Oct 05, 2026
Bisnis

Mitos Tuyul dan Jejak Ketimpangan Ekonomi

Berdasarkan data BPS per 30 September 2024, rasio Gini (ukuran ketimpangan pendapatan, yaitu nilai antara 0 hingga 1 yang menunjukkan sebaran pendapatan, di mana nilai semakin mendekati 1 menandakan k...

Mitos Tuyul dan Jejak Ketimpangan Ekonomi

Berdasarkan data BPS per 30 September 2024, rasio Gini (ukuran ketimpangan pendapatan, yaitu nilai antara 0 hingga 1 yang menunjukkan sebaran pendapatan, di mana nilai semakin mendekati 1 menandakan ketimpangan yang semakin besar) Indonesia tercatat sebesar 0,381. Angka ini mengalami penurunan tipis secara year-on-year dibandingkan dengan 0,388 pada September 2023. Meski demikian, tren ketimpangan antarwilayah masih terus berlanjut, khususnya antara kawasan perkotaan dan pedesaan. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa persoalan distribusi kekayaan tidak hanya bersifat masa kini, namun juga memiliki akar sejarah yang panjang. Salah satu cerminan dari akar tersebut dapat dilihat melalui narasi sosial yang lahir di tengah tekanan ekonomi, termasuk mitos mengenai makhluk halus yang kerap dikaitkan dengan upaya memperoleh kekayaan secara instan.

Jejak Sejarah: Ketika Kebijakan Menggerus Petani

Untuk memahami mengapa narasi seperti tuyul dapat tumbuh subur di masyarakat pedesaan, perlu ditinjau fundamental (kondisi dasar ekonomi, seperti produksi, pendapatan, dan struktur kepemilikan sumber daya) perekonomian pada masa lalu. Salah satu babak yang paling berpengaruh bagi struktur agraria Indonesia adalah penerapan kebijakan tanam paksa oleh pemerintah kolonial Belanda yang berlangsung secara luas pada abad ke-19. Kebijakan ini memaksa sebagian besar petani untuk mengalokasikan sebagian lahan dan tenaga mereka untuk komoditas ekspor, seperti tebu, kopi, dan nila, alih-alih untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga mereka sendiri.

Dari sisi angka, berbagai kajian sejarah ekonomi memperkirakan bahwa surplus yang diekstraksi dari Jawa melalui sistem ini mencapai nilai yang sangat besar bagi kas kolonial. Pada periode puncaknya, penerimaan bersih dari kebijakan tersebut diproyeksikan memberikan kontribusi signifikan terhadap anggaran Belanda, bahkan menjadi salah satu sumber likuiditas (ketersediaan dana atau aset yang mudah dicairkan untuk memenuhi kebutuhan) yang menopang pembangunan di negeri induk. Di satu sisi, kebijakan ini berhasil mendorong pertumbuhan ekspor dan memperkuat posisi fiskal kolonial. Namun, di sisi lain, biaya dari pertumbuhan tersebut dibebankan secara tidak proporsional kepada petani. Hal ini terlihat dari menurunnya ketersediaan pangan, meningkatnya beban kerja, serta melemahnya kemampuan rumah tangga tani untuk membangun portofolio (kumpulan aset atau sumber daya yang dimiliki oleh individu maupun rumah tangga) kekayaan jangka panjang. Tekanan berkepanjangan inilah yang turut melahirkan kekecewaan kolektif di tengah masyarakat yang melihat hasil jerih payah mereka mengalir jauh dari desa.

