Misteri Tanggal Lahir Jakarta: Benarkah 22 Juni 1527?

Setiap tanggal 22 Juni, warga Jakarta merayakan hari jadi kota mereka. Namun, di balik kemeriahan itu, muncul pertanyaan yang mengusik: benarkah Jakarta lahir tepat pada 22 Juni 1527? Sejumlah penelit...

Misteri Tanggal Lahir Jakarta: Benarkah 22 Juni 1527?

Setiap tanggal 22 Juni, warga Jakarta merayakan hari jadi kota mereka. Namun, di balik kemeriahan itu, muncul pertanyaan yang mengusik: benarkah Jakarta lahir tepat pada 22 Juni 1527? Sejumlah penelitian sejarah mutakhir justru mengungkap fakta yang mengejutkan. Tanggal yang selama ini diyakini sebagai tonggak berdirinya Jayakarta ternyata menyimpan kontroversi yang belum terselesaikan.

Sejarah Penetapan 22 Juni

Penetapan 22 Juni 1527 sebagai hari jadi Jakarta bukanlah hal yang sudah ada sejak zaman kolonial. Keputusan ini baru disahkan pada 1956 melalui seminar yang diadakan oleh Pemerintah Kotapraja Jakarta. Dalam seminar tersebut, para sejarawan dan tokoh masyarakat sepakat mengambil momentum penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah sebagai momen kelahiran kota. Saat itu, pasukan gabungan Demak–Cirebon berhasil mengusir Portugis sekaligus memutus perjanjian antara Kerajaan Sunda dan penjajah Eropa. Nama Sunda Kelapa pun diubah menjadi Jayakarta, yang berarti "kota kemenangan".

Namun, dari mana angka 22 Juni itu berasal? Sumber primer yang sering dirujuk adalah naskah Carita Purwaka Caruban Nagari kronik Banten dari abad ke-16. Sayangnya, naskah tersebut tidak menyebutkan tanggal secara eksplisit dalam penanggalan Masehi. Perhitungan 22 Juni diduga kuat berasal dari konversi kalender Islam atau penanggalan Sunda ke kalender Gregorian—sebuah proses yang rentan terhadap kesalahan interpretasi.

Kontroversi di Kalangan Sejarawan

Sejarawan dari Universitas Indonesia, Dr. Lilie Suratminto, dalam disertasinya mengungkapkan keraguan serius terhadap akurasi 22 Juni. Menurutnya, penaklukan Sunda Kelapa lebih mungkin terjadi pada bulan Maret atau April 1527, bukan Juni. Argumen ini didasarkan pada catatan perjalanan armada Portugis yang menunjukkan bahwa mereka meninggalkan Malaka pada Januari 1527 dan tiba di perairan Sunda Kelapa sekitar Maret. Konfrontasi dengan pasukan Fatahillah terjadi segera setelah itu, sehingga kecil kemungkinan pertempuran berlangsung hingga Juni.

Sejarawan lain, Adolf Heuken, juga mencatat bahwa prasasti Padrao yang didirikan Portugis di Sunda Kelapa bertanggal 21 Agustus 1522, tetapi tidak ada bukti yang menghubungkan langsung peristiwa itu dengan tanggal 22 Juni. Bahkan, ada pendapat bahwa nama "Jayakarta" baru muncul belakangan dalam dokumen Belanda, tidak langsung oleh Fatahillah.

Menggali Sumber Primer: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Sumber-sumber Eropa seperti Suma Oriental karya Tomé Pires (1515) tidak menyebut Jayakarta, melainkan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan penting Kerajaan Sunda. Sumber lokal seperti Babad Banten dan Hikayat Banjar hanya memberikan gambaran naratif, tanpa penanggalan pasti. Jadi, rekonstruksi peristiwa sangat bergantung pada penafsiran sejarawan kolonial seperti F. de Haan, yang pada awal abad ke-20 mengaitkan penaklukan Sunda Kelapa dengan tahun 1527.

Selain itu, pertempuran antara Fatahillah dan Portugis sebenarnya bukanlah perang besar. Armada Portugis di bawah Francisco de Sa hanya terdiri dari beberapa kapal. Mereka gagal mendarat dan memilih mundur. Momen ini oleh pemerintah Indonesia kemudian dianggap sebagai simbol kemenangan atas penjajahan, padahal secara militer tidak signifikan.

Tanggal Alternatif: Apakah Ada Hari Jadi yang Lebih Tepat?

Beberapa pihak mengusulkan tanggal lain, seperti 21 Agustus 1522 saat perjanjian antara Raja Sunda Surawisesa dan Portugis ditandatangani. Tanggal ini justru dianggap sebagai awal pengakuan internasional terhadap Sunda Kelapa. Namun, ironisnya, perjanjian itu adalah bentuk tunduknya kerajaan lokal pada kekuatan asing—sehingga tidak cocok dengan semangat nasionalisme.

Ada pula usulan untuk menggunakan tanggal kelahiran Batavia oleh VOC pada 30 Mei 1619 ketika Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta dan membangun kota baru. Namun, ide ini juga ditolak karena dianggap merayakan kolonialisme. Akhirnya, 22 Juni tetap dipertahankan karena "paling netral" dan bisa diterima berbagai golongan.

Pandangan Pemerintah dan Makna Simbolis

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri tidak ambil pusing dengan perdebatan ini. Dalam berbagai kesempatan, pejabat seperti Wagub Ahmad Riza Patria menegaskan bahwa tanggal 22 Juni telah ditetapkan melalui Keputusan DPRDS No. 6/D/K/1956 dan memiliki kekuatan hukum. Perayaan ulang tahun Jakarta bukan sekadar soal fakta sejarah, melainkan bagian dari branding kota dan identitas kolektif warganya.

Namun, kritikus menilai penetapan tanggal yang lemah secara historis bisa menyesatkan generasi muda tentang pemahaman sejarah yang benar. "Sejarah bukan cerita yang kita ciptakan untuk menyenangkan diri kita," kata sejarawan JJ Rizal. "Jika kita ingin menghargai sejarah, kita harus berani menerima kenyataan yang rumit."

Kesimpulan: Mitos yang Berguna?

Pada akhirnya, pertanyaan apakah Jakarta benar lahir pada 22 Juni 1527 mungkin tidak akan pernah terjawab dengan pasti. Yang jelas, tanggal tersebut telah menjadi bagian dari narasi kolektif yang membanggakan. Mitos pendirian kota—seperti mitos pendirian bangsa—kerap kali lebih penting sebagai perekat sosial daripada kebenaran kesejarahan. Seperti yang ditulis peneliti sejarah publik, "Jakarta tidak benar-benar lahir pada hari itu, tetapi kita bisa merayakan kemenangan atas rasa rendah diri."

Selama masyarakat tetap kritis dan memahami bahwa perayaan adalah konstruksi sosial, barangkali tidak ada salahnya menyalakan lilin ulang tahun ke-497 pada 22 Juni nanti. Namun, bagi mereka yang menginginkan kejujuran sejarah, perjalanan menuju tanggal yang lebih akurat masih panjang.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User