Di tepian sungai yang keruh di Esuk Atu, sekelompok nelayan berkumpul dengan wajah muram. Mereka bukan tengah bersiap melaut, melainkan menyuarakan kegelisahan yang telah lama terpendam. Perairan yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi kubangan yang miskin hasil dan tercemar. Tangkapan ikan yang terus menurun, pencemaran air yang kian parah, serta hilangnya hutan bakau menjadi tiga persoalan utama yang menghantui komunitas nelayan di Cross River, Nigeria.
Nelayan Kehilangan Penghidupan
Para nelayan mengaku kondisi ini bukan lagi sekadar naik-turun musiman yang biasa mereka hadapi. Dalam beberapa tahun terakhir, hasil tangkapan merosot drastis hingga lebih dari separuh dibanding satu dekade lalu. Jaring yang dahulu penuh kini sering kembali ke daratan nyaris kosong, memaksa banyak keluarga nelayan mengencangkan ikat pinggang dan mencari pekerjaan sampingan yang tidak pasti.
Seorang nelayan senior yang telah puluhan tahun melaut menggambarkan pahitnya perubahan yang ia saksikan sendiri. Dengan nada lelah namun tegas, ia menyampaikan keresahannya.
"Dulu kami bisa membawa pulang ikan sebanyak yang kami butuhkan untuk menghidupi keluarga. Sekarang, meski kami melaut lebih lama dan lebih jauh, hasilnya kadang hanya cukup untuk menutup biaya bahan bakar. Ini bukan lagi soal kerja keras, tapi soal sungai yang sudah tidak memberi kami apa-apa."
Pencemaran Air Mematikan Ekosistem
Selain penangkapan yang menipis, para nelayan menuding pencemaran air sebagai biang keladi kehancuran ekosistem sungai. Limbah dari aktivitas industri, pembuangan sampah rumah tangga, serta aliran bahan kimia dari lahan pertanian disinyalir mengalir bebas ke perairan tanpa pengolahan memadai. Akibatnya, kualitas air memburuk, ikan dan biota laut mati atau bermigrasi mencari perairan yang lebih bersih.
Warna air yang kerap berubah dan bau tak sedap menjadi pemandangan sehari-hari yang mengkhawatirkan. Beberapa nelayan bahkan mengaku enggan mengonsumsi hasil tangkapan mereka sendiri karena khawatir akan dampak kesehatan jangka panjang.
Mangrove yang Terus Menyusut
Persoalan lain yang tak kalah serius adalah hilangnya hutan bakau atau mangrove di sepanjang garis pantai dan muara sungai. Mangrove selama ini berfungsi sebagai tempat berpijah ikan, penahan abrasi, sekaligus benteng alami terhadap intrusi air laut. Namun, alih fungsi lahan untuk permukiman, tambak, dan penebangan liar membuat luasan mangrove terus menyusut dari tahun ke tahun.
- Mangrove berperan sebagai tempat pemijahan dan pembesaran ikan, sehingga hilangnya area ini berdampak langsung pada populasi ikan.
- Berkurangnya mangrove meningkatkan risiko abrasi dan banjir rob yang mengancam permukiman pesisir.
- Nelayan melaporkan bahwa area tangkapan tradisional mereka kini beralih fungsi untuk kepentingan lain tanpa kompensasi yang jelas.
- Keterlibatan masyarakat dalam program rehabilitasi dinilai masih minim dan tidak berkelanjutan.
Desakan Perubahan Kebijakan
Dalam pertemuan bersama sejumlah pejabat dan organisasi pendamping, para nelayan mendesak adanya penegakan hukum yang tegas terhadap pencemaran lingkungan serta program pemulihan ekosistem yang benar-benar melibatkan masyarakat setempat. Mereka berharap pemerintah tidak hanya hadir dalam acara seremonial, tetapijuga memberikan solusi nyata.
Jika tidak ada tindakan serius, para nelayan khawatir warisan laut yang selama ini menopang kehidupan mereka akan benar-benar sirna. Bagi mereka, sungai dan mangrove bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan identitas dan denyut nadi komunitas yang harus dijaga lintas generasi. Tantangan terbesar kini bukan lagi alam, melainkan kemauan politik untuk memulihkannya.
Comments (0)