Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 1 Oktober 2025, pasar modal Indonesia memasuki bulan Oktober dengan tekanan yang cukup terasa. Pada penutupan perdagangan hari tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 1,02 persen, sehingga indeks ini berada di level 6.009. IHSG sendiri merupakan indeks (ukuran statistik yang mencerminkan perubahan harga sekelompok aset) yang mengukur kinerja seluruh saham tercatat di Bursa Efek Indonesia. Pergerakan ini menandai awal dari sebuah tren pelemahan yang perlu dikaji secara berimbang, mengingat kondisi makro baik dari dalam maupun luar negeri yang turut membentuk sentimen pasar (persepsi kolektif pelaku pasar terhadap prospek ekonomi atau aset tertentu) saat ini.
Tekanan Global yang Mempengaruhi Pasar Domestik
Di satu sisi, tekanan yang dialami oleh IHSG tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekonomi global. Sejak kuartal ketiga tahun 2025, sejumlah bank sentral besar masih mempertahankan suku bunga acuan pada level yang relatif tinggi untuk menekan laju inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode). Kondisi ini berdampak langsung terhadap aliran modal global, dimana capital outflow (keluarnya modal asing dari suatu negara ke negara lain) kerap terjadi menuju pasar dengan imbal hasil yang dianggap lebih stabil. Berdasarkan proyeksi beberapa lembaga internasional, imbal hasil obligasi (surat utang) di negara maju masih berada di kisaran 4,00 persen hingga 4,50 persen secara year-on-year (perbandingan data pada periode yang sama di tahun sebelumnya), angka yang cukup kompetitif bagi investor asing untuk menarik kembali dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, ketegangan geopolitik yang masih berlangsung turut menambah ketidakpastian. Ketidakpastian ini kerap mendorong pelaku pasar untuk mengurangi eksposur (porsi aset yang berpotensi terkena risiko) terhadap aset berisiko, seperti saham, dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Dampaknya, likuiditas (kemudahan suatu aset untuk dikonversi menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai yang signifikan) di pasar saham dapat berkurang seiring berkurangnya aktivitas pembelian. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang turut mendorong terjadinya penurunan pada indeks IHSG di awal bulan Oktober.
Fundamental Domestik yang Masih Menopang
Di sisi lain, tekanan dari luar negeri perlu diimbangi dengan melihat fundamental (kondisi dasar ekonomi suatu negara, seperti pertumbuhan, inflasi, dan stabilitas fiskal) perekonomian Indonesia. Berdasarkan data BPS per Agustus 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,12 persen year-on-year, angka yang masih berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi negara berkembang sebesar 4,00 persen year-on-year. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih berjalan cukup stabil, didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta kinerja sektor jasa dan manufaktur.
Stabilitas ini juga tercermin dari sisi moneter. Bank Indonesia masih menjaga inflasi pada kisaran target 2,00 persen hingga 4,00 persen year-on-year, serta mempertahankan rasio (perbandingan antara dua angka atau nilai untuk mengukur kondisi tertentu) kecukupan cadangan devisa yang masih memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, dari sisi fiskal, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di bawah 40,00 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata negara maju yang dapat mencapai di atas 100,00 persen. Kondisi-kondisi ini menjadi bantalan yang dapat meredam laju pelemahan, meski tidak serta merta menghentikan terjadinya capital outflow dalam jangka pendek.
Lebih lanjut, valuasi (penilaian wajar suatu aset berdasarkan faktor fundamental) pasar saham Indonesia juga masih tergolong menarik jika dilihat dari beberapa indikator. Rasio harga terhadap laba (Price to Earnings Ratio/PER) untuk IHSG secara agregat masih berada di bawah rata-rata historis lima tahun terakhir, yang menunjukkan bahwa secara fundamental, beberapa sektor masih memiliki ruang penyesuaian, bukan berarti tanpa risiko. Hal ini turut berperan dalam menjaga minat pelaku pasar jangka menengah terhadap portofolio (kumpulan aset yang dimiliki oleh individu atau lembaga) saham domestik.
Dampak Terhadap Pelaku Pasar dan Proyeksi ke Depan
Pergerakan sebesar 1,02 persen pada awal Oktober ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Bagi pelaku pasar institusional, penurunan ini dapat memicu peninjauan ulang terhadap alokasi aset, namun tidak selalu berarti pergeseran besar terhadap seluruh portofolio. Sementara bagi pelaku ritel, volatilitas (tingkat fluktuasi harga suatu aset dalam periode tertentu) seperti ini dapat menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi (penyebaran investasi ke berbagai aset untuk mengurangi risiko) dan pemahaman terhadap risiko jangka pendek. Namun, yang perlu ditekankan adalah bahwa pergerakan satu hari perdagangan tidak dapat dijadikan patokan untuk tren jangka panjang.
Dalam jangka menengah, proyeksi arah pasar akan sangat bergantung pada dua faktor utama. Pertama, arah kebijakan moneter global, khususnya apakah bank sentral besar akan mulai melonggarkan suku bunga atau masih mempertahankannya hingga inflasi benar-benar terkendali. Kedua, kemampuan fundamental domestik untuk terus menopang pertumbuhan, terutama melalui konsumsi dan investasi, di tengah berkurangnya likuiditas global. Apabila tekanan global mereda, sentimen pasar berpotensi berbalik, namun apabila ketidakpastian berlanjut, tren pelemahan dapat berlanjut dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.
Secara keseluruhan, penurunan IHSG sebesar 1,02 persen ke level 6.009 di awal Oktober merupakan cerminan dari tarik-menarik antara tekanan eksternal dan ketahanan internal. Di satu sisi, capital outflow dan suku bunga tinggi di luar negeri memberikan tekanan terhadap indeks dan likuiditas pasar. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 persen year-on-year, inflasi yang terjaga, serta valuasi yang relatif terjaga menjadi faktor fundamental yang masih menopang pasar. Dengan demikian, pergerakan ini bukan hanya sekedar angka penurunan, namun sebuah refleksi dari dinamika makro yang kompleks, yang akan terus membentuk arah pasar Indonesia di sisa tahun 2025.
Comments (0)