Sep 15, 2026
Nasional

Ngawi — Tradisi Keduk Beji Tawun Sukses Pikat Ribuan Wisatawan

Kawasan Taman Wisata Pemandian Tawun di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, kembali dipadati lautan manusia. Ribuan warga lokal maupun pelancong dari luar daerah

Ngawi — Tradisi Keduk Beji Tawun Sukses Pikat Ribuan Wisatawan

Kawasan Taman Wisata Pemandian Tawun di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, kembali dipadati lautan manusia. Ribuan warga lokal maupun pelancong dari luar daerah berduyun-duyun menyaksikan berlangsungnya ritual adat Keduk Beji, sebuah upacara sakral pembersihan sumber mata air alami yang telah diwariskan secara turun-temurun lintas generasi.

Ritual tahunan yang sarat nilai historis dan spiritual ini tidak sekadar menjadi ajang pelestarian lingkungan, melainkan telah bertransformasi menjadi salah satu magnet pariwisata budaya unggulan di wilayah Ngawi. Di balik keriuhan perayaan, tradisi ini memuat pesan ekologis mendalam mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem mata air demi keberlangsungan hidup masyarakat agraris.

Menelusuri Jejak Sakralisasi Mata Air Sendang Tawun

Berdasarkan penelusuran sejarah lokal, tradisi Keduk Beji berakar dari penghormatan terhadap figur leluhur bernama Eyang Lodro Joyo atau yang kerap disapa Eyang Kotro. Konon, tokoh spiritual tersebut melakukan pertapaan hingga menghilang secara gaib (moksa) di dasar sumber mata air Sendang Tawun demi menjamin kelimpahan air bagi warga desa.

Secara etimologis, istilah keduk berarti mengeruk atau membersihkan, sedangkan beji merujuk pada sendang atau kolam mata air. Prosesi ini diselenggarakan secara kolektif dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tetua adat hingga generasi muda, untuk menguras endapan lumpur tanpa merusak ekosistem kolam alami tersebut.

"Keduk Beji bukan sekadar atraksi tontonan, melainkan bentuk ikhtiar spiritual dan ekologis warga Tawun untuk merawat sumber kehidupan yang menghidupi ribuan hektare sawah serta kebutuhan harian masyarakat," tutur salah seorang tetua adat setempat.

Kronologi Rangkaian Ritual Pembersihan Sumber Air

Prosesi sakral ini berlangsung dengan tahapan yang ketat dan tidak boleh dilewati secara sembarangan. Berikut adalah urutan rekonstruksi jalannya ritual pembersihan sendang:

  1. Penyembelihan Kambing Kendit: Upacara dibuka dengan penyembelihan kambing kendit (kambing hitam dengan lingkaran putih di perut) di dekat mata air sebagai simbol permohonan keselamatan dan tolak bala.
  2. Pembersihan Lumpur Kolam (Keduk): Ratusan pemuda dan pria dewasa turun langsung ke dalam kolam untuk mengeruk lumpur dan kotoran dasar sendang secara manual menggunakan peralatan tradisional.
  3. Penyelaman Juru Kunci: Juru kunci sendang melakukan penyelaman khusus ke rongga pusat mata air untuk mengganti kendi penyimpanan air kuno yang berada di dasar beji.
  4. Tradisi Perang Lumpur: Para warga saling melempar sisa endapan lumpur di dalam kolam sebagai representasi suka cita dan simbol penyatuan manusia dengan elemen tanah serta air.
  5. Penyiraman Air Suci dan Kenduri Bersama: Acara ditutup dengan membasuh wajah menggunakan air suci sendang dan menyantap tumpeng bersama sebagai wujud rasa syukur atas berkah kelimpahan air.

Dampak Ekonomi dan Eksistensi Kebudayaan Lokal

Tingginya antusiasme masyarakat menghadirkan efek berganda yang signifikan bagi perekonomian lokal. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pengelola wisata di kawasan Tawun mencatatkan peningkatan pendapatan yang tajam selama berlangsungnya acara kebudayaan ini.

Pemerintah Kabupaten Ngawi kini terus mengintegrasikan agenda tradisi Keduk Beji ke dalam kalender pariwisata daerah. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa warisan budaya takbenda ini tidak tergerus modernisasi, sekaligus memperkuat daya tarik destinasi wisata berbasis kearifan lokal di Jawa Timur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User