Michael Burry Pertahankan Posisi Jual di Tengah Rekor S&P 500
Berdasarkan data bursa Amerika Serikat per penutupan perdagangan pekan ini, indeks S&P 500 bergerak di kisaran 6.800 setelah sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas level 6.900. Penguat...
Berdasarkan data bursa Amerika Serikat per penutupan perdagangan pekan ini, indeks S&P 500 bergerak di kisaran 6.800 setelah sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas level 6.900. Penguatan indeks sekitar 15 persen secara year-on-year itu tidak menggoyahkan sikap investor legendaris Michael Burry, yang justru mempertahankan posisi jual (short selling) sembari mengingatkan risiko kejatuhan pasar serupa tragedi Black Monday 1987. Pada 19 Oktober 1987, indeks Dow Jones anjlok 22,6 persen hanya dalam satu sesi perdagangan, menjadikannya penurunan harian terdalam dalam sejarah pasar saham modern.
Nama Burry mencuri perhatian dunia setelah ia secara akurat memprediksi krisis keuangan global 2008 melalui taruhan melawan pasar kredit perumahan AS, kisah yang kemudian difilmkan dalam The Big Short. Kini, melalui Scion Asset Management, ia kembali mengambil sikap berseberangan dengan sentimen pasar yang tengah euforia terhadap saham teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Posisi Jual di Tengah Euforia Pasar
Berdasarkan dokumen keterbukaan kepada regulator pasar modal AS, Scion Asset Management diketahui memegang opsi jual (put option) atas saham Nvidia dan Palantir dengan nilai nosional gabungan sekitar 1,1 miliar dollar AS. Put option adalah kontrak yang memberikan hak menjual aset pada harga tertentu, sehingga nilainya mengalami kenaikan ketika harga saham acuan mengalami penurunan. Langkah ini menegaskan keyakinan Burry bahwa valuasi saham-saham penggerak utama indeks sudah melampaui batas kewajaran.
Burry bahkan dilaporkan mengembalikan dana kelolaan kepada investor dan mencabut registrasi Scion sebagai penasihat investasi, sebuah langkah yang memicu spekulasi bahwa ia ingin bergerak lebih leluasa tanpa kewajiban pelaporan publik. Dalam sejumlah unggahannya, ia menyinggung kemiripan struktur pasar saat ini dengan kondisi menjelang kejatuhan 1987, ketika tren kenaikan berjalan terlalu cepat dan mekanisme perdagangan otomatis justru memperparah aksi jual.
Di Satu Sisi: Sinyal Gelembung Mulai Terlihat
Argumen Burry memiliki pijakan data yang tidak bisa diabaikan. Rasio valuasi Shiller CAPE (cyclically adjusted price-to-earnings), yakni perbandingan harga saham terhadap rata-rata laba sepuluh tahun, kini berada di kisaran 38 hingga 40 kali, jauh di atas rata-rata historis sekitar 17 kali dan mendekati puncak gelembung dot-com tahun 2000 yang menyentuh 44 kali. Konsentrasi pasar juga ekstrem: sepuluh saham terbesar kini menguasai lebih dari sepertiga kapitalisasi S&P 500, level tertinggi dalam beberapa dekade.
Di satu sisi, analis yang sepakat dengan Burry menilai belanja modal raksasa teknologi untuk infrastruktur AI yang menembus ratusan miliar dollar AS belum tentu menghasilkan imbal hasil sepadan. Jika proyeksi pendapatan dari AI meleset, koreksi valuasi bisa terjadi cepat dan dalam, persis seperti pola 1987 ketika pasar yang mengalami kenaikan lebih dari 30 persen dalam setahun runtuh hanya dalam hitungan hari.
Di Sisi Lain: Fundamental Masih Menopang Reli
Di sisi lain, kubu optimis menilai perbandingan dengan 1987 kurang tepat. Laba perusahaan anggota S&P 500 diproyeksikan tumbuh sekitar 10 hingga 12 persen year-on-year, ditopang pendapatan riil dari adopsi AI, bukan sekadar ekspektasi. Kondisi makroekonomi AS juga relatif stabil: tingkat pengangguran bertahan di kisaran 4,2 persen, inflasi melandai menuju 3 persen, dan bank sentral AS membuka ruang pelonggaran suku bunga yang menjaga likuiditas pasar.
Sejarah juga mencatat bahwa peringatan dini tidak selalu berbuah benar. Burry sendiri beberapa kali mengeluarkan sinyal jual sejak 2021, namun indeks S&P 500 justru mencetak gain tahunan di atas 20 persen pada 2023 dan 2024. Bagi sebagian manajer portofolio, keluar dari pasar terlalu cepat sama mahalnya dengan terlambat keluar.
Implikasi bagi Pasar Domestik
Bagi Indonesia, eskalasi risiko di pasar global patut dicermati. Berdasarkan data Bank Indonesia, rupiah bergerak di kisaran Rp16.500 per dollar AS dengan BI Rate di level 4,75 persen. Koreksi tajam di Wall Street berpotensi memicu capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar saham dan obligasi domestik, yang dapat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta nilai tukar.
Namun, fundamental domestik memiliki bantalan: cadangan devisa tetap di atas 150 miliar dollar AS dan rasio kepemilikan asing di surat berharga negara relatif terkendali. Pada akhirnya, peringatan Burry sebaiknya dibaca sebagai pengingat pentingnya manajemen risiko dan diversifikasi portofolio, bukan sebagai kepastian arah pasar. Investor yang bijak akan menimbang kedua sisi argumen sebelum mengambil keputusan.
Comments (0)