Mentan Amran Akui Program Makan Bergizi Gratis Dongkrak Harga Ayam dan Telur

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman secara terbuka mengakui bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memicu kenaikan harga ayam ras pedaging dan telur ayam ras di pasaran. Kena...

Mentan Amran Akui Program Makan Bergizi Gratis Dongkrak Harga Ayam dan Telur

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman secara terbuka mengakui bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memicu kenaikan harga ayam ras pedaging dan telur ayam ras di pasaran. Kenaikan ini terasa signifikan pasca libur sekolah, seiring dengan masifnya penyerapan komoditas pangan hewani oleh dapur-dapur MBG yang tersebar di seluruh Indonesia.

Berdasarkan data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga rata-rata nasional daging ayam ras pada pekan kedua Juli 2026 tercatat Rp39.800 per kilogram, naik 14,7 persen dibandingkan periode yang sama bulan lalu. Sementara itu, telur ayam ras merangkak ke level Rp31.200 per kilogram atau mengalami kenaikan 10,3 persen. Angka ini jauh di atas harga eceran tertinggi yang biasanya bertengger di kisaran Rp34.000 untuk ayam dan Rp28.000 untuk telur pada triwulan II.

Amran menegaskan bahwa kondisi ini merupakan dampak langsung dari mekanisme pengadaan terpusat MBG yang menyerap pasokan ayam dan telur dalam jumlah besar setiap hari. Ia tidak menampik bahwa pemerintah sempat khawatir harga akan melorot terlalu rendah akibat limpahan produksi peternak mandiri, sehingga program MBG sengaja dioptimalkan sebagai instrumen penstabil di tingkat peternak. Namun di sisi lain, lonjakan permintaan dari sektor program membuat rantai distribusi mengecil untuk pasar ritel, sehingga konsumen akhir harus merogoh kocek lebih dalam.

Peran Ganda MBG: Nutrisi vs. Inflasi Pangan

Program MBG sendiri menyasar belasan juta peserta didik dari jenjang PAUD hingga SMA sederajat, dengan jatah makan siang yang wajib mengandung protein hewani. Untuk memenuhi standar gizi, setiap porsi dilengkapi dengan olahan ayam atau telur setidaknya tiga kali seminggu. Jika dihitung secara kasar, dengan asumsi 15 juta siswa dan kebutuhan protein hewani sebesar 100 gram per porsi, maka dalam sepekan MBG menyerap sekitar 4.500 ton daging ayam dan 3.000 ton telur. Ini setara dengan 18–22 persen dari total produksi nasional pekanan, membuat posisi tawar program sangat kuat dalam memengaruhi harga pasar.

Di satu sisi, kebijakan ini menjadi angin segar bagi peternak rakyat yang sebelumnya kerap bergulat dengan harga jual di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Sejak MBG berjalan, harga di tingkat peternak naik ke Rp22.500–Rp24.000 per kilogram untuk ayam hidup, mendekati bahkan melebihi HPP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp21.000. Ini diakui Amran sebagai capaian positif karena melindungi peternak kecil dari kerugian berkepanjangan sekaligus menekan angka kemiskinan di perdesaan. Di sisi lain, konsumen rumah tangga menanggung beban lebih mahal, terutama keluarga kelas menengah ke bawah yang tak terjangkau bantuan pangan lain. Inflasi pangan pun berpotensi menambah tekanan daya beli yang sedang dalam fase pemulihan.

Jaga Harga, Pemerintah Mainkan Dua Instrumen

Merespons situasi ini, Amran memastikan bahwa Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) tidak tinggal diam. Pemerintah menerapkan strategi dua jalur: menjaga harga di tingkat produsen agar tidak jatuh di bawah HPP, sekaligus mengendalikan gejolak di tingkat konsumen melalui operasi pasar dan penyaluran stok cadangan pangan pemerintah. Saat harga ayam ras di pasar tradisional menyentuh Rp42.000 per kilogram di sejumlah kota besar, Bapanas langsung menggelontorkan 200 ton karkas beku lewat Pasar Induk Cipinang dan Pasar Induk Kramat Jati. Langkah ini diharapkan meredam spekulasi pedagang.

Selain itu, Kementerian Perdagangan memperkuat Sinergi Harga Antarwilayah dengan memobilisasi pasokan dari sentra produksi oversuplai di Jawa Timur dan Sumatera Utara ke daerah defisit. Sejak skema ini diaktifkan kembali, disparitas harga antarprovinsi menyusut dari 18 persen menjadi 8 persen. Namun Amran mengingatkan bahwa akar persoalan terletak pada struktur pengadaan MBG yang masih bertumpu pada importir daging dan jagung sebagai bahan baku pakan. Ketergantungan ini membuat fluktuasi harga global langsung tereskalasi ke dalam negeri, sehingga solusi jangka panjang harus menyasar hilirisasi pakan ternak.

Proyeksi dan Antisipasi Pascapanen

Memasuki musim kemarau basah yang diproyeksikan BMKG, produktivitas jagung lokal diperkirakan turun 5–8 persen akibat serangan jamur dan hama. Jika pasokan jagung domestik menipis, harga pakan diprediksi naik 12–15 persen, yang kemudian membebani biaya produksi ayam dan telur. Dalam skenario terburuk, Kementerian Pertanian telah menyiapkan izin impor jagung sebanyak 1,2 juta ton untuk mengamankan suplai pakan hingga akhir tahun. Namun Amran menegaskan bahwa opsi ini hanya pintu darurat dan tidak akan dibuka selama produksi dalam negeri masih mencukupi.

Di sisi regulasi, pemerintah tengah menggodok revisi Peraturan Presiden tentang MBG yang akan mewajibkan kontrak jangka panjang antara koperasi peternak dan penyedia dapur MBG. Skema ini diharapkan mengurangi tekanan harga di pasar spot, sekaligus memberikan kepastian usaha bagi peternak kecil. Amran optimis, dengan perbaikan tata kelola, MBG tak hanya menjadi alat pemenuhan gizi anak Indonesia, tetapi juga motor penggerak stabilitas harga di hulu dan hilir.

Namun para pedagang dan konsumen berharap pemerintah tak hanya fokus pada perlindungan peternak. Mereka meminta agar volume operasi pasar diperbesar, titik distribusi diperbanyak, dan pengawasan harga di tingkat ritel diperketat. Sebab, meski intervensi di tingkat grosir sudah dilakukan, harga di warung-warung kecil dan pasar tradisional tetap melambung lantaran rantai pasok yang panjang. Masyarakat pun menantikan kolaborasi semua pihak agar perut kenyang bisa dinikmati oleh seluruh lapisan, bukan sekadar yang duduk di bangku sekolah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User