Oct 08, 2026
Bisnis

Pakan Naik, Harga Telur Anjlok: Tekanan Ganda Peternak

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik per kuartal III 2026, sektor peternakan unggas nasional menghadapi tekanan ganda yang kian dalam. Harga pakan ternak tercatat mengalami...

Pakan Naik, Harga Telur Anjlok: Tekanan Ganda Peternak

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik per kuartal III 2026, sektor peternakan unggas nasional menghadapi tekanan ganda yang kian dalam. Harga pakan ternak tercatat mengalami kenaikan signifikan, sementara harga jual telur di tingkat peternak justru merosot tajam. Kombinasi ini menciptakan apa yang dalam terminologi ekonomi disebut cost-price squeeze—situasi ketika biaya produksi naik sementara pendapatan menurun, sehingga margin keuntungan terkikis habis.

Data menunjukkan harga pakan ayam petelur dan pedaging rata-rata naik di kisaran 12–18 persen year-on-year, didorong oleh kenaikan harga jagung, bungkil kedelai, dan bahan baku impor lain yang terpapar fluktuasi nilai tukar. Di sisi lain, harga telur ayam ras di tingkat peternak pada periode yang sama turun sekitar 20–25 persen dibandingkan tahun lalu. Alhasil, banyak peternak kecil dan menengah kini beroperasi di bawah titik impas (break-even point).

Respons Legislatif di Tengah Tekanan Sektor Riil

Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, menemui perwakilan peternak yang menggelar aksi di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (7/10/2026). Dalam pertemuan tersebut, ia menyatakan komitmen untuk mencarikan solusi bersama kementerian terkait dan Bulog sebagai lembaga penyangga pangan nasional.

Menurutnya, persoalan ini tidak dapat diselesaikan secara parsial. Peternak membutuhkan intervensi lintas sektor—mulai dari stabilisasi harga bahan baku pakan, penyerapan produksi, hingga akses pembiayaan yang lebih longgar. Ia menekankan pentingnya koordinasi antara Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Bulog agar kebijakan yang diambil tidak saling bertabrakan.

"Kami akan duduk bersama kementerian dan Bulog untuk mencari jalan keluar yang berpihak pada peternak kecil. Ini soal keberlanjutan pangan nasional," ujar Titiek dalam pertemuan tersebut.

Pro: Intervensi Pemerintah Diperlukan

Di satu sisi, intervensi pemerintah melalui Bulog dinilai krusial untuk mencegah kehancuran lebih lanjut sektor peternakan rakyat. Bulog dapat melakukan operasi pasar atau penyerapan telur pada harga minimum tertentu, sehingga menciptakan price floor yang melindungi peternak dari jatuhnya harga secara bebas. Dalam kerangka ekonomi, ini adalah bentuk stabilisasi harga yang lazim diterapkan pada komoditas strategis.

Selain itu, subsidi atau insentif fiskal untuk bahan baku pakan dapat menurunkan biaya produksi secara langsung. Jika harga pakan bisa ditekan, maka margin peternak kembali membaik tanpa harus menaikkan harga jual ke konsumen secara berlebihan—sebuah kondisi yang menjaga daya beli masyarakat sekaligus inflasi pangan tetap terkendali.

Pendukung kebijakan ini juga menyoroti aspek ketahanan pangan. Jika peternak kecil berguguran akibat kerugian berkepanjangan, maka pasokan nasional dalam jangka menengah berisiko terganggu. Ketika pasokan menipis, harga bisa melonjak tajam di kemudian hari—sebuah trade-off yang perlu dihindari melalui kebijakan preventif.

Kontra: Risiko Distorsi Pasar dan Beban Fiskal

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa intervensi harga yang agresif dapat menimbulkan distorsi pasar. Operasi pasar atau penetapan harga minimum yang tidak disertai perbaikan fundamental—seperti produktivitas dan efisiensi rantai pasok—hanya bersifat sementara. Ketika subsidi dihentikan, harga bisa kembali tertekan dan persoalan muncul lagi.

Dari sisi fiskal, belanja negara untuk subsidi pakan dan penyerapan produksi berpotensi membengkak. Dengan ruang fiskal yang terbatas dan kebutuhan pembiayaan lain yang juga besar, pemerintah perlu berhati-hati. Setiap rupiah yang dialokasikan untuk satu sektor berarti mengurangi alokasi untuk sektor lain—inilah yang disebut opportunity cost dalam kebijakan anggaran.

Beberapa analis menilai akar masalah justru terletak pada struktur industri yang belum efisien. Ketergantungan pada impor bahan baku pakan membuat peternak rentan terhadap sentimen pasar global dan gejolak nilai tukar. Solusi jangka panjang menuntut pengembangan bahan baku lokal, perbaikan logistik, serta penguatan kelembagaan peternak dalam bentuk koperasi atau klaster produksi.

Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan

Ke depan, arah kebijakan yang diambil akan sangat menentukan tren harga telur dan pakan pada kuartal berikutnya. Jika pemerintah memilih jalur intervensi cepat, pasar mungkin akan melihat stabilisasi dalam waktu singkat, meski dengan biaya fiskal. Sebaliknya, jika fokus pada perbaikan struktural, dampaknya mungkin baru terasa dalam jangka menengah.

Dari kacamata valuasi sektor, peternak kecil saat ini berada dalam posisi rentan. Likuiditas usaha mereka menipis, sementara akses ke permodalan tetap terbatas. Tanpa dukungan yang tepat, risiko capital outflow dari sektor ini—dalam arti hengkangnya pelaku usaha—bisa memperburuk pasokan nasional.

Yang jelas, persoalan ini bukan sekadar naik-turunnya harga di pasar. Ia menyentuh fundamental sektor pangan, kesejahteraan peternak, dan pada akhirnya ketahanan pangan seluruh bangsa. Diperlukan keseimbangan antara intervensi jangka pendek yang meredakan gejolak dan reformasi struktural yang memperkuat fondasi sektor peternakan nasional dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User