Aug 24, 2026
Bisnis

Menteri PU Pastikan Sungai Barito Tetap Layak Dilalui Kapal

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per pertengahan Agustus 2026, curah hujan di sebagian wilayah Kalimantan Selatan mengalami penurunan dibandingkan periode yang sam...

Menteri PU Pastikan Sungai Barito Tetap Layak Dilalui Kapal

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per pertengahan Agustus 2026, curah hujan di sebagian wilayah Kalimantan Selatan mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring menguatnya fenomena iklim yang memicu musim kemarau lebih kering. Meski demikian, penurunan tersebut dinilai belum menyentuh titik kritis bagi alur pelayaran. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bahwa Sungai Barito tidak mengalami kekeringan secara keseluruhan dan masih bisa dilalui kapal.

Pernyataan itu disampaikan di tengah kekhawatiran publik akan meluasnya dampak kemarau terhadap transportasi sungai yang menjadi urat nadi perekonomian regional. Sungai Barito membentang kurang lebih 900 kilometer dari Pegunungan Muller hingga bermuara di Selat Makassar, melintasi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Setiap hari, alur ini dilalui kapal pengangkut batu bara, kelapa sawit, serta kebutuhan pokok masyarakat dalam skala puluhan juta ton per tahun.

Penurunan muka air sungai memang berdampak pada sarat kapal, yaitu kedalaman badan kapal yang tercelup ke dalam air. Semakin dangkal alur, semakin kecil muatan yang boleh diangkut agar kapal tidak kandas. Karena itu, pernyataan resmi dari pemerintah menjadi penanda penting bagi operator kapal untuk menyusun rencana pengiriman mereka.

Kondisi Alur: Tetap Terbuka, Tetap Waspada

Menurut Menteri Dody, sebagian segmen sungai memang mengalami penyusutan volume air, tetapi ruas utama yang menjadi lintasan kapal masih dalam kondisi layak. Kedalaman alur di titik-titik kritis dinilai masih mencukupi bagi kapal bermuatan besar untuk melintas. Kabar ini menjadi angin segar bagi pelaku logistik yang selama beberapa pekan terakhir cemas akan potensi terganggunya distribusi barang.

Kepastian tersebut penting karena Sungai Barito bukan sekadar sarana transportasi, melainkan infrastruktur ekonomi yang menopang aktivitas ekspor daerah. Jika alur sungai macet, biaya logistik berpotensi melonjak lantaran pengalihan ke jalur darat yang lebih panjang dan lebih mahal. Pada akhirnya, kenaikan biaya itu berisiko diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen.

Di Satu Sisi: Penopang Distribusi dan Stabilitas Harga

Dari sisi fundamental, kelancaran Sungai Barito berkontribusi menjaga stabilitas harga komoditas di Kalimantan. Angkutan sungai mampu memindahkan barang dalam volume besar dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan angkutan truk. Dengan alur yang tetap terbuka, pasokan batu bara dari tambang di Kalimantan Tengah menuju pelabuhan muat di Kalimantan Selatan dapat berjalan sesuai jadwal, sehingga volume ekspor diharapkan tidak mengalami penurunan yang berarti.

Para pengamat ekonomi regional menilai pernyataan tersebut sebagai sinyal positif bagi sentimen pasar. Ketidakpastian jalur logistik kerap menjadi pemicu spekulasi harga, terutama untuk kebutuhan pokok. Adanya kepastian bahwa alur tetap dapat dilalui pun membantu meredam tekanan terhadap harga pangan dan energi, sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap kelancaran rantai pasok regional.

Di Sisi Lain: Debit Menyusut dan Sedimentasi Mengintai

Kendati demikian, optimisme itu harus diimbangi kewaspadaan. Meski tidak terjadi kekeringan menyeluruh, penyusutan debit air di sejumlah ruas tetap menjadi catatan serius. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa kemarau ekstrem pernah memaksa kapal mengurangi muatan hingga puluhan persen demi keselamatan pelayaran. Penurunan kedalaman alur secara year-on-year, yaitu perbandingan kondisi dengan periode yang sama tahun lalu, berpotensi menggerus efisiensi angkutan bila tidak diantisipasi sejak dini.

Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah sedimentasi, masalah klasik Sungai Barito. Tumpukan lumpur dan pasir di dasar sungai terus memperpendek kedalaman efektif alur, sehingga kebutuhan pengerukan bertambah dari tahun ke tahun. Tanpa perawatan yang memadai, risiko kapal kandas meningkat justru saat kemarau berkepanjangan, ketika debit air sedang berada di titik terendah.

Proyeksi dan Langkah Pengawasan ke Depan

Ke depan, Kementerian PU dinilai perlu memperkuat pemantauan kedalaman alur secara berkala, terutama pada segmen yang paling rentan. Data hidrologi yang akurat menjadi dasar pengambilan keputusan, mulai dari mengatur jam pelayaran hingga menyesuaikan kapasitas muatan kapal. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan operator pelayaran juga penting agar informasi kondisi sungai tersampaikan cepat kepada pengguna jasa.

Secara keseluruhan, kondisi Sungai Barito saat ini dapat dibaca sebagai kabar baik yang tidak boleh memicu kelengahan. Pemerintah perlu menjaga momentum dengan perawatan alur yang berkelanjutan, sementara pelaku usaha tetap mengelola risiko secara hati-hati. Dengan pengelolaan yang konsisten, peran sungai sebagai jalur logistik strategis dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User