Pasar Respons Penunjukan Destry Damayanti sebagai Plt. Gubernur BI

Dinamika di pucuk pimpinan bank sentral kembali menjadi sorotan setelah Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti resmi ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur BI Sementara. Penunjukan ini...

Jul 27, 2026 - 22:33
0 0
Pasar Respons Penunjukan Destry Damayanti sebagai Plt. Gubernur BI

Dinamika di pucuk pimpinan bank sentral kembali menjadi sorotan setelah Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti resmi ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur BI Sementara. Penunjukan ini menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo yang mengejutkan pasar pada perdagangan Kamis (12/6/2026). Transisi terjadi di saat otoritas moneter tengah bergulat menjaga stabilitas di tengah tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda.

Rekam Jejak Sang Plt. Gubernur

Destry Damayanti bukan figur baru di lingkungan pengambil kebijakan ekonomi. Perempuan kelahiran Jakarta, 17 Desember 1965 ini merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang mengawali karier sebagai analis di sebuah bank investasi ternama. Sebelum menjabat Deputi Gubernur Senior BI pada 2019, ia pernah menduduki posisi strategis di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Rekam jejaknya yang kuat di sektor moneter dan stabilitas sistem keuangan membuat namanya kerap disebut sebagai kandidat kuat pengganti Perry Warjiyo, meskipun keputusan penunjukan definitif tetap berada di tangan DPR berdasarkan usulan presiden.

Benteng Moneter di Simpang Jalan

Penunjukan ini terjadi di tengah capaian makroekonomi yang terbilang solid namun menyisakan sejumlah kerentanan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Mei 2026, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 3,2% secara tahunan (year-on-year), masih dalam kisaran target BI sebesar 2,5% ± 1%. Namun, inflasi inti mulai menunjukkan gejala pemanasan ke level 2,9%, mengindikasikan tekanan dari sisi permintaan yang mulai menguat pasca-pandemik. Di sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 membukukan surplus US$2,1 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus bulan sebelumnya senilai US$2,8 miliar. Pelemahan tersebut dipicu penurunan harga komoditas batubara dan minyak sawit yang menjadi andalan ekspor. Cadangan devisa per akhir Mei 2026 berada pada posisi US$138,4 miliar, setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.

Dua Sisi Penunjukan Destry

Di satu sisi, penunjukan Destry Damayanti dipandang mampu menjaga kontinuitas kebijakan. Sebagai orang dalam yang telah terlibat dalam perumusan bauran kebijakan BI selama bertahun-tahun, ia dipersepsikan paham betul peta jalan kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan pendalaman pasar keuangan yang telah dirancang periode sebelumnya. Jejaknya dalam menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi ganda (valas dan obligasi) saat turbulensi 2022-2023 menjadi garansi bagi pasar bahwa bank sentral tidak akan gamang dalam mengambil langkah taktis. Pasar obligasi domestik pun merespons positif, terlihat dari penurunan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara tenor 10 tahun sebesar 6 basis poin ke level 6,82% pada penutupan hari itu.

Di sisi lain, statusnya yang sementara memunculkan ketidakpastian. Pelaku pasar khawatir kebijakan strategis akan tertunda karena kewenangan Plt. Gubernur dipersepsikan terbatas, terutama terkait penyesuaian suku bunga acuan yang agresif atau penerbitan regulasi baru. Beberapa analis mengingatkan bahwa transisi tanpa kejelasan kapan gubernur definitif akan ditunjuk berpotensi menunda pengambilan keputusan penting, termasuk respons terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat oleh The Fed pada kuartal ketiga yang diproyeksikan masih akan berlanjut. Ketidakpastian ini tercermin dari pergerakan rupiah yang sempat tertekan ke level Rp15.640 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup menguat tipis ke Rp15.590 setelah pernyataan Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI yang meyakinkan bahwa operasi moneter akan berjalan normal.

Ekspektasi Pasar dan Arah Kebijakan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis sore ditutup menguat 0,8% ke level 7.125, mengindikasikan bahwa investor ekuitas menilai transisi ini tidak akan mengganggu fundamental ekonomi dalam jangka pendek. Namun, capital outflow masih terpantau dari pasar saham sebesar Rp1,3 triliun dalam sepekan terakhir, menandakan investor asing masih menahan diri menanti kepastian. Ekonom senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, Teuku Riefky, menyebutkan, "Pasar membutuhkan penegasan bahwa BI rate akan tetap akomodatif terhadap pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas rupiah. Destry memiliki kapasitas itu, namun status kepejabatannya perlu segera diklarifikasi untuk meredakan spektrum risiko."

Ke depan, sejumlah pekerjaan rumah menanti Destry. Pertama, menjaga momentum penurunan inflasi agar tidak kembali melonjak akibat kenaikan harga energi dan pangan global. Kedua, melanjutkan digitalisasi sistem pembayaran yang telah mencapai tonggak penting dengan volume transaksi QRIS antarnegara yang mencatat kenaikan 67% year-on-year hingga Mei 2026. Ketiga, menjaga rasio kecukupan modal perbankan yang saat ini berada di level 27,1% (data OJK April 2026) agar tetap resilient dalam menghadapi risiko pemburukan kredit di tengah suku bunga tinggi. Pasar kini menatap rapat Dewan Gubernur BI berikutnya yang dijadwalkan pada 17-18 Juni 2026, dengan ekspektasi mayoritas bahwa suku bunga acuan akan ditahan di 6,25%. Keputusan itu nantinya menjadi sinyal pertama seberapa besar kesinambungan kebijakan moneter di bawah kepemimpinan sementara Destry Damayanti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User