Museum Bahari Hadirkan Pameran Suara dari Muara, Angkat Kisah Perempuan Pesisir
JAKARTA – Museum Bahari menyelenggarakan pameran bertajuk “Suara dari Muara” yang mengangkat kisah dan peran perempuan Muara Angke melalui medium fotografi, narasi, dan instalasi seni di Jakarta pada Ahad, 5 Juli 2026. Pameran ini digelar untuk memberikan ruang bagi suara perempuan pesisir yang jarang terdengar dalam arus utama perkembangan kota. Pengunjung diajak menyelami kehidupan, perjuangan, dan kearifan lokal komunitas nelayan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rumah tangga.
Menampilkan Realitas Perempuan Pesisir
Pameran ini menampilkan puluhan karya fotografi yang merekam aktivitas harian perempuan Muara Angke, mulai dari mengolah hasil laut hingga mengelola keuangan keluarga. Setiap foto dilengkapi dengan cerita singkat yang menggambarkan tantangan dan mimpi para perempuan ini.
Kurator pameran, Dina Andriani, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan hasil riset partisipatif selama enam bulan bersama komunitas setempat. Ia menekankan bahwa pendekatan yang dipilih bukan sekadar mendokumentasikan, melainkan benar memberikan ruang bagi subjek untuk bercerita.
“Kami ingin pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga mendengar suara mereka secara langsung. Setiap instalasi adalah suara yang dibungkam pembangunan,” ujar Dina.
Instalasi Seni dari Barang Bekas
Selain foto, pengunjung dapat menyaksikan sejumlah instalasi seni yang dibuat dari material daur ulang seperti jaring ikan bekas, cangkang kerang, dan kayu perahu lapuk. Instalasi ini menyimbolkan ketangguhan dan kreativitas perempuan dalam menghadapi keterbatasan.
Salah satu karya yang mencolok adalah patung berbentuk sosok perempuan yang terbuat dari ribuan tutup botol plastik. Karya ini merepresentasikan beban sampah laut yang menjadi masalah serius di kawasan Muara Angke.
Pengunjung juga dapat mengikuti tur berpemandu yang dipandu langsung oleh para perempuan dari komunitas tersebut. Mereka berbagi pengalaman langsung tentang bagaimana perubahan iklim dan reklamasi pantai mempengaruhi sumber penghasilan mereka.
Pameran “Suara dari Muara” akan berlangsung hingga akhir Agustus 2026. Pihak museum berharap pameran ini dapat meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya peran perempuan dalam menjaga ekosistem pesisir dan mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada komunitas marginal di Jakarta.
Comments (0)