Aug 25, 2026
Bisnis

Mitratel Tuntaskan Buyback Saham, Nilai Transaksi Tembus Rp635 Miliar

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) resmi menyelesaikan program pembelian kembali saham yang telah direncanakan sejak kuartal pertama. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada otoritas b...

Mitratel Tuntaskan Buyback Saham, Nilai Transaksi Tembus Rp635 Miliar

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) resmi menyelesaikan program pembelian kembali saham yang telah direncanakan sejak kuartal pertama. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan kepada otoritas bursa pada Senin (14/7), manajemen mengungkapkan bahwa perseroan telah membeli kembali sebanyak 520 juta lembar saham biasa atau setara dengan 2,1% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. Total dana yang dialokasikan untuk aksi korporasi ini mencapai Rp635 miliar, dengan harga rata-rata pembelian di level Rp1.221 per saham.

Penyelesaian buyback ini menandai babak akhir dari periode volatilitas harga saham MTEL yang sempat tertekan setelah beredar rumor merger dengan perusahaan menara lain pada semester lalu. Manajemen MTEL sebelumnya telah membentuk dana cadangan khusus untuk buyback sebesar Rp750 miliar, sehingga realisasi pembelian berada dalam batas yang telah ditetapkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada April lalu.

Latar Belakang Aksi Korporasi

Langkah buyback ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika konsolidasi di industri menara telekomunikasi nasional. Pada awal tahun, beredar wacana penggabungan MTEL dengan salah satu pemain besar lainnya guna menciptakan entitas dengan portofolio lebih dari 30.000 menara. Namun, setelah melalui proses uji tuntas dan evaluasi mendalam, pemegang saham independen MTEL menyatakan tidak sepakat dengan valuasi merger yang diajukan, terutama karena potensi dilusi nilai yang dianggap terlalu besar. Dengan batalnya rencana merger tersebut, manajemen memilih untuk mengembalikan kelebihan kas kepada pemegang saham melalui mekanisme buyback, sekaligus memberikan sinyal positif bahwa fundamental perseroan tetap kuat sebagai entitas mandiri.

Direktur Utama MTEL dalam pernyataan resminya menekankan bahwa buyback ini merupakan wujud keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis yang akan datang. “Kami melihat harga saham belum sepenuhnya mencerminkan nilai intrinsik perseroan, apalagi setelah kami berhasil menambah 2.400 penyewa baru sepanjang semester pertama. Buyback ini adalah investasi terbaik yang bisa kami lakukan saat ini,” jelasnya. Dengan demikian, penolakan merger bukanlah kemunduran, melainkan pijakan untuk memperkuat posisi tawar MTEL di tengah industri yang makin kompetitif.

Dampak terhadap Fundamental Keuangan

Dari sisi laporan keuangan, buyback ini akan mengurangi posisi ekuitas perseroan dan meningkatkan rasio laba per saham (earnings per share/EPS) karena jumlah saham beredar yang mengecil. Berdasarkan laporan keuangan terakhir, laba bersih MTEL pada semester I-2024 tercatat tumbuh 8,7% secara tahunan menjadi Rp1,42 triliun. Dengan asumsi laba bersih konstan, EPS setelah buyback berpotensi naik sekitar 2,1% menjadi Rp5,72 per saham dari sebelumnya Rp5,60 per saham. Kenaikan ini memang tidak signifikan secara persentase, tetapi cukup memberi ruang bagi perseroan untuk meningkatkan rasio pembayaran dividen di periode berikutnya jika tren kinerja operasional terus membaik.

Meski demikian, pengeluaran dana sebesar Rp635 miliar turut menggerus saldo kas dan setara kas MTEL. Pada posisi akhir Juni, kas perseroan tercatat sebesar Rp2,1 triliun, sehingga setelah buyback sisa kas diperkirakan tinggal sekitar Rp1,47 triliun. Rasio kas terhadap liabilitas jangka pendek pun menurun, memunculkan kekhawatiran minor mengenai kemampuan perseroan membiayai belanja modal organik dan ekspansi menara baru. Namun, analis memperkirakan bahwa dengan arus kas operasi yang stabil di kisaran Rp3–4 triliun per tahun, posisi likuiditas MTEL masih terbilang sehat dan mampu mendukung target penambahan 500 menara hingga akhir tahun.

Prospek Pasca-Buyback

Pasca buyback, saham MTEL langsung mengalami penguatan tipis sebesar 1,2% ke level Rp1.235 per saham pada sesi perdagangan Selasa (15/7). Sentimen investor cenderung positif karena buyback dinilai mampu menjadi katalis jangka pendek sekaligus mengurangi ketidakpastian pascagagalnya rencana merger. Beberapa rumah efek dalam riset terbarunya menaikkan rekomendasi MTEL menjadi “overweight” dengan target harga rata-rata Rp1.450 per saham, menegaskan bahwa valuasi saat ini—dengan price-to-earnings ratio sekitar 12,5 kali—masih menarik dibandingkan rata-rata sektor menara yang mencapai 15 kali.

Ke depan, MTEL dihadapkan pada ekspektasi pelaku pasar untuk terus memperbaiki tingkat okupansi menara yang saat ini berada di angka 82%, naik dari 79% di periode yang sama tahun lalu. Strategi perseroan untuk membidik segmen penyewa non-seluler seperti penyedia jasa tetap dan operator kabel optik diyakini dapat membuka sumber pendapatan baru dan mendiversifikasi risiko ketergantungan pada operator telekomunikasi besar. Di sisi lain, tekanan dari suku bunga tinggi yang masih membayangi pasar modal dapat menjadi penghambat laju kenaikan harga saham jika aliran modal asing kembali keluar.

Dengan segala dinamika tersebut, aksi buyback ini menjadi bukti bahwa MTEL punya fleksibilitas strategis untuk menjaga kepercayaan pemegang saham tanpa harus menempuh jalur merger yang berpotensi kontroversial. Kini pasar akan mencermati apakah langkah korporasi ini mampu menopang kinerja saham dalam jangka menengah, atau hanya menjadi stimulus sesaat di tengah ketatnya persaingan industri menara tanah air.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User