ParagonCorp Kembangkan Riset Multi-Omics, Peluang dan Tantangan Industri Kecantikan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2024, kelompok industri kimia, farmasi, dan obat tradisional—yang mencakup sektor kosmetik—mencatat pertumbuhan sekitar 9,6 persen year...

Aug 09, 2026 - 15:54
0 0
ParagonCorp Kembangkan Riset Multi-Omics, Peluang dan Tantangan Industri Kecantikan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2024, kelompok industri kimia, farmasi, dan obat tradisional—yang mencakup sektor kosmetik—mencatat pertumbuhan sekitar 9,6 persen year-on-year, melampaui rata-rata industri pengolahan nonmigas. Di tengah tren positif tersebut, ParagonCorp, perusahaan induk yang menaungi sejumlah merek kecantikan lokal ternama, mengumumkan perluasan kapasitas risetnya melalui kerja sama dengan Corpora Science. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan pendekatan multi-omics untuk riset kecantikan berbasis sains di Indonesia.

Bagi industri, langkah ini bukan sekadar kerja sama korporasi biasa, melainkan menandai pergeseran strategi pemain lokal dari mengandalkan pemasaran menuju penguasaan teknologi hulu. Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan jumlah notifikasi kosmetik di Indonesia menembus puluhan ribu produk per tahun, mencerminkan persaingan yang kian ketat dan kebutuhan diferensiasi berbasis inovasi.

Memahami Multi-Omics dan Nilai Ekonominya

Secara sederhana, multi-omics adalah pendekatan ilmiah yang menggabungkan genomik (kajian gen), proteomik (kajian protein), metabolomik (kajian metabolit), dan mikrobiomik (kajian mikroorganisme kulit) untuk memahami karakter kulit secara menyeluruh. Bagi pembaca awam, pendekatan ini ibarat memetakan \"sidik jari biologis\" kulit manusia, sehingga formulasi produk dapat dirancang lebih presisi—misalnya disesuaikan dengan iklim tropis, tingkat kelembapan, dan keragaman genetik konsumen Indonesia. Dari kacamata ekonomi, penguasaan teknologi semacam ini berpotensi menaikkan nilai tambah produk dalam negeri dan memperkuat daya saing ekspor.

\"Industri kecantikan yang berinvestasi pada riset mendalam hari ini sesungguhnya sedang membangun parit kompetitif untuk satu dekade ke depan. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling gencar beriklan, melainkan siapa yang menguasai sains di balik produk,\" ujar seorang pengamat industri barang konsumsi di Jakarta.

Di Satu Sisi: Fundamental Industri Lokal Menguat

Di satu sisi, inisiatif ini memperkuat fundamental industri kecantikan nasional. Kementerian Perindustrian mencatat jumlah perusahaan kosmetik di Tanah Air menembus lebih dari 1.500 unit, sementara nilai pasar kecantikan dan perawatan diri diperkirakan berada di kisaran US$8 miliar atau setara Rp125 triliun. Investasi riset berbasis multi-omics dapat mendorong substitusi impor bahan aktif, meningkatkan rasio kandungan dalam negeri, serta membuka peluang ekspor ke pasar halal global yang diproyeksikan tumbuh dua digit dalam lima tahun ke depan. Kolaborasi dengan lembaga riset seperti Corpora Science juga berpotensi menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi peneliti muda, mengurangi ketergantungan pada talenta asing, dan memperdalam rantai nilai industri hilir.

Di Sisi Lain: Biaya Tinggi dan Risiko Komersialisasi

Di sisi lain, pendekatan multi-omics menuntut komitmen pendanaan jangka panjang dengan masa pengembalian (payback period) yang tidak singkat. Anggaran riset nasional Indonesia masih berkisar 0,28 persen dari produk domestik bruto (PDB), tertinggal jauh dari Korea Selatan yang menembus 4,9 persen—negara yang kini mendominasi tren K-beauty global. Kontra lainnya, keberhasilan riset di laboratorium tidak otomatis berarti keberhasilan komersial. Daya beli konsumen kelas menengah tengah menghadapi tekanan, tercermin dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang melambat ke level sekitar 4,9 persen. Jika produk hasil riset dipatok terlalu premium, segmen pasar yang dapat dijangkau berisiko menyempit. Ada pula risiko alokasi modal: dana yang terserap ke riset berarti berkurangnya ruang untuk ekspansi distribusi dan pemasaran dalam jangka pendek.

Proyeksi dan Sentimen Pasar

Ke depan, proyeksi industri kecantikan Indonesia masih cenderung positif, dengan sejumlah lembaga riset memperkirakan laju pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) di kisaran 5 hingga 7 persen hingga akhir dekade. Sentimen pasar terhadap sektor barang konsumsi relatif stabil, meski valuasi sejumlah perusahaan consumer telah mengalami kenaikan sehingga ruang apresiasi lebih selektif. Bagi pelaku pasar yang menyusun portofolio, ekspansi riset semacam ini layak dibaca sebagai sinyal orientasi jangka panjang manajemen, bukan katalis keuntungan instan. Indeks kepercayaan konsumen, likuiditas pasar, dan tren penjualan ritel akan menjadi indikator penting untuk menguji apakah inovasi berbasis sains benar-benar diterjemahkan menjadi kinerja pendapatan.

Pada akhirnya, kerja sama ParagonCorp dan Corpora Science mencerminkan dua wajah ekonomi industri kreatif sekaligus: ambisi menaiki tangga nilai tambah, dan tantangan memastikan inovasi tetap terjangkau pasar domestik. Efektivitasnya baru akan terlihat dalam tiga hingga lima tahun ke depan—diukur dari kontribusi produk baru terhadap pendapatan, bukan sekadar jumlah publikasi ilmiah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User