Pasar Pembiayaan RI Dinilai Masih Lebih Besar Ketimbang Malaysia dan Thailand
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per awal 2025, piutang pembiayaan industri multifinance nasional tercatat menembus Rp 520 triliun, mengalami kenaikan sekitar 5,5% secara year-on-year (yo...
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per awal 2025, piutang pembiayaan industri multifinance nasional tercatat menembus Rp 520 triliun, mengalami kenaikan sekitar 5,5% secara year-on-year (yoy). Kendati tren pertumbuhan berlanjut, rasio penetrasi pembiayaan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih berkisar 4%–5%, tertinggal jauh dari Malaysia yang diperkirakan menembus 10% dan Thailand di kisaran 8%. Kesenjangan inilah yang menjadi fondasi argumen pelaku industri bahwa ruang ekspansi pasar pembiayaan domestik masih sangat terbuka lebar.
Optimisme tersebut disampaikan Plt. Direktur Utama PT Mandiri Utama Finance (MUF), Dapot Parasian. Ia menilai potensi bisnis multifinance di dalam negeri tetap besar meskipun kondisi geopolitik global sedang menantang, mulai dari ketegangan dagang Amerika Serikat–China hingga konflik di Timur Tengah yang menekan rantai pasok dan harga energi dunia.
"Dengan tingkat penetrasi yang masih rendah dibandingkan negara tetangga, pasar pembiayaan Indonesia sesungguhnya baru berada di fase awal siklus pertumbuhan jangka panjang," ujar Dapot.
Penetrasi Rendah Jadi Indikator Ruang Bertumbuh
Sejumlah indikator memperlihatkan lebarnya jarak Indonesia dengan dua negara ASEAN tersebut. Rasio kepemilikan mobil di Indonesia diperkirakan baru sekitar 100 unit per 1.000 penduduk, sedangkan Thailand mencapai lebih dari 250 unit dan Malaysia di atas 400 unit per 1.000 penduduk. Dalam terminologi industri, penetrasi yang rendah mencerminkan headroom alias ruang bertumbuh yang masih luas, terutama untuk pembiayaan kendaraan bermotor yang selama ini menjadi tulang punggung portofolio multifinance dengan kontribusi sekitar 60%–70% dari total piutang.
Dari sisi fundamental makro, ekonomi Indonesia tumbuh 5,03% yoy pada 2024 menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dengan populasi 280 juta jiwa dan bonus demografi yang masih berlangsung hingga satu dekade ke depan. Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang stabil dan basis konsumen muda yang besar secara teoritis menopang permintaan kredit konsumtif jangka menengah.
Di Satu Sisi: Demografi dan Kelas Menengah Menopang Ekspansi
Di satu sisi, struktur demografi menjadi modal utama industri. Jutaan rumah tangga baru terbentuk setiap tahun, dan sebagian besar merupakan pembeli pertama (first-time buyer) kendaraan maupun produk pembiayaan multiguna. Likuiditas perbankan yang relatif memadai juga memberi akses pendanaan bagi perusahaan pembiayaan berperingkat baik, sehingga cost of fund — biaya dana yang harus ditanggung perusahaan — masih terkendali. Kualitas aset industri pun terjaga, dengan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross di kisaran 2,5%–2,9%, masih di bawah ambang psikologis 5% yang menjadi perhatian regulator.
Sentimen pasar terhadap emiten multifinance juga relatif konstruktif. Valuasi sejumlah pemain besar masih diperdagangkan pada price to book value (PBV) — perbandingan harga saham terhadap nilai buku — yang moderat dibandingkan rata-rata historis lima tahun terakhir, mencerminkan ekspektasi pertumbuhan laba yang belum sepenuhnya terdiskon oleh pasar.
Di Sisi Lain: Geopolitik dan Daya Beli Membayangi Proyeksi
Di sisi lain, sejumlah risiko tidak bisa diabaikan. Ketegangan geopolitik berpotensi memicu capital outflow — keluarnya dana asing dari pasar domestik — yang menekan nilai tukar rupiah dan memaksa Bank Indonesia menahan suku bunga acuan lebih lama di level tinggi. BI Rate yang bertahan di kisaran 5,75%–6% pada akhirnya merambat ke bunga pembiayaan, sehingga cicilan menjadi lebih mahal dan permintaan kredit berpotensi melambat.
Tekanan juga datang dari sisi daya beli. Data BPS menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah menyusut dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi sekitar 47,85 juta jiwa pada 2024. Penyusutan segmen yang menjadi motor utama kredit konsumtif ini menjadi catatan penting bagi proyeksi ekspansi industri. Jika tren berlanjut, pertumbuhan piutang bisa tertahan di bawah potensi optimalnya, dan NPF berisiko merangkak naik terutama pada segmen pembiayaan berbasis gaji.
Proyeksi 2025: Tumbuh Moderat dengan Selektivitas Tinggi
OJK memproyeksikan piutang pembiayaan tumbuh di kisaran 6%–8% sepanjang 2025, lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya namun tetap moderat. Untuk mencapainya, perusahaan pembiayaan diperkirakan memperkuat diversifikasi portofolio ke pembiayaan produktif seperti alat berat, kendaraan komersial, dan pembiayaan syariah, sekaligus memperketat manajemen risiko pada segmen konsumtif.
Pada akhirnya, narasi pasar yang besar perlu dibaca secara berimbang. Rendahnya penetrasi memang membuka peluang, namun konversi peluang menjadi pertumbuhan nyata sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi, arah suku bunga, dan pemulihan daya beli kelas menengah. Bagi investor maupun pelaku industri, disiplin fundamental dan kehati-hatian dalam membaca tren tetap menjadi kompas utama di tengah ketidakpastian global.
Comments (0)