Presiden Soekarno Nyaris Ditembak Saat Salat Iduladha di Istana
Peristiwa mencekam nyaris mengubah sejarah Indonesia ketika satu letusan senjata api tiba-tiba memecah kekhusyukan salat Idul Adha di kompleks Istana Merdeka, Jakarta. Presiden pertama Republik Indone...
Peristiwa mencekam nyaris mengubah sejarah Indonesia ketika satu letusan senjata api tiba-tiba memecah kekhusyukan salat Idul Adha di kompleks Istana Merdeka, Jakarta. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, menjadi sasaran percobaan pembunuhan yang terjadi tepat pada momen paling sakral bagi umat Islam, yakni saat beliau tengah menunaikan ibadah salat Idul Adha. Insiden ini mengejutkan seluruh jamaah dan aparat keamanan yang tengah berjaga di sekitar lokasi pada 10 Zulhijah 1381 Hijriah, atau bertepatan dengan 14 Mei 1962.
Detik-Detik Menegangkan di Pagi Iduladha
Pagi itu, langit Jakarta cerah ketika iring-iringan Presiden Soekarno beserta keluarga dan para pejabat tinggi negara bersiap melaksanakan salat Id di halaman Istana Merdeka. Ribuan umat Islam telah berkumpul sejak subuh untuk mengikuti ibadah sunnah yang dipimpin langsung oleh sang kepala negara sebagai imam. Suasana penuh khidmat dan tak ada tanda-tanda mencurigakan sebelum salat dimulai. Namun, di antara kerumunan jamaah, seseorang telah merencanakan aksi yang dapat mengoyak stabilitas negara.
Ketika jamaah sedang menunaikan rakaat pertama, seorang pria yang mengenakan pakaian ihram tiba-tiba bergerak mendekati saf terdepan tempat Presiden Soekarno memimpin salat. Ia menyelinap di antara para pengawal yang saat itu juga tengah salat, sehingga pengawalan fisik menjadi sangat longgar. Pria itu kemudian mengeluarkan sepucuk pistol otomatis kaliber 9 mm dari balik jubahnya, mengarahkannya tepat ke arah kepala Presiden yang sedang bersujud, lalu menarik pelatuk. Suara letusan terdengar menggelegar, memecah konsentrasi jamaah. Namun, entah karena faktor gugup atau intervensi halus dari jamaah di sampingnya, tembakan itu meleset dan mengenai bagian atas sajadah yang menimbulkan lubang di belakang kepala Soekarno. Presiden langsung ditubruk oleh ajudan yang baru menyadari bahaya itu.
Siapa Pelaku dan Apa Motifnya?
Pelaku yang diidentifikasi belakangan adalah Muhammad Ali bin Bachmid, seorang pemuda berusia 24 tahun asal Gorontalo. Ia adalah mantan anggota milisi yang pernah dilatih oleh pasukan Belanda pada masa agresi militer. Dari penyelidikan aparat keamanan yang dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Abdul Haris Nasution, diketahui bahwa pelaku telah merencanakan aksinya seorang diri. Ia menyusup ke area istana dengan berpura-pura sebagai jamaah salat Id dari daerah, memanfaatkan tradisi Soekarno yang terbuka menerima masyarakat umum untuk salat berjamaah di istana.
Motif penembakan ini tidak tunggal. Di satu sisi, Ali dikatakan kecewa terhadap kebijakan Presiden Soekarno yang dianggap terlalu akomodatif terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) serta terlalu keras terhadap elemen Islam politik. Di sisi lain, intelijen mendapati bahwa pelaku pernah terpapar propaganda kelompok separatis yang menginginkan Indonesia bubar. Meskipun begitu, dalam persidangannya, Ali mengaku bahwa tindakannya didasari 'ilham pribadi' dan bukan bagian dari konspirasi terorganisasi. Pernyataan ini tetap dibantah oleh banyak pihak yang menduga ada dalang lebih besar di balik upaya de-Soekarnoisasi tersebut. Pelaku langsung ditangkap hidup-hidup dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh Pengadilan Militer, yang kemudian diperingan menjadi hukuman mati setelah terbukti merencanakan pembunuhan berencana terhadap kepala negara.
Guncangan Politik dan Perkuatan Keamanan Presiden
Percobaan pembunuhan ini memberikan pukulan psikologis telak bagi Soekarno dan lingkaran kekuasaannya. Presiden yang kala itu tengah berada di puncak popularitasnya menerima gelombang simpati dari seluruh penjuru negeri dan mancanegara. Puluhan kepala negara mengirim telegram dukungan, mengecam aksi teror tersebut. Namun, di balik simpati publik, peristiwa ini membuka celah ketidakpercayaan Soekarno terhadap lingkaran militer dan intelijen. Soekarno menuding ada kecerobohan fatal dalam pengamanan istana; bagaimana mungkin seorang pemuda bisa membawa senjata api ke barisan paling depan tanpa terdeteksi?
Peristiwa 14 Mei 1962 itu kemudian menjadi momentum perombakan besar-besaran di tubuh Pasukan Pengawal Presiden (Tjakrabirawa). Masa tugas pengawal yang merangkap jamaah salat dilarang total. Prosedur pengamanan berlapis diperkenalkan, termasuk pemasangan detektor logam sederhana dan pemeriksaan bergilir sebelum Presiden memasuki area publik. Intelijen politik juga memperingatkan bahwa ini adalah percobaan pertama dari serangkaian plot pembunuhan terhadap Soekarno yang lebih besar, yang kemudian terbukti dengan sejumlah upaya serupa di tahun-tahun berikutnya. Peristiwa ini juga dimanfaatkan Soekarno untuk memperkeras retorika anti-nekolim (neokolonialisme, kolonialisme, imperialisme), menyebut bahwa upaya membunuhnya adalah bagian dari agenda internasional untuk menjatuhkan Indonesia. Tragedi nyaris maut ini, meski gagal, menorehkan luka dalam di benak Bung Karno dan membungkam narasi bahwa Presiden kebal dari segala ancaman.
Baca juga:
Comments (0)