Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Di Provinsi Aceh, salah satu kantong UMKM yang menarik dicermati adalah industri kerajinan sulam kasab, warisan budaya yang telah berusia ratusan tahun. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh mencatat terdapat lebih dari 1.200 perajin kasab yang tersebar di Kabupaten Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Utara. Angka ini mengalami kenaikan sekitar 8,5 persen year-on-year dibanding 2022, seiring pulihnya permintaan pascapandemi.
Sulam kasab sendiri adalah teknik menyulam benang emas atau perak pada kain, biasanya digunakan untuk busana pengantin dan upacara adat. Bagi pembaca awam, industri ini bisa diibaratkan sebagai sektor padat karya yang nilai tambahnya sangat bergantung pada keterampilan tangan, bukan mesin. Karena itu, akses terhadap modal kerja dan pelatihan menjadi faktor fundamental penentu pertumbuhan.
Di Satu Sisi: Pembiayaan Mikro Mendorong Skala Usaha
Sejumlah pelaku usaha mengaku merasakan dampak positif dari skema pembiayaan ultra mikro yang menyasar nasabah dengan plafon di bawah Rp10 juta. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2023, penyaluran kredit ultra mikro nasional mencapai sekitar Rp35,4 triliun, tumbuh 12,7 persen secara tahunan. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di segmen ini relatif terkendali di kisaran 2,1 persen, jauh lebih baik dari ekspektasi awal banyak analis.
Salah satu pengrajin di Aceh Besar, misalnya, mengaku omset bulanannya naik dari Rp4,5 juta menjadi Rp11 juta dalam dua tahun setelah menerima pinjaman modal dan pendampingan usaha. Kenaikan itu didorong kemampuan membeli bahan baku benang emas dalam jumlah besar sehingga biaya per unit menurun.
"Modal bukan satu-satunya kunci, tetapi tanpa modal, perajin sulit naik kelas. Pelatihan desain dan pemasaran digital memberi efek berlipat," ujar seorang pendamping UMKM di kawasan tersebut.
Di Sisi Lain: Tantangan Struktural Masih Membayangi
Namun, sentimen pasar tidak seluruhnya positif. Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa pertumbuhan kredit ultra mikro tidak selalu berkorelasi linear dengan peningkatan kesejahteraan. Indeks literasi keuangan nasional per 2023 baru berada di level 65,4 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 75,02 persen. Artinya, masih ada gap sekitar 9,6 poin antara masyarakat yang paham produk keuangan dan yang benar-benar memakainya.
Risiko lain datang dari sisi permintaan. Penjualan busana adat sangat bergantung pada siklus musim pernikahan dan kemampuan daya beli masyarakat. Ketika inflasi pangan naik ke level 5,95 persen secara year-on-year pada September 2023, sebagian rumah tangga menekan pengeluaran untuk produk kerajinan. Akibatnya, beberapa perajin melaporkan penurunan pesanan hingga 20 persen pada kuartal tertentu.
Dari kacamata portofolio, eksposur terhadap usaha ultra mikro juga mengandung risiko likuiditas. Banyak lembaga pembiayaan mencatat tenor pendek dengan frekuensi pencairan tinggi, sehingga rentan terhadap guncangan arus kas. Capital outflow dari pasar keuangan domestik pada periode tertentu turut mempersempit ruang pendanaan murah bagi lembaga penyalur kredit mikro.
Proyeksi dan Jalan Tengah
Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor kerajinan kasab diperkirakan berkisar 6 hingga 7 persen per tahun, dengan catatan ada intervensi berkelanjutan pada tiga hal: pelatihan desain yang relevan dengan selera pasar modern, akses pemasaran digital, dan pendampingan manajemen keuangan.
Valuasi bisnis kerajinan ini tidak bisa diukur semata dari nilai nominal transaksi. Ada dimensi warisan budaya yang membuatnya punya nilai strategis lebih tinggi. Karena itu, pendekatan yang seimbang antara ekspansi pembiayaan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi krusial.
Pada akhirnya, denting benang emas di Aceh bukan hanya soal estetika. Ia adalah indikator bagaimana kebijakan ultra mikro bekerja di lapangan—mengangkat usaha kecil tanpa menciptakan ketergantungan baru. Selama fundamental usaha dijaga dan sentimen pasar dibaca dengan cermat, sulam kasab bisa menjadi contoh bagaimana tradisi dan ekonomi modern berjalan seiring.
Comments (0)