Oct 19, 2026
Bisnis

NextDev Ke-12 Telkomsel Fokus Inovasi AI dan Dampak Sosial

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan industri ekonomi digital nasional per 2024, sektor teknologi informasi Indonesia mencatat pertumbuhan investasi yang signifikan, denga...

NextDev Ke-12 Telkomsel Fokus Inovasi AI dan Dampak Sosial

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan industri ekonomi digital nasional per 2024, sektor teknologi informasi Indonesia mencatat pertumbuhan investasi yang signifikan, dengan nilai transaksi ekonomi digital diproyeksikan menembus US$82 miliar pada 2025. Di tengah tren tersebut, Telkomsel kembali membuka program inkubasi NextDev untuk edisi ke-12, kali ini memusatkan perhatian pada pengembangan inovasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang diarahkan pada penyelesaian persoalan sosial dan lingkungan.

Program ini menandai pergeseran orientasi dari sekadar pengembangan aplikasi digital menuju pemanfaatan AI yang lebih terstruktur. Bagi pembaca awam, AI merujuk pada teknologi yang memungkinkan mesin memproses data, mengenali pola, dan mengambil keputusan secara mandiri, sehingga dapat diterapkan pada layanan kesehatan, pertanian, pendidikan, hingga pengelolaan lingkungan.

Di Satu Sisi: Momentum Penguatan Ekosistem AI Nasional

Di satu sisi, langkah ini dinilai sejalan dengan kebutuhan struktur ekonomi Indonesia yang tengah bertransformasi. Rasio kewirausahaan teknologi nasional masih berada di kisaran 3,4 persen dari total angkatan kerja, jauh di bawah ambang ideal yang umumnya dipatok 4 persen. Dengan membuka ruang bagi perusahaan rintisan atau startup untuk mengembangkan produk AI, program ini berpotensi memperluas basis inovasi domestik dan menekan ketergantungan pada solusi teknologi impor.

Dari kacamata fundamental, keterlibatan operator telekomunikasi besar memberikan keunggulan akses terhadap infrastruktur data, jaringan, dan basis pengguna yang luas. Kombinasi ini dapat mempercepat proses hilirisasi riset menjadi produk yang layak komersial. Sentimen pasar terhadap sektor AI pun masih positif, tercermin dari aliran modal ventura yang mulai kembali menaruh perhatian pada tahap pendanaan awal di kawasan Asia Tenggara.

Di Sisi Lain: Tantangan Likuiditas dan Kesiapan Talenta

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa pengembangan AI membutuhkan ekosistem pendukung yang tidak murah. Kebutuhan komputasi, penyimpanan data, dan tenaga ahli menjadi beban biaya yang besar bagi perusahaan rintisan tahap awal. Tanpa dukungan pendanaan lanjutan, banyak inovasi berisiko berhenti di tahap prototipe.

"Inovasi AI tidak cukup hanya lahir dari kompetisi ide. Yang menentukan adalah kemampuan mengubah ide menjadi model bisnis berkelanjutan, dan itu sangat bergantung pada likuiditas serta kesiapan sumber daya manusia," ujar seorang pengamat ekonomi digital.

Selain itu, isu tata kelola data dan privasi menjadi perhatian. Pengembangan AI berbasis data masyarakat menuntut kerangka regulasi yang jelas, terutama setelah disahkannya aturan perlindungan data pribadi. Tanpa kepastian hukum, pelaku usaha cenderung menahan ekspansi portofolio produk mereka.

Proyeksi dan Implikasi terhadap Pasar

Mengacu pada tren tiga tahun terakhir, kontribusi sektor digital terhadap produk domestik bruto nasional berkisar 4 hingga 5 persen, dengan laju pertumbuhan year-on-year yang lebih tinggi dibanding sektor konvensional. Apabila program inkubasi semacam ini mampu menghasilkan sejumlah perusahaan rintisan yang matang, dampaknya dapat terasa pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekspor jasa digital.

Namun demikian, valuasi perusahaan rintisan AI masih sangat rentan terhadap perubahan sentimen pasar global. Fenomena capital outflow dari negara berkembang dapat mempersempit ruang pendanaan, sehingga keberlanjutan program bergantung pada konsistensi dukungan lintas sektor, termasuk pemerintah dan lembaga keuangan.

Secara keseluruhan, inisiatif ini mencerminkan upaya memperkuat fundamental ekonomi digital melalui jalur inovasi. Keberhasilannya tidak semata diukur dari jumlah peserta, melainkan dari kemampuan menciptakan solusi yang berdampak nyata bagi masyarakat sekaligus layak secara komersial. Tanpa keseimbangan kedua aspek tersebut, gelombang inovasi AI berisiko hanya menjadi tren sesaat tanpa bekas berarti pada perekonomian nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User