Pameran Kulit dan Garmen 2026: 210 Peserta dari 14 Negara Siap Dongkrak Ekspor
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per Juli 2026, industri kulit, barang kulit, dan alas kaki mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 4,2% year-on-year, sementara industri tekstil dan pakaian...
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per Juli 2026, industri kulit, barang kulit, dan alas kaki mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 4,2% year-on-year, sementara industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 3,8%. Angka ini menjadi latar belakang digelarnya ILF (Indonesia Leather Festival) dan IGT (Indonesia Garment & Textile) Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, yang resmi dibuka hari ini. Ajang ini mempertemukan 210 peserta dari 14 negara, termasuk Tiongkok, India, Vietnam, dan Italia, dengan total luas area pameran mencapai 15.000 meter persegi.
Momentum Strategis di Tengah Tekanan Global
Pameran yang diselenggarakan oleh Krista Exhibitions Group ini hadir di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi perlambatan permintaan dari pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa. Di satu sisi, ekspor produk kulit Indonesia pada semester I 2026 mencapai USD 1,2 miliar, turun 5,1% dibanding periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, ekspor garmen justru menunjukkan ketahanan dengan nilai USD 4,8 miliar, naik tipis 1,3% year-on-year, didorong oleh diversifikasi pasar ke Timur Tengah dan ASEAN.
Menurut pengamat industri dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pameran seperti ini menjadi barometer sentimen pasar. "Kehadiran 210 peserta dari 14 negara menunjukkan bahwa pelaku industri masih optimistis terhadap fundamental jangka panjang, meskipun likuiditas global sedang ketat," ujarnya. Ia menambahkan, partisipasi internasional yang tinggi juga mencerminkan daya saing produk lokal yang semakin meningkat, terutama dari sisi desain dan kualitas bahan baku.
Inovasi Produk dan Peluang Bisnis Baru
ILF dan IGT Expo 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga platform transaksi bisnis. Berdasarkan data panitia, pada hari pertama saja tercatat potensi transaksi mencapai Rp 850 miliar, melibatkan buyer dari 20 negara. Produk unggulan yang dipamerkan meliputi kulit samak, alas kaki, jaket kulit, serta tekstil teknis untuk otomotif dan medis. Tren yang menonjol tahun ini adalah penggunaan bahan ramah lingkungan, dengan 35% peserta menampilkan produk berbasis kulit nabati dan serat daur ulang.
Pro: Inovasi ini dapat meningkatkan nilai tambah ekspor hingga 15-20% per unit, sekaligus memenuhi standar keberlanjutan yang diminta pasar Eropa. Kontra: Biaya produksi bahan ramah lingkungan masih 25-30% lebih mahal dibanding konvensional, sehingga berisiko menekan margin keuntungan UKM yang mendominasi sektor ini. Namun, dengan dukungan insentif fiskal dari pemerintah, adopsi teknologi ini diproyeksikan meningkat dua kali lipat pada 2027.
Dampak terhadap Ekonomi Lokal dan Tenaga Kerja
Secara makro, sektor kulit dan garmen menyerap sekitar 4,2 juta tenaga kerja, atau 3,1% dari total angkatan kerja nasional. Pameran ini diharapkan mampu mendorong penciptaan lapangan kerja baru, terutama di sentra industri seperti Cibaduyut (Bandung), Tanggulangin (Sidoarjo), dan Sukoharjo (Jawa Tengah). Berdasarkan data BPS, tingkat penghunian hotel di sekitar JIExpo selama periode pameran meningkat 12% dibanding minggu biasa, menunjukkan efek pengganda terhadap sektor pariwisata dan jasa.
Di sisi lain, arus impor bahan baku kulit jadi dari negara peserta seperti India dan Vietnam masih menjadi tantangan. Rasio penggunaan bahan baku lokal baru mencapai 68%, sementara sisanya bergantung pada impor. Hal ini menyebabkan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah, yang saat ini berada di level Rp 15.900 per dolar AS. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah menandatangani nota kesepahaman dengan tiga negara peserta untuk transfer teknologi pengolahan kulit ramah lingkungan.
Proyeksi dan Rekomendasi Kebijakan
Mengacu pada tren kunjungan dan antusiasme buyer, panitia menargetkan total transaksi mencapai Rp 2,5 triliun hingga akhir pameran pada Minggu mendatang. Jika tercapai, angka ini akan melampaui capaian tahun lalu sebesar Rp 2,1 triliun. Namun, perlu dicatat bahwa sentimen pasar masih dibayangi oleh potensi kenaikan suku bunga The Fed pada kuartal IV 2026, yang dapat memicu capital outflow dan menekan daya beli importir.
Oleh karena itu, rekomendasi kebijakan yang perlu dipertimbangkan adalah: pertama, percepatan sertifikasi halal dan eco-label untuk produk ekspor; kedua, penguatan skema pembiayaan ekspor melalui LPEI dengan bunga kompetitif; ketiga, pengembangan kawasan industri terintegrasi untuk menekan biaya logistik hingga 10%. Dengan langkah ini, Indonesia dapat memanfaatkan momentum pameran untuk memperkuat posisi sebagai pemasok utama kulit dan garmen di pasar global, sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Comments (0)