Oct 19, 2026
Bisnis

Mikroalga dan Masa Depan Avtur: Peluang atau Janji Semu?

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per awal 2024, konsumsi avtur nasional mencapai sekitar 8,2 juta kiloliter per tahun dan tumbuh rata-rata 5,4 persen year-on-year dal...

Mikroalga dan Masa Depan Avtur: Peluang atau Janji Semu?

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per awal 2024, konsumsi avtur nasional mencapai sekitar 8,2 juta kiloliter per tahun dan tumbuh rata-rata 5,4 persen year-on-year dalam satu dekade terakhir. Angka ini menempatkan sektor penerbangan sebagai salah satu penyumbang emisi karbon yang terus meningkat, seiring pemulihan industri pariwisata pascapandemi. Di tengah tekanan global untuk menurunkan emisi, perhatian mulai bergeser ke sumber energi alternatif yang selama ini terabaikan: mikroalga.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, baru-baru ini menyoroti potensi mikroalga sebagai bahan baku bahan bakar pesawat atau avtur berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF). Pernyataan itu membuka diskursus baru tentang diversifikasi energi nasional, sekaligus mempertanyakan seberapa realistis menjadikan organisme mikroskopis ini sebagai tulang punggung transisi energi penerbangan.

Anatomi Peluang: Mengapa Mikroalga Dilirik

Mikroalga adalah organisme fotosintetik berukuran mikrometer yang mampu mengakumulasi lipid hingga 20–50 persen dari bobot keringnya, bahkan pada galur tertentu bisa menembus 70 persen dalam kondisi stres nutrisi. Lipid inilah yang dapat dikonversi menjadi biofuel melalui proses transesterifikasi atau hydrocracking. Dibandingkan kelapa sawit yang menghasilkan sekitar 4–5 ton minyak per hektare per tahun, mikroalga dalam sistem tertutup berpotensi menghasilkan 10–30 kali lipat per satuan luas, karena tidak memerlukan lahan produktif dan bisa dibudidayakan di kolam maupun fotobioreaktor.

“Sumber daya alam Indonesia yang kaya harus dioptimalkan, termasuk mikroalga yang selama ini belum tergarap serius,” ujar Hashim dalam sebuah forum iklim dan energi.

Dari sisi fundamental, Indonesia memiliki keunggulan komparatif: garis pantai 99.093 kilometer, intensitas matahari tinggi sepanjang tahun, serta suhu tropis yang ideal untuk pertumbuhan mikroalga. Sejumlah riset lembaga nasional menunjukkan produktivitas biomassa dapat mencapai 20–30 gram per meter persegi per hari pada kondisi terkontrol. Jika dikomersialkan, ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah yang selama ini menjadi beban neraca dagang.

Di Sisi Lain: Realitas Ekonomi dan Teknologi

Namun, di sisi lain, optimisme perlu diuji dengan angka. Biaya produksi biofuel dari mikroalga saat ini masih berkisar USD 5–15 per liter setara diesel, jauh di atas avtur konvensional yang berada di rentang USD 0,6–0,9 per liter sebelum pajak karbon. Selisih ini menjadi kendala utama dalam hal valuasi komersial. Tanpa subsidi atau insentif fiskal, produsen tidak memiliki insentif ekonomi untuk beralih.

Dari perspektif teknologi, tantangan utamanya adalah scale-up: membudidayakan mikroalga dalam volume besar secara stabil, memanen biomassa, dan mengekstraksi lipid dengan efisiensi tinggi. Proses dewatering dan ekstraksi menyumbang 60–70 persen dari total biaya produksi. Selain itu, kontaminasi kultur, kebutuhan karbon dioksida, dan konsumsi energi pada fotobioreaktor masih menjadi hambatan yang belum sepenuhnya terpecahkan secara industri.

Pro: pengembangan mikroalga membuka lapangan kerja hijau, mendukung target net zero emission 2060, dan mengurangi capital outflow akibat impor energi. Kontra: tanpa terobosan biaya dan dukungan infrastruktur, proyek ini berisiko berhenti sebagai proyek riset tanpa dampak komersial signifikan.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Secara global, pasar SAF memang sedang tumbuh. Asosiasi transportasi udara internasional memperkirakan kebutuhan SAF dunia mencapai 17,5 juta ton pada 2030 dan bisa melonjak hingga 290 juta ton pada 2050. Uni Eropa menerapkan mandat pencampuran SAF minimal 2 persen pada 2025 dan meningkat bertahap. Ini menciptakan permintaan yang nyata, sekaligus peluang ekspor bagi negara produsen.

Namun likuiditas investasi di sektor ini masih tipis. Pendanaan riset mikroalga nasional relatif kecil dibandingkan alokasi untuk biodiesel berbasis sawit yang sudah matang secara rantai pasok. Pemerintah perlu mendorong kemitraan antara lembaga riset, BUMN energi, dan swasta, disertai peta jalan yang jelas. Tanpa itu, narasi mikroalga hanya akan menjadi sentimen pasar sesaat tanpa fundamental yang kokoh.

Kesimpulannya, mikroalga menawarkan potensi strategis jangka panjang bagi ketahanan energi penerbangan nasional. Namun, transisi dari laboratorium ke kilang komersial membutuhkan kombinasi kebijakan fiskal, riset terapan, dan investasi berkelanjutan. Peluang itu nyata, tetapi bukan jalan pintas. [Beritadua]

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User