutan mengalami kenaikan signifikan secara year-on-year.

Indonesia memiliki keunggulan komparatif—istilah ekonomi untuk keunggulan biaya produksi relatif suatu negara—berkat ketersediaan bahan baku kayu dan rotan serta upah tenaga kerja yang kompetitif. Jawa Tengah, khususnya Jepara dan Sukoharjo, telah lama menjadi sentra industri mebel dengan rantai pasok yang matang. Bagi UMKM seperti Swakarya Jaya Furniture, fundamental sektor ini menjadi modal awal yang kuat.

Dari sisi kebijakan, pemerintah menargetkan nilai ekspor furnitur dan kerajinan mencapai USD 5 miliar dalam beberapa tahun ke depan. Program pelatihan ekspor dari berbagai pihak, termasuk perbankan melalui program sosialnya, menjadi pelengkap upaya negara memperluas basis eksportir.

Di Sisi Lain: Tantangan yang Tak Bisa Diabaikan

Di sisi lain, jalan menuju pasar global tidak selalu mulus. Data ekspor furnitur nasional yang mengalami penurunan dari USD 2,86 miliar pada 2022 menjadi sekitar USD 2,4 miliar pada 2023-2024 mencerminkan tekanan dari melemahnya permintaan global, kenaikan biaya logistik, dan ketatnya regulasi seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR)—aturan Uni Eropa yang mewajibkan pembuktian bahwa produk kayu tidak berasal dari lahan hasil deforestasi.

Bagi UMKM, kepatuhan terhadap standar semacam ini membutuhkan biaya sertifikasi yang tidak kecil. Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) saja bisa memakan biaya jutaan rupiah per periode audit. Selain itu, indeks manufaktur global yang fluktuatif dan sentimen pasar yang dipengaruhi suku bunga Amerika Serikat berpotensi memicu capital outflow—keluarnya modal asing dari negara berkembang—yang dapat menekan nilai tukar rupiah dan daya saing harga produk ekspor.

Keterbatasan likuiditas juga menjadi persoalan klasik. UMKM eksportir membutuhkan modal kerja lebih besar karena siklus pembayaran internasional yang lebih panjang dibanding pasar domestik. Tanpa akses pembiayaan yang memadai, pesanan ekspor dalam jumlah besar justru bisa berbalik menjadi beban keuangan.

Proyeksi dan Catatan Ke Depan

Ke depan, keberhasilan satu-dua UMKM menembus pasar ekspor perlu direplikasi secara sistematis. Sinergi antara perbankan, pemerintah daerah, dan kementerian terkait menjadi kunci—mulai dari pelatihan, pendampingan sertifikasi, hingga fasilitasi pameran dagang internasional.

Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 berada di kisaran 4,7 hingga 5,5 persen, dengan ekspor sebagai salah satu motor pendukung. Jika kontribusi UMKM terhadap ekspor bisa dinaikkan dari 15,7 persen menuju 20 persen dalam lima tahun, dampaknya terhadap devisa dan penyerapan tenaga kerja akan sangat signifikan.

Kisah Swakarya Jaya Furniture dari Sukoharjo pada akhirnya adalah pengingat: fundamental ekonomi makro yang kuat harus diterjemahkan hingga level mikro. Pelatihan ekspor mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya—bila konsisten dan masif—bisa mengubah struktur perdagangan nasional menjadi lebih inklusif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User