Mentan Batalkan Agenda Jakarta, Terbang ke Alor Dengar Aspirasi Mahasiswa
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan II 2024, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat pertumbuhan sekitar 3,3 persen year-on-year dengan kontribusi kurang lebih 12,4 p...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan II 2024, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat pertumbuhan sekitar 3,3 persen year-on-year dengan kontribusi kurang lebih 12,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Di tengah fundamental sektor yang relatif stabil tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengambil langkah yang menyita perhatian publik: membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta dan memilih terbang langsung ke Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada akhir pekan ini. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan mahasiswa asal Alor.
Langkah Mentan ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian pemerintah terhadap pemerataan pembangunan pertanian di kawasan timur Indonesia. NTT merupakan salah satu provinsi dengan proporsi tenaga kerja pertanian tertinggi di Tanah Air, namun sekaligus mencatat tingkat kemiskinan jauh di atas rata-rata nasional. Kombinasi dua fakta itu menjadikan setiap perhatian kebijakan ke wilayah ini layak dianalisis dari kacamata ekonomi, bukan sekadar politis.
Potret Ekonomi Pertanian NTT: Tenaga Kerja Besar, Produktivitas Terbatas
Data BPS menunjukkan lebih dari 60 persen penduduk bekerja di NTT menggantungkan hidup pada sektor pertanian, jauh melampaui rata-rata nasional yang berkisar 28-29 persen. Namun, produktivitas — nilai output yang dihasilkan per pekerja — di provinsi ini masih tertinggal. Tingkat kemiskinan NTT tercatat di kisaran 19-20 persen, hampir dua kali lipat rata-rata nasional yang sekitar 9 persen.
Kabupaten Alor sendiri dikenal memiliki potensi komoditas jagung, padi ladang, serta perikanan tangkap. Jagung menjadi komoditas strategis karena NTT termasuk salah satu sentra produksi nasional, dengan kontribusi sekitar 1,5-2 juta ton per tahun terhadap produksi nasional yang menembus lebih dari 14 juta ton. Kendala klasik yang dihadapi petani setempat antara lain keterbatasan irigasi, akses benih unggul, serta rantai pasok panjang yang menekan harga di tingkat petani atau farm gate price.
Di Satu Sisi: Respons Cepat sebagai Sinyal Positif
Di satu sisi, keputusan Mentan membatalkan rapat pimpinan demi menemui langsung perwakilan mahasiswa dan masyarakat di Alor dapat dibaca sebagai sinyal responsivitas kebijakan. Dalam perspektif ekonomi politik, kehadiran pengambil keputusan tertinggi di sebuah kementerian ke daerah terpencil memperkecil kesenjangan informasi (information asymmetry) antara pusat dan daerah. Aspirasi yang selama ini tersaring birokrasi berlapis berpotensi diterjemahkan lebih cepat menjadi program konkret.
"Kunjungan langsung pejabat level menteri ke daerah seperti Alor memiliki nilai simbolis sekaligus praktis. Jika ditindaklanjuti dengan alokasi anggaran yang terukur, dampaknya bisa terasa pada percepatan infrastruktur pertanian kawasan timur," demikian catatan analisis yang dihimpun Beritadua.
Dari sisi anggaran, Kementerian Pertanian mengelola pagu belasan hingga puluhan triliun rupiah per tahun. Realokasi sebagian kecil saja dari program nasional ke kabupaten tertinggal berpotensi menggerakkan ekonomi lokal — mulai dari pembangunan embung, jalan tani, hingga bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang dapat meningkatkan produktivitas lahan.
Di Sisi Lain: Kunjungan Tak Otomatis Menyelesaikan Masalah Struktural
Di sisi lain, kalangan pengamat mengingatkan bahwa persoalan pertanian di NTT bersifat struktural dan tidak dapat diselesaikan melalui kunjungan kerja semata. Defisit infrastruktur, keterbatasan listrik, serta biaya logistik yang tinggi akibat karakteristik wilayah kepulauan membuat ongkos produksi dan distribusi di NTT bisa 30-40 persen lebih mahal dibandingkan Jawa. Tanpa perbaikan tata kelola yang berkelanjutan, kunjungan menteri berisiko berhenti sebagai agenda seremonial belaka.
Ada pula catatan dari sisi tata kelola internal: pembatalan rapat pimpinan, meski menunjukkan prioritas pada aspirasi daerah, dapat menunda pengambilan keputusan strategis lain yang sama pentingnya. Efektivitas kebijakan pada akhirnya diukur dari tindak lanjut — apakah aspirasi mahasiswa Alor benar-benar masuk ke dalam rencana kerja dan anggaran kementerian pada tahun anggaran berjalan maupun tahun berikutnya, lengkap dengan indikator kinerja yang dapat diaudit publik.
Implikasi bagi Ketahanan Pangan dan Ekonomi Regional
Secara makro, penguatan sektor pertanian di kawasan timur sejalan dengan agenda ketahanan pangan nasional. Setiap kenaikan produktivitas pertanian NTT sebesar 1 persen berpotensi menambah pasokan pangan regional sekaligus menekan ketergantungan pada distribusi antarpulau yang rawan gejolak harga. Bagi pelaku usaha, meningkatnya perhatian pemerintah ke wilayah ini dapat membuka ruang pada sektor pengolahan hasil pertanian dan perikanan, meski kalkulasi risiko — mulai dari infrastruktur hingga kepastian rantai pasok — tetap perlu diperhitungkan secara matang dalam setiap portofolio ekspansi.
Pada akhirnya, langkah Mentan Andi Amran Sulaiman terbang ke Alor akan dinilai publik bukan dari sisi dramatisnya, melainkan dari keberlanjutannya. Jika aspirasi mahasiswa tersebut bertransformasi menjadi program terukur dengan anggaran yang jelas, kunjungan akhir pekan ini bisa menjadi titik awal perbaikan fundamental pertanian NTT. Sebaliknya, tanpa tindak lanjut konkret, ia hanya akan tercatat sebagai satu lagi kunjungan kerja dalam daftar panjang agenda kementerian.
Comments (0)