Ketimpangan, Kecemburuan Sosial, dan Lahirnya Mitos

Ketimpangan ekonomi yang terakumulasi dari waktu ke waktu kerap memicu sentimen pasar (persepsi, ekspektasi, atau emosi kolektif masyarakat terhadap kondisi ekonomi, yang dapat memengaruhi perilaku sosial) tertentu. Ketika akses terhadap modal, lahan, dan peluang usaha terpusat pada segelintir pihak, sementara mayoritas hanya memiliki sumber daya terbatas, rasa ketidakadilan dapat bertransformasi menjadi kecemburuan sosial. Fenomena ini bukanlah hal yang eksklusif bagi masa kolonial, namun dapat teramati hingga saat ini. Berdasarkan data BPS per Maret 2024, persentase penduduk miskin di daerah pedesaan tercatat sebesar 11,79%, jauh lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan yang sebesar 7,09%. Perbedaan ini turut memperkuat tren kesenjangan spasial yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Di satu sisi, secara rasional, masyarakat dapat menjelaskan perbedaan kekayaan melalui faktor fundamental seperti pendidikan, akses infrastruktur, lokasi usaha, atau produktivitas kerja. Namun, di sisi lain, ketika jalur-jalur tersebut tertutup bagi banyak orang akibat struktur ekonomi yang timpang, masyarakat kerap mencari penjelasan alternatif untuk mengatasi rasa frustrasi. Narasi mengenai kekayaan yang diperoleh secara gaib, seperti melalui makhluk yang mampu mengambil uang tanpa jejak, dapat menjadi bentuk kognitif kolektif untuk menjelaskan akumulasi kekayaan yang dirasa tidak adil. Hal ini tidak membenarkan mitos tersebut, namun menjelaskan fungsi sosialnya di tengah tekanan ekonomi yang nyata.

Bank, Sistem Keuangan, dan Realitas Modern

Perkembangan sistem keuangan modern turut menjelaskan mengapa institusi seperti bank menjadi simbol yang berbeda dibandingkan dengan rumah tangga kaya pada masa lalu. Dari perspektif ekonomi, bank beroperasi dengan rasio (perbandingan angka yang digunakan untuk mengukur kondisi keuangan, seperti kecukupan dana atau tingkat risiko) pengelolaan yang ketat, pencatatan transaksi digital, serta sistem pengawasan berlapis. Likuiditas bank juga diawasi oleh otoritas, dengan indeks kesehatan bank yang dipantau secara berkala. Selain itu, arus modal global turut berperan, di mana capital outflow (keluarnya dana asing atau modal dari suatu negara ke negara lain) dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar, namun pencurian tunai dalam skala besar melalui celah gaib jelas tidak tercatat dalam mekanisme valuasi (penilaian terhadap nilai suatu aset berdasarkan data dan kondisi pasar) maupun pelaporan keuangan.

Di satu sisi, sistem ini memang dirancang untuk melindungi dana masyarakat dan menjaga stabilitas keuangan, sehingga akses fisik terhadap simpanan secara sembarangan menjadi sangat terbatas. Di sisi lain, kompleksitas sistem perbankan ini justru dapat memperlebar jurang pemahaman. Bagi masyarakat yang tidak terbiasa dengan konsep tabungan digital, transfer elektronik, atau agunan kredit, mekanisme perputaran uang di bank bisa terasa abstrak dan jauh dari pengalaman sehari-hari. Ketika sesuatu terasa tidak kasat mata, maka penjelasan gaib kerap lebih mudah diterima dibandingkan penjelasan mengenai neraca, bunga, atau cadangan wajib. Kondisi ini menjadi ironi tersendiri: semakin modern sistem keuangannya, semakin besar pula potensi kesenjangan literasi ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh narasi mitologis.

Menuju Pemahaman yang Berimbang

Fenomena ini menegaskan pentingnya melihat mitos bukan semata sebagai cerita rakyat, melainkan sebagai cerminan dari realitas ekonomi dan sosial. Data menunjukkan bahwa tekanan ekonomi struktural, seperti ketimpangan wilayah, tingkat kemiskinan pedesaan, dan warisan distribusi sumber daya yang timpang, masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Upaya memperluas akses terhadap pendidikan ekonomi, infrastruktur, serta kesempatan usaha merupakan langkah fundamental untuk menutup celah kekecewaan yang kerap melahirkan sentimen negatif.

Di satu sisi, memahami akar sejarah ekonomi dapat membantu menjelaskan mengapa narasi tertentu bertahan lintas generasi. Di sisi lain, penguatan literasi keuangan menjadi kunci agar masyarakat mampu menganalisis perbedaan kekayaan berdasarkan data, bukan dugaan. Dengan menyeimbangkan kedua perspektif ini, pembaca dapat melihat bahwa pertanyaan mengenai mengapa kekayaan tidak mudah diraih bukanlah pertanyaan tentang makhluk halus, melainkan pertanyaan tentang kebijakan, struktur, dan akses yang perlu terus dibenahi demi terciptanya perekonomian yang lebih adil bagi seluruh lapisan masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User