Oct 13, 2026
Bisnis

Mikroalga dan Prospek Bioavtur Nasional dalam Sorotan Ekonomi

Berdasarkan pernyataan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, pada awal pekan ini, Indonesia tengah menjajaki pengembangan mikroalga sebagai bahan baku bahan bakar pes...

Mikroalga dan Prospek Bioavtur Nasional dalam Sorotan Ekonomi

Berdasarkan pernyataan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, pada awal pekan ini, Indonesia tengah menjajaki pengembangan mikroalga sebagai bahan baku bahan bakar pesawat atau bioavtur. Pernyataan tersebut membuka diskursus baru di tengah tekanan harga minyak dunia yang bergerak dalam rentang USD 75–85 per barel sepanjang kuartal terakhir, serta komitmen dekarbonisasi sektor penerbangan global yang menargetkan penurunan emisi karbon hingga 50 persen pada 2050 dibandingkan level 2005. Bagi pembaca awam, mikroalga adalah organisme renik yang tumbuh di air dan mampu menghasilkan minyak nabati melalui proses fotosintesis, sehingga berpotensi diolah menjadi bahan bakar cair pengganti avtur fosil.

Potensi Fundamental dan Daya Tarik Ekonomi Mikroalga

Secara fundamental, mikroalga menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan komoditas bioenergi konvensional seperti kelapa sawit atau jagung. Riset lembaga internasional menunjukkan produktivitas minyak mikroalga dapat mencapai 5.000–10.000 liter per hektare per tahun, jauh melampaui sawit yang berkisar 4.000 liter per hektare per tahun. Artinya, kebutuhan lahan untuk memproduksi bioavtur dapat ditekan, mengurangi risiko deforestasi yang selama ini menjadi sentimen negatif bagi industri sawit nasional di pasar global. Dari sisi neraca perdagangan, pengembangan bioavtur domestik berpotensi menekan impor bahan bakar minyak yang pada 2023 mencapai USD 39,4 miliar, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Di satu sisi, para analis melihat peluang ini sebagai diversifikasi portofolio energi yang strategis. Pemerintah telah memiliki mandat pencampuran biodiesel B35 yang berlaku sejak 2023, dan pengalaman tersebut dapat menjadi fondasi likuiditas rantai pasok untuk bioavtur. Beberapa perusahaan energi nasional bahkan telah memulai uji coba produksi bioavtur berbasis minyak jelantah dan kelapa sawit dengan kapasitas terbatas, yang menunjukkan kesiapan teknologi dasar di dalam negeri.

Tantangan Struktural dan Sisi Lain Perhitungan Biaya

Di sisi lain, hitungan ekonomi mikroalga masih menghadapi ganjalan besar. Biaya produksi per liter bioavtur dari mikroalga saat ini diperkirakan berada di kisaran USD 1,5–3,0 per liter, jauh lebih mahal dibandingkan avtur fosil yang berkisar USD 0,6–0,8 per liter. Rasio biaya tersebut membuat produk ini belum kompetitif tanpa subsidi atau insentif fiskal. Selain itu, teknologi kultivasi skala besar masih menghadapi kendala pada tahap pemanenan dan ekstraksi minyak, yang menyumbang 60–70 persen dari total biaya produksi. Pertanyaan tentang ketersediaan lahan non-produktif, pasokan air, serta nutrisi untuk pertumbuhan mikroalga juga belum terjawab secara rinci dalam kerangka kebijakan yang ada.

"Pengembangan bioenergi berbasis mikroalga membutuhkan investasi riset jangka panjang, bukan sekadar proyek percontohan. Tanpa ekosistem industri yang terintegrasi, biaya produksi akan sulit turun secara signifikan dalam lima tahun ke depan," ujar seorang pengamat ekonomi energi di Jakarta, yang meminta identitasnya tidak disebutkan.

Dari perspektif pasar modal, sentimen terhadap sektor energi hijau masih fluktuatif. Indeks saham sektor energi terbarukan di bursa domestik mencatat penurunan 12,4 persen secara year-on-year per akhir kuartal ketiga, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap valuasi yang belum didukung profitabilitas. Capital outflow dari instrumen hijau juga terpantau meningkat seiring kenaikan suku bunga acuan global, yang membuat imbal hasil obligasi konvensional lebih menarik.

Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan

Pro: jika berhasil, mikroalga dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petambak mikroalga, serta mengurangi emisi karbon sektor penerbangan nasional hingga 70 persen per penerbangan jika digunakan secara penuh. Kontra: tanpa kejelasan harga pembelian, jaminan pasar, dan insentif pajak, investor berpotensi menahan diri, sehingga proyek ini berisiko stagnan di tahap riset. Proyeksi pemerintah menunjukkan kebutuhan bioavtur nasional dapat mencapai 1,2 juta kiloliter pada 2030, angka yang tidak kecil namun menuntut kepastian regulasi dan pendanaan.

Ke depan, kunci keberhasilan terletak pada sinergi antara kebijakan fiskal, riset teknologi, dan kemitraan swasta. Tanpa perbaikan fundamental biaya dan kepastian permintaan, mikroalga akan tetap menjadi potensi besar yang belum terkonversi menjadi nilai ekonomi nyata. Pasar akan menanti bukti konkret berupa penurunan biaya produksi dan kontrak jangka panjang, bukan sekadar narasi visi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User