Asap pekat membumbung tinggi dari rekahan tanah gambut yang mengering di kawasan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 Padang Sugihan, Sumatera Selatan. Bau hangus yang menyengat menusuk hidung, menandakan bahaya laten yang kembali mengintai benteng pertahanan terakhir satwa endemik terancam punah tersebut. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganas tidak hanya memusnahkan vegetasi semak belukar, tetapi juga mengancam ruang hidup puluhan gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang menggantungkan hidupnya pada kawasan suaka margasatwa ini.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, kobaran api menyebar sangat cepat akibat terpaan angin kencang dan tebalnya lapisan gambut kering. Suaka Margasatwa Padang Sugihan, yang mencakup luas puluhan ribu hektar, kini berhadapan dengan situasi krisis darurat ekologi. Para mahout (pawang gajah) bersama petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) berpacu dengan waktu untuk menavigasi gajah-gajah binaan menjauhi titik api yang terus mendekati kompleks barak dan area penangkaran utama.
Kabut Asap Memenjara Benteng Terakhir Gajah
Kawasan Padang Sugihan memiliki rekam jejak panjang dalam sejarah konservasi mamalia darat terbesar di Asia. Sejak proyek pemindahan gajah historis "Operasi Ganesha" pada dekade 1980-an, kawasan ini difungsikan sebagai rumah aman bagi gajah yang terdesak pembangunan. Namun, rentetan bencana karhutla yang berulang kini mengikis vegetasi pakan alami gajah dan mencemari sumber-sumber air bersih di dalam kawasan konservasi.
"Api menyebar sangat cepat dari areal luar dan merambat ke dalam lapisan gambut dalam. Kami bekerja siang-malam menyiram titik api dengan peralatan seadanya, sembari memastikan gajah-gajah tidak panik akibat hiruk-pikuk asap dan lidah api," ujar Ahmad, salah seorang petugas lapangan BKSDA Sumatera Selatan.
Ancaman ini tidak hanya dirasakan oleh gajah-gajah jinak di PKG Jalur 21, tetapi juga kawanan gajah liar yang mendiami lanskap Sugihan. Ketika habitat inti mereka hangus terbakar, intensitas konflik antara manusia dan gajah diprediksi akan meningkat drastis. Satwa yang kelaparan terpaksa keluar kawasan demi mencari makan ke pemukiman atau perkebunan warga sekitar. "Kondisi ini ibarat memojokkan satwa yang sudah terancam punah ke ujung jurang kepunahan," ungkap seorang peneliti ekologi lahan basah.
Degradasi Gambut dan Kerentanan Kawasan
Mengapa Suaka Margasatwa Padang Sugihan begitu rentan terimbas api? Pengeringan gambut akibat pembangunan saluran drainase di masa lalu serta aktivitas pembukaan lahan di sekitar batas kawasan telah mengubah struktur alami ekosistem ini. Gambut yang terdegradasi kehilangan kemampuan alaminya dalam menyimpan air saat musim kemarau, bertransformasi menjadi sekam raksasa yang sangat mudah tersulut.
| Indikator Ekosistem | Kondisi Gambut Normal | Kondisi Saat Terjadi Karhutla |
|---|---|---|
| Muka Air Tanah (MAT) | < 0,4 meter dari permukaan | > 0,8 meter (Kategori Sangat Bahaya) |
| Ketersediaan Pakan Gajah | Melimpah (Rumput Alang & Palem) | Rusak dan Rusak Terbakar |
| Risiko Konflik Satwa-Manusia | Rendah hingga Sedang | Sangat Tinggi (Gajah Migrasi Keluar) |
Dilema Penanganan dan Desakan Aksi Nyata
Upaya pemadaman di lahan gambut Padang Sugihan menghadapi kendala logistik yang amat berat. Akses darat yang terbatas dan ketiadaan sumber air permukaan yang memadai saat kemarau menyulitkan Tim Satgas Karhutla melokalisasi titik api. Operasi pengeboman air (water bombing) dari udara sering kali menjadi satu-satunya harapan untuk menjangkau lokasi di tengah rawa gambut yang sulit ditempuh armada darat.
"Pemadaman kebakaran di tanah gambut seperti memadamkan bara di dalam sekam. Di permukaan tampak padam, tetapi di kedalaman tanah masih membara. Kita membutuhkan pemulihan kebasahan gambut secara menyeluruh, bukan sekadar penanganan darurat saat api sudah membesar," tegas Dr. Ir. Muslih Ramli, pakar restorasi gambut regional.
Jika pemerintah dan pihak terkait tidak segera melakukan restorasi hidrologi secara permanen dan memperketat pengawasan kawasan perbatasan, Padang Sugihan berisiko kehilangan fungsinya sebagai benteng konservasi. Keselamatan puluhan individu gajah Sumatra di PKG Jalur 21 kini sepenuhnya bergantung pada kecepatan respons penanggulangan bencana dan komitmen nyata dalam menjaga ekosistem lahan basah tersebut.
Kobaran api dan kabut asap pekat mengancam keberadaan Pusat Konservasi Gajah Jalur 21 Padang Sugihan, Sumsel. Simak ulasan selengkapnya hanya di Beritadua.com.
Comments (0